Kunjungan Paus Fransiskus

Kunjungan Paus Fransiskus: Indonesia Jadi Contoh Nyata Ajaran Cinta Kasih dan Persaudaraan

Indonesia dinilai menjadi contoh nyata ajaran pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma ini khususnya terkait dengan cinta kasih dan persaudaraan.

Editor: Agustinus Sape
REUTERS
Paus Fransiskus dijadwalkan mengunjungi Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste, dan Singapura pada 2 hingga 13 September 2024. 

POS-KUPANG.COM, TANGERANG SELATAN - Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia yang dijadwalkan pada 3-6 September 2024 telah menyita perhatian publik dari berbagai agama. Indonesia dipilih dalam kunjungan tersebut karena dinilai menjadi contoh nyata ajaran pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma ini khususnya terkait dengan cinta kasih dan persaudaraan.

Hal tersebut disampaikan Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan Trias Kuncahyono dari Vatikan secara daring dalam diskusi publik terkait rencana kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, Sabtu (20/7/2024) di Tangerang Selatan, Banten.

Trias menyampaikan, kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia memiliki banyak makna tidak hanya bagi umat katolik, tetapi juga seluruh warga. Kunjungan ini juga penting bagi Indonesia sebagai negara yang memiliki beragam suku dan agama.

”Dalam setiap pertemuan dengan sejumlah duta besar negara-negara sahabat dan juga acara di Vatikan, mereka selalu bertanya mengapa Paus Fransiskus mengunjungi Indonesia dan bukan negara lain. Indonesia memang dipilih salah satunya karena Indonesia adalah contoh nyata dari pikiran dan ajaran Paus Fransiskus,” ujarnya.

Pada tahun 2019, Paus Fransiskus pernah bertemu dengan Imam Besar Al-Azhar Sheikh Ahmed al-Tayeb di Uni Emirat Arab dan menandatangani Deklarasi Abu Dhabi. Deklarasi yang merupakan dokumen persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia dan hidup berdampingan ini berupaya mendorong hubungan yang lebih kuat antar-umat manusia.

Satu tahun kemudian, Paus Fransiskus menandatangani ensiklik ”Fratelli Tutti”. Diterbitkan di Assisi, kota tempat para pemimpin agama biasa berkumpul untuk mengadakan dialog antaragama, ensiklik ini berbicara tentang persaudaraan dan persahabatan sosial.

Baca juga: Keuskupan Agung Kupang Siapkan 100 Umat untuk Kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta 

Trias menilai, Indonesia telah menjadi contoh nyata terkait persaudaraan antarmanusia yang tertuang dalam Deklarasi Abu Dhabi ataupun ensiklik ”Fratelli Tutti”. Kondisi di Indonesia bertolak belakang dengan beberapa negara lain, seperti di kawasan Timur Tengah yang kerap mengalami konflik kemanusiaan, peperangan, dan perpecahan.

”Indonesia yang memiliki ideologi Pancasila dan Bineka Tunggal Ika diangkat menjadi contoh bagi negara lain bagaimana berbangsa dan bernegara. Indonesia juga menjadi contoh bagaimana menjalin hubungan antarumat beragama. Ini menjadi dasar mengapa Paus Fransiskus mengunjungi Indonesia,” ucapnya.

Selain itu, dalam perspektif diplomatik, kunjungan Paus Fransiskus ini dapat mempererat hubungan Indonesia dengan Takhta Suci Vatikan. Hubungan diplomatik kedua negara ini telah terjalin secara resmi sejak 25 Mei 1950 dan terus berkembang menghasilkan saling pengertian yang terbina dengan baik.

Selama ini, Vatikan juga terus memberikan apresiasi terhadap Indonesia dalam upaya mewujudkan toleranasi antar-umat beragama. Bentuk perhatian Vatikan terhadap perkembangan kemajemukan di Indonesia ditunjukkan melalui kunjungan dua Paus sebelumnya, yakni Paus Paulus VI pada 1970 dan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989.

Proses kunjungan Paus

Presiden Nostra Aetate Foundation Disastery Interreligious Dialogue, Vatikan, Pastor Markus Solo Kewuta mengatakan, umumnya Paus membalas kunjungan ke sebuah negara setelah sebelumnya pemerintah negara tersebut mengunjungi Paus. Namun, Paus juga bisa mendatangi sebuah negara atas permintaan pimpinan gereja lokal.

”Sebenarnya, dalam acara G20 di Roma tahun 2021, Presiden Joko Widodo bisa bertemu dengan Paus Fransiskus, tetapi tidak terjadi. Meski demikian, ada sinyal dari Pemerintah Indonesia ke Vatikan melalui surat undangan dan ini diterima dengan baik. Kemudian permintaan dari gereja lokal juga selalu ada,” ucapnya.

Markus menyebut bahwa Paus Fransiskus memiliki dua prinsip dasar, yakni persahabatan dan saling menghormati. Persahabatan lintas agama memiliki dinamika yang berbeda sehingga membutuhkan pembaruan untuk saling memahami. Kunjungan Paus pun memiliki salah satu misi, yaitu dialog lintas agama untuk kerukunan dan perdamaian.

”Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik Lumen Fidei pada 2013 atau beberapa saat setelah beliau menjadi Paus. Lumen Fidei merupakan cahaya iman dan beliau menekankan iman harus ditunjukkan dalam aksi-aksi nyata dan membawa solusi konkret bagi masyarakat luas serta memperkaya kehidupan bersama,” ujarnya.

(kompas.id)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved