Pilkada 2024
Pilkada 2024, Jokowi Effect Masih Kuat Saat Pengaruh Prabowo Terus Membesar
Pengaruh Presiden Joko Widodo dalam Pilkada 2024 serentak diyakini masih ada kendati pengaruh Prabowo Subianto, presiden terpilih, terus membesar.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menilai efek Jokowi di Pilkada 2024 akan berbeda dengan di Pilpres 2024. Sebab, mendekati masa pensiun, pengaruh Jokowi akan menurun, sebaliknya pengaruh Prabowo semakin besar.
”Apalagi (saat Pilkada serentak 2024) 27 November, Pak Jokowi sudah tidak lagi menjabat presiden, yang akan lebih besar adalah Prabowo efek. Kekuasaan de facto sudah beralih ke Pak Prabowo,” tuturnya kepada Kompas, Sabtu (10/8/2024).
Baca juga: Litbang Kompas: Tinggal PDIP yang Belum Resmi Mencalonkan Sosok Kepala Daerah dalam Pilkada 2024
Dalam survei Charta Politika, pemilih cenderung lebih mengikuti pilihan Prabowo ketimbang pilihan Jokowi. Karena itu, semakin mendekati pilkada, pengaruh Prabowo diperkirakan membesar dan sebaliknya dengan pengaruh Jokowi.
Namun, menurut Yunarto, hal ini tidak bisa dipukul rata. Sebab, di setiap daerah akan ada gradasi yang berbeda-beda. Di beberapa wilayah tertentu seperti Nusa Tenggara Timur, daerah Toba di Sumatera Utara, dan Papua, pengaruh Jokowi masih sangat kuat. ”Untuk daerah-daerah seperti Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, faktor Prabowo jauh lebih besar,” tambahnya.
Dia pun menilai dukungan koalisi KIM Plus saja bisa jadi tak berpengaruh kuat untuk mendapatkan suara. Demikian pula untuk orang-orang dekat Jokowi seperti sekretaris pribadi Nyonya Iriana yang maju di Pilkada Kota Bogor, Jawa Barat, ataupun untuk adik sekretaris pribadi Jokowi yang maju di Pilkada Boyolali, Jawa Tengah.
Namun, untuk menantu dan anak Jokowi yang akan maju dalam pilkada, menurut Yunarto, pengaruh Presiden Jokowi masih akan sangat kuat. Sejauh ini, Kaesang Pangarep, anak bungsu Presiden Jokowi, digadang-gadang sebagai calon wakil gubernur di Pilkada DKI atau Jawa Tengah. Kemudian, Bobby Nasution, menantu Presiden Jokowi, telah diusung sebagai calon gubernur di Pilkada Sumatera Utara.
Namun, kata Yunarto, dukungan ini tak hanya bergantung pada citra besar Jokowi, tetapi juga karena ada dugaan keberpihakan aparat, dugaan keberpihakan dari birokrat, dan dugaan keberpihakan dari alat-alat negara lain.
”Kalau Kaesang turun atau Bobby turun, kalau keluarga tentu akan ada pengerahan kekuatan. Dan itu yang menyebabkan, menurut saya, Jokowi effect tetap besar,” tuturnya.
Salah satu instrumen negara yang mungkin masih berpengaruh, antara lain bantuan sosial. Program ini sudah ditetapkan berlanjut sampai akhir tahun dan sebagian besar masyarakat yang menerima menganggap ini program Jokowi.
”Mungkin harus dijaga bersama, jangan sampai legacy Jokowi di akhir masa kepemimpinannya, lagi-lagi diiringi dengan kontroversi terkait kebijakan yang dimanfaatkan secara politis,” tambah Yunarto.
(kompas.id)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.