Liputan Khusus
Lipsus - Beban Besar, TN Komodo akan Ditutup
Alasannya ada perubahan perilaku komodo dan kondisi lingkungan karena jumlah pengunjung berlebih.
"Pengaturan agenda atau jadwal itinerary juga dapat dialihkan ke destinasi lain, sambil menunggu jadwal pembukaan (TNK)," ujarnya.
Sejauh ini BPOLF mendukung Pusat Kajian Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan studi daya dukung daya tampung di TNK demi keberlanjutan konservasi. di tengah potensi meningkatnya kunjungan pariwisata karena penerbangan internasional ke Labuan Bajo dan minat wisata alam.
"Analisis daya dukung daya tampung menjadi landasan kebijakan TNK. Kerja sama dengan berbagai institusi dan perguruan tinggi telah dilakukan . BPOLBF juga melakukan dukungan untuk perhitungan daya dukung dan daya tampung TNK," tandas Frans.
Frans mendorong tour agent dan tour operator (TA/TO) untuk menginformasikan jauh-jauh hari soal jadwal penutupan kawasan sehingga diketahui wisatawan.
"Antisipasi terkait jadwal kunjungan agar tidak mendadak. Saat ini penutupan sementara bisa satu hari, seminggu, atau dua minggu tergantung kebijakan dan pertimbangan konservasi oleh pengelola taman nasional," ungkapnya.
Perlu Didiskusikan Bersama
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Provinsi NTT, Abed Frans menyebut rencana penutupan Taman Nasional Komodo secara regular perlu didiskusikan bersama.
"Kita perlu duduk bersama untuk berbicara terkait kapan TNK ini ditutup dan kapan dibukakan kembali serta juga berapa lama waktu penutupan. Karena agen-agen travel perlu tahu," ujarnya Abed Frans saat diwawancarai Pos Kupang, Selasa (16/7).
Menurut Abed, penutupan secara reguler memang bagus untuk alasan konservatif tetapi bukan dalam waktu yang lama.
"Memang bagus, karena itu juga bagian dari sistem untuk melestarikan atau mendapatkan ketenangan. Yang penting akan dibukakan kembali sesuai jadwal yang telah ditentukan. Kalau tutup dalam waktu yang lama tentu akan berpengaruh pada UMKM kita," ujarnya.
Untuk penutupan secara reguler ini, kata Abed, perlu diinformasikan kepada industri travel terkait jadwal yang resmi.
"Memang baik, tapi perlu didiskusikan dengan travel-travel, karena ada travel-travel yang sudah kontrak dengan tamu sampai 2025 khususnya dengan partner yang dari luar," bebernya.
Dia menambahkan, penutupan TNK secara reguler lebih baik untuk didiskusikan bersama pihak terkait agar terhindar dari persoalan yang tidak diinginkan.
"Jangan seperti masalah-masalah sebelumnya terkait kenaikan tarif masuk TNK, itu banyak yang kaget dengan kenaikan harga masuk TNK," tandasnya. (cr20)
Kunjungan Turis Bisa Anjlok
Anggota DPRD Manggarai Barat Inocentius Peni menilai penutupan Taman Nasional Komodo secara reguler berpotensi menurunkan tingkat kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Sisi lain pemerintah pusat hingga pemerintah daerah sedang gencar-gencarnya mempromosikan Labuan Bajo agar makin dikenal sehingga banyak turis yang datang ke destinasi super prioritas itu. Jika TNK ditutup, berpotensi melumpuhkan pariwisata di ujung barat Pulau Flores itu.
"Karena sangat banyak pengusaha kecil sampai besar telah berinvestasi di industri pariwisata yang berpotensi merugi kalau jumlah wisatawan ke labuan bajo menurun drastis akibat ditutupnya TNK," jelas Ino Peni, sapaan akrabnya, Rabu (17/7).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/sunset-di-Pulau-Kalong-kawasan-Taman-Nasional-Komodo.jpg)