Breaking News

Cerpen

Cerpen: Sebelum Berbaju Pernah Berjubah

Setiap langkah Febri menghiasi kehidupan di Wae Langkok. Ia merangkai kebersamaan dengan ladang-ladang hijau yang menari-nari di bawah langit biru.

|
Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
Ilustrasi 

Oleh :Tian Rahmat,S.Fil
Alumnus IFTK Ledalero Maumere Flores, tinggal di Boncukode, Cibal, Manggarai

POS-KUPANG.COM - Di desa kecil Wae Langkok, di Nusa Tenggara Timur, terhampar keindahan yang menggoda mata. Di antara gemerlap pegunungan hijau dan pelukan laut biru nan mempesona, terdapat kisah seorang pemuda bernama Febri.

Namanya mengalun indah di antara sunyi desa, seolah mengusik keheningan alam yang merindukan cerita.

Pagi-pagi, matahari bersinar membangunkan desa dengan sinarnya yang hangat. Namun, di balik keindahan alam yang memanjakan, terselip kekosongan dalam relung hati Febri.

Di sudut-sudut batinnya yang tersembunyi, ada rindu yang tak terucap, ada harapan yang terpendam.

Setiap langkah Febri menghiasi kehidupan di Wae Langkok. Ia merangkai kebersamaan dengan ladang-ladang hijau yang menari-nari di bawah langit biru.

Tiap sorot matanya mencari makna, menembus jarak waktu yang mengaburkan pandangan. Kehidupan sederhana desa menjadi simfoni diam-diam yang mengantar Febri dalam pencarian yang tiada henti.

Namun, di antara rutinitas monoton yang mengikatnya, ada alunan harapan yang terus menggema. Febri, pemuda dari Wae Langkok, menanti tiba saat ketika kekosongan itu diisi oleh kehadiran yang membawa arti sejati dalam hidupnya.

Suatu pagi, ketika matahari baru saja menyapa dunia dengan sinarnya yang hangat, Febri duduk di pinggir pantai, memandang ombak yang bergulung-gulung.

Ia merenung tentang kehidupannya yang terasa monoton. Tiba-tiba, dari kejauhan, ia melihat seorang lelaki tua berjubah putih berjalan menuju ke arahnya. Wajah lelaki itu terlihat damai dan bijaksana, seolah menyimpan rahasia kehidupan.

“Selamat pagi, anak muda,” sapa lelaki tua itu dengan suara lembut.

“Selamat pagi, Pak,” jawab Febri dengan sopan.

“Apa yang sedang kamu pikirkan, duduk termenung seperti ini?” tanya lelaki itu.

Febri menarik napas panjang sebelum menjawab. “Saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup saya, Pak. Saya merasa tidak puas dengan apa yang saya miliki sekarang.”

Lelaki tua itu tersenyum. “Sebelum berbaju, pernah berjubah,” katanya perlahan. Febri menatapnya dengan bingung. “Maksud Bapak apa?”

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved