Kamis, 9 April 2026

Berita Sabu Raijua

Perhatian Besar Pemerintah Sabu Raijua Lewat Mongehi Semesta 

Di atas lahan yang diolah secara tradisional ini, setiap kali panen, ia bisa menghasilkan 100 kilogram garam dalam waktu sebulan.

Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/ASTI DHEMA
Bupati Sabu Raijua menyerahkan geomembran secara simbolis kepada salah satu petani garam di desa Raerobo, Kecamatan Sabu Liae Kabupaten Sabu Raijua pada Selasa, 13 Agustus 2024 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema

POS-KUPANG.COM, SEBA - Rubanus Dere, (54) petani garam di Desa Raerobo Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua sejak kecil menjadi petani garam dengan cara manual dan tradisional.

Puluhan tahun Rubanus membuat garam menggunakan anyaman daun lontar. Jarak rumah Rubanus ke lokasi tambak garam miliknya di pesisir Pantai Hego sekitar 3 (tiga) kilometer.

Ia membuat garam di atas lahan yang luasnya sekitar 7x7 meter. "Jam tidak tentu tergantung waktu dari rumah,"ungkap Rubanus saat menerima bantuan geomembran di desa Raerobo, Kecamatan Sabu Liae Kabupaten Sabu Raijua pada Selasa, 13 Agustus 2024.

Di atas lahan yang diolah secara tradisional ini, setiap kali panen, ia bisa menghasilkan 100 kilogram garam dalam waktu sebulan.

Hasil dari panenan ini kemudian dijual secara barter ke Seba, salah satu titik keramaian di Kabupaten Sabu Raijua untuk mendapatkan padi.

Jika diuangkan, ia biasanya menjual garam dengan harga Rp10 ribu per kilogram. Selebihnya, garam-garam hasil produksi ini lebih banyak ditukar dengan padi.

Hasil jualan garam ini, Rubanus bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarga, menyekolahkan anak-anaknya bahkan bisa membuat rumah.

Selain membiayai kehidupan 8 anaknya ini, ia juga menabung sehingga saat ini Rubanus bisa membeli geomembran sendiri.

Saat ini, Urbanus bersama 47 petani garam lainnya mendapat perhatian pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dalam program Mongehi (Garam) Semesta. "Senang sekali karena bisa dapat dengan gratis,"ungkap Rubanus.

Titus Patiani, petani garam di Raerobo yang juga hadir saat penyerahan geomembran kepada 48 petani dalam program Garam Semesta di desa Raerobo pada Selasa, 13 Agustus 2024 menyampaikan terima kasih kepada pemerintah kabupaten Sabu Raijua. Ia merasa mendapatkan perhatian besar dari pemerintah.

"Kami sangat berterima kasih karena perhatian besar Bupati sebagai kepala pemerintahan Sabu Raijua kepada kami warga desa Raerobo yang secara geografis paling terbelakang,"ujarnya.

Baca juga: Pemerintah Sabu Raijua Siapkan 15 Ton Beras SPHP di Pasar Murah


Sama seperti Rubanus, selama ini Titus membuat garam di daun lontar. Titus mengakui jika membuat garam menggunakan geomembran merupakan hal baru bagi mereka.

Perhatian besar dari pemerintah ini adalah hal yang ditunggu-tunggu mereka. Dengan bantuan geomembran ini, mereka siap bekerja dan melihat seperti apa nantinya.

Ia berharap, ke depannya pemerintah bisa mengakomodir semua petani garam bukan hanya 48 petani yang mendapatkan bantuan ini. "Kami minta kepada pemerintah agar yang lain bisa terakomodir dan merasakan perhatian besar dari pemerintah,"ujarnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved