Kamis, 7 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 7 Juli 2024, "Yehezkiel: Allah Menguatkan"

Yehezkiel dalam bahasa Ibrani artinya Allah menguatkan. Yehezkiel diutus Allah sebagai nabi bagi  Orang Israel yang berada di pembuangan.

Tayang:
Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/AGUSTINUS SAPE
RD. Florens Maxi Un Bria 

Renungan  Harian Katolik, Minggu 7 Juli 2024
Yehezkiel; Allah menguatkan.
RD. Dr. Maxi Un Bria 
Markus 6 : 1-6b

Yehezkiel dalam bahasa Ibrani artinya Allah menguatkan. Yehezkiel diutus Allah sebagai nabi bagi  Orang Israel yang berada di pembuangan.

Terdapat sebagian orang Israel  yang tidak setia kepada Allah. Mereka memberontak dan berpaling dari Allah. Militansi dan ketabahan menghadapi tantangan serta godaan telah sirna.

Orang Israel tidak sabar dan cenderung mengikuti pikiran sendiri daripada mendengarkan Allah. Kepada mereka inilah, Allah mengutus nabi Yehezkiel untuk menegur dan mengingatkan serta menginsyafkan bahwa hadir seorang Nabi, utusan Allah di tengah meraka.

Apakah mereka akan mendengarkan Nabi Yehezkiel ataupun tidak, Nabi Yehezkiel tetap mewartakan Sabda dan kehendak Allah bagi mereka.

Tugas nabi adalah mewartakan kehendak Allah  baik dengan pernyataan simbolik  maupun dengan pernyataan yang keras berupa kritikan tajam, dengan maksud menyadarkan  orang Israel  akan kesalahan dan penyimpangan selama berada di pembuangan.

Nabi Yehezkiel mengingatkan, menegur, menghibur dan mengkritik bangsa Israel di tanah pembuangan Babilon ( tahun 593-571 SM ). Masa pembuangan bangsa  Israel ke Babilond imulai tahun 586 SM ketika Raja Nebukadnezar II berkuasa.

Namun pada masa Raja Koresh, Ia membuat keputusan agar mengembalikan seluruh orang Israel dari pembuangan di Babilon dan Persia ke bangsanya untuk membangun Bait Allah di Yerusalem.

Rasul Paulus bersyukur karena  mendapatkan kasih karunia Allah untuk menjadi pewarta sabda dan saksi kebangkitan Tuhan. Ia menyadari sungguh  bahwa sebagai manusia tetap memiliki keterbatasan dan kekurangan. Spirit  kerendahan hati telah  menjadi kekautan dan pintu masuk untuk melanjutkan  misi perutusan dan pewartaan.

"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna“ „ Sebab itu aku lebih suka bermegah atas kelemahanku. Sebab jika Aku lemah, maka aku kuat „ ( 2 Kor12;9-10 ).

Kristus menghadirkan  dan menegaskan diri sebagai Nabi, ketika tampil berkotbah di Sinagoga kampung halamannya sendiri, Nazareth.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 7 Juli 2024, "Penolakan itu Tidak MenghentikanNya"

Pengajarannya  menakjubkan sekaligus melahirkan pertanyaan dari khalayak. Darimana diperoleh-Nya hal-hal ini ? Hikmat apakah yang diberikan kepada-Nya ? Bukankah Ia ini tukang kayu , anak Maria ? Deretan pertanyaan ini mengekspresikan sikap tertutup, iri hati  dan penolakan terhadap kasih karunia dan kebaikan yang  Yesus hadirkan.

Yesus sendiri menglami penolakn. Demikian juga Nabi Yehezkiel dan Rasul Paulus. Namun Yesus fokus dan mengarahkan perhatian kepada misi perutusan. Ia tidak menjadi kecewa karena alami penolakan. 

Yesus menegaskan bahwa, seorang nabi dihormati dimana-mana kecuali di kampung halamannya sendiri“.

Tugas nabi, mewartakan, menegur dan mengucapkan kritikan untuk mengingatkan khalayak kembali kepada kehendak Allah.  Konsekuensinya ia difitnah, diberi stigmatisasi sebagai orang yang tidak waras dan ditolak kehadirannya.

Meski demikian seorang nabi tetap tegar dan fokus pada misi perutusannya. Selamat melanjutkan perutusan sebagai Nabi, menjadi pewarta kabar baik, kabar keselamatan. Rahmat Allah mencukupkan semuanya untuk menjadi pewarta kabar baik dan kabar keselamatan bagi banyak orang. Salve. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved