Pilgub NTT

5 Besar Top of Mind Pilgub NTT, Survei SRN Ungkap Frans Aba Kandidat Potensial

Melki Laka Lena dan Ansy Lema menempati posisi atas dalam hasil survei Pilgub Provinsi NTT 2024 yang dirilis oleh Svadhyaya Riset Nusantara. 

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Eflin Rote
Pos Kupang/Alf
Frans Aba deklarasi jadi gubernur NTT periode 2024-2029 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Svadyaya Riset Nusantara (SRN) melakukan survei pilgub untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2024. Hasil survei mengungkap peluang Frans Aba sebagai kandidat potensial atau berkemampuan. 

Direktur Svadhyaya Riset Nusantara Gery Gugustomo dalam keterangan tertulisnya, Senin 12 Agustus 2024 menyebut, dua nama kandidat bakal calon gubernur (bacagub) untuk Pilgub NTT 2024.

Melki Laka Lena dan Ansy Lema menempati posisi atas dalam hasil survei Pilgub Provinsi NTT 2024 yang dirilis oleh Svadhyaya Riset Nusantara. 

Elektabilitas kedua kandidat tersebut tidak terpaut jauh dibanding kandidat lainnya. Melki Laka Lena menjadi yang tertinggi dengan angka 27,45 persen, diikuti oleh Ansy Lema dengan angka 25,15 persen.

Hasil survei Svadhyaya Riset Nusantara tersebut juga memperlihatkan persaingan elektabilitas nama kandidat lainnya, yaitu Benny K. Harman (22,25persen), Fransiskus Xaverius Lara Aba (10,15 persen), Simon Petrus Kamlasi (7,71 persen), Julie Laiskodat (5,15 persen), dan Johni Asadoma (0,05 persen).

Sementara itu, persentase swing voters atau belum menentukan pilihan menunjukkan angka yang relatif kecil yaitu 1,90 persen, dan responden yang tidak memilih atau golput sebanyak 0,10 persen.

“Nama-nama popular, seperti Emanuel Melkiades Laka Lena dan Yohanis Fransiskus Lema di Provinsi NTT masih bertengger di daftar atas hasil top of mind para responden. Meski begitu, nama-nama baru juga mampu masuk 5 besar top of mind responden, salah satunya ialah Fransiskus Xaverius Lara Aba,” ujar Gery Gugustomo. 

Hasil survei tidak banyak perbedaan ketika dilakukan simulasi top of mind yang dilakukan terhadap 4 nama kandidat. Melki Laka Lena dan Ansy Lema sama-sama menempati posisi teratas meski berada pada kelompok simulasi yang berbeda. 

Melki Laka Lena mendapatkan elektabilitas sebesar 28,98persen, bersaing dengan Simon Petrus Kamlasi (25,26 persen), Johni Asadoma (16,98 persen), dan Fransiskus Xaverius Lara Aba (12,67 persen). Pada simulasi ini, swing voters berada pada angka 10,05 persen.

Baca juga: Frans Aba dapat Rekomendasi PAN, Ini Tugas Bakal Calon Gubernur Agar Diusung PAN

Kemudian pada simulasi terhadap 4 nama kandidat lainnya, Ansy Lema mendapatkan elektabilitas 27,25persen, bersaing dengan Benny K Harman (25,38 persen), Fransiskus Xaverius Lara Aba (17,25 persen), dan Julie Laiskodat (15,55 persen). Pada simulasi tersebut Swing voters berada pada angka 9,55 persen.

Sedangkan, ketika simulasi dilakukan tanpa nama Melki Laka Lena dan Ansy Lema, nama yang mencuat justru Fransiskus Xaverius Lara Aba ke posisi teratas. Tingkat elektabilitas Fransiskus Xaverius Lara Aba sebesar 36,81 persen. Disusul Emilia Julia Nomleni (28,97 persen), Orias Petrus Moedak (11,27 persen), dan Fransiscus Go (8,60 persen). Pada simulasi tersebut, swing voters mencapai angka 10,52 persen.

Frans Aba Potensial di Antara Kerasnya Gelanggang Kontestasi

Nama Frans Aba dalam keterangan para responden, terpantau sudah melakukan deklarasi kesiapan sepanjang satu tahun terakhir. Frans Aba merupakan putra daerah NTT yang berprofesi sebagai akademisi Nasional dan praktisi Ekonomi, tetapi tidak berparpol. 

Nama Frans Aba juga sudah masuk dalam peredaran nama-nama kandidat bacagub Provinsi NTT, dan dalam berbagai pemberitaan, terlibat di dalam pembahasan beberapa parpol yaitu PKB, PAN, dan HANURA terkait Pilgub NTT. Perkembangan terakhir, terdapat perubahan lanskap politik NTT, partai-partai tersebut membentuk koalisi masing-masing.

“Jika melihat hasil analisis tabulasi silang, Frans Aba sebenarnya berpotensi mendapat growth popularity/electability, tetapi karena relatif belum mendapat dukungan parpol di awal, maka upaya apapun yang dilakukan tidak menjadi pertimbangan pragmatis parpol,” jelas Gery.

Terkait kemantapan responden terhadap pilihannya, sebanyak 56,45 persen responden menyatakan masih mungkin berubah. Sedangkan 40,40 persen responden sudah merasa mantap dengan pilihannya, dan 3,15persen responden enggan menjawab.

Ketika ditanya alasan terkait potensi perubahan pilihan, 35,99 persen responden mengatakan masih melihat visi dan misi dari para calon. Sedangkan 15,55 persen responden mengatakan pilihannya dapat berubah jika ada calon yang mereka nilai lebih bagus.

“Di dalam simulasi terhadap 4 kandidat, swing voters berada di angka 8-10 persen. Angka yang cukup kecil untuk mendapatkan tambahan dukungan baru dari pemilih. Meski demikian, kandidat perlu memperhatikan sebanyak 56,45persen responden masih mungkin untuk mengubah pilihannya, bergantung pada visi-misi cagub yang sosialisasikan kepada masyarakat,” jelas Gery.

Perlu diketahui, sebagian besar responden masih percaya terhadap seluruh penyelenggara pemilu. Mulai dari KPU Provinsi NTT (43,59 persen), Bawaslu Provinsi NTT (45,89 persen), DKPP (46,08 persen), dan Mahkamah Konstitusi (43,50 persen).

Meskipun demikian masih banyak pula responden memiliki tingkat kepercayaan sedang, yang artinya mereka masih ragu-ragu atau memiliki kecenderungan memiliki persepsi buruk kepada setiap instansi tersebut.

Di sisi lain, 35,56 persen responden juga percaya dengan netralitas TNI dan 34,32 persen responden percaya dengan netralitas Polri.

Situasi yang sama juga tampak dari persepsi responden terhadap netralitas TNI/Polri yang menunjukkan cukup banyak responden dengan tingkat kepercayaan sedang.

Bahkan responden yang tidak percaya dengan netralitas TNI/Polri juga cukup banyak. Sebanyak 25,14 persen responden menjawab tidak percaya dengan dengan netralitas TNI, sedangkan 26,67 persen tidak percaya dengan netralitas Polri.

Terdapat kemungkinan besar hal tersebut terhubung dengan persepsi responden terhadap praktik premanisme. Sebanyak 47,80 persen responden menjawab sangat tidak setuju dengan praktik premanisme dalam kehidupan sehari-hari, kemudian sebanyak  responden sangat tidak memaklumi adanya praktik premanisme dalam proses Pilgub NTT 2024.

Adapun survei Svadhyaya Riset Nusantara dilakukan pada tanggal 18 hingga 28 Juli 2024 di 2 daerah pemilihan (Dapil) yang terdiri atas 22 kota/kabupaten secara proporsional bedasarkan data jumlah populasi pemilih terakhir.

Jumlah sampel survei yang dilakukan Svadhyaya sebanyak 1.046 responden. Wawancara dilakukan secara tatap muka oleh tenaga terlatih dengan bantuan/pedoman kuesioner.

Adapun metode survei yang digunakan yaitu pengambilan sampel secara acak bertingkat (stratified multistage random sampling), dengan margin of error (MoE) 3.5persen pada tingkat kepercayaan (level of confidence) sebesar 95persen. (fan)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved