Info Gempa Bumi
Penjelasan Lengkap BMKG Terkait Potensi Gempa 2 Megathrust RI sebut hanya untuk Mitigasi
Penjelasan Lengkap BMKG Terkait Potensi Gempa 2 Megathrust RI sebut hanya untuk mitigasi bukan peeringatan dini.
Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Adiana Ahmad
POS-KUPANG.COM - informasi tentang potensi Gempa 2 Megathrust RI mulai menimbulkan keresahan bagi masyarakat.
Menyikapi kondisi tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) memberikan penjelasan lengkap.
Berikut Penjelasan Lengkap Gempa 2 Megathrust RI.
BMKG menyebut, penjelasan terkait Gempa 2 Megathrust RI tersebut bukan bentuk peringatan dini tetapi hanya untuk mitigasi.
Karena itu BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik dengan informasi tersebut.
Baca juga: Larantuka NTT Diguncang Gempa 5,1 Magnitudo Jumat pagi, BMKG Tak Berpotensi Tsunami
"Potensi itu memang ada, namun yang perlu kita perhatikan adalah langkah mitigasi apa yang bisa kita upayakan," pesan BMKG melalui Instagram resmi Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, dikutip Jumat (16/8/2024).
Pembahasan soal potensi gempa di zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sudah ada sejak sebelum gempa dan tsunami Aceh pada 2004.
Menurut BMKG pembahasan Gempa Megatrhrust tersebut bukan berarti akan terjadi dalam waktu dekat.
Pada pengamatan terhadap gempa, dikenal istilah seismic gap yang artinya adalah zona kekosongan gempa besar.
BMKG menegaskan pembahasan potensi gempa megathrust sekarang ini bukanlah peringatan dini yang seakan-akan segera terjadi gempa besar dalam waktu dekat.
Baca juga: Mengerikan, BMKG Sebut 16 Megathrust Kepung Indonesia,Mentawai hingga NTT,Gempa Tinggal Tunggu Waktu
"Kita hanya mengingatkan kembali keberadaan zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai sebuah potensi yang diduga oleh para ahli sebagai zona kekosongan gempa besar (seismic gap) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun," jelas Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono melalui sumber yang sama.
Daryono menyebut seismic gap ini memang harus kita waspadai karena bisa melepaskan energi gempa signifikan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Kenapa Disebut "Tinggal Menunggu Waktu"?
Gempa megathrust di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut disebut "tinggal menunggu waktu" dikarenakan kedua wilayah itu sudah ratusan tahun belum mengalami gempa besar. Namun, hal ini bukan berarti akan segera terjadi gempa dalam waktu dekat.
Daryono mengatakan, kedua gempa tersebut dikatakan "tinggal menunggu waktu" karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah semuanya merilis gempa. Sementara, gempa zona megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut hingga kini belum terjadi.
Daryono menegaskan sampai saat ini belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa tepat dan akurat mampu memprediksi terjadinya gempa dari segi, kapan, di mana, dan berapa kekuatannya.
"Sehingga kita semua juga tidak tahu kapan gempa akan terjadi, sekalipun tahu potensinya," kata dia.
Daryono menekankan informasi potensi gempa megathrust yang tengah berkembang sekarang ini bukanlah prediksi atau peringatan dini.
Baca juga: Mengerikan, BMKG Sebut 16 Megathrust Kepung Indonesia,Mentawai hingga NTT,Gempa Tinggal Tunggu Waktu
"Sekali lagi, informasi potensi gempa megathrust yang berkembang saat ini sama sekali bukanlah prediksi atau peringatan dini, sehingga jangan dimaknai secara keliru, seolah akan terjadi dalam waktu dekat," beber Daryono.
Dia mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan beraktivitas normal sebagaimana biasanya, seperti melaut, berdagang, juga berwisata di pantai.
"BMKG selalu siap memberikan informasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami dengan cepat dan akhirat," ujarnya.
Kapan Terakhir Gempa Selat Sunda dan Mentawai-Siberut?
Gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946, sehingga usia seismic gap-nya adalah 78 tahun.
Sementara, gempa besar terakhir di Selat Sunda terjadi pada 1757, sehingga usia seismic gap-nya 267 tahun. Adapun gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797, sehingga usia seismic gap-nya 227 tahun.
"Artinya kedua seismic gap kita periodisitasnya jauh lebih lama jika dibandingkan dengan seismic gap Nankai, sehingga mestinya kita jauh lebih serius dalam menyiapkan upaya-upaya mitigasinya," tegas Daryo. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.com di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.