Ibadah Haji 2024

Napak Tilas Masjid Qiblatain di Madinah, Saksi Berpindahnya Kiblat Umat Muslim ke Baitullah

Masjid Qiblatain, salah satu situs sejarah yang menjadi tempat ziarah setiap jamaah ketika berada di Kota Madinah.

Editor: Alfons Nedabang
SERAMBINEWS.COM/KHAIRUL UMAMI/MCH 2024
Masjid Qiblatain, salah satu situs sejarah yang menjadi tempat ziarah setiap jamaah ketika berada di Kota Madinah. Masjid yang dikenal dengan dua arah kiblat ini dulunya bernama Masjid Bani Salamah. Terletak di Quba, Masjid Qiblatain menjadi saksi perpindahan arah kiblat kaum Muslim. 

POS-KUPANG.COM, MADINAH – Pesona Kota Madinah, Arab Saudi memang selalu menjadi hal menarik untuk ditelusuri. Selain daya tarik Masjid Nabawi, masjid paling agung kedua dalam sejarah Islam setelah Masjidil Haram di Mekah, ada sejumlah situs bersejarah Islam lainnya yang menarik dikunjungi setiap menginjakkan kaki di Kota Madinah.

Masjid Qiblatain, salah satu situs sejarah yang menjadi tempat ziarah setiap jamaah ketika berada di Kota Madinah. Masjid yang dikenal dengan dua arah kiblat ini dulunya bernama Masjid Bani Salamah. Terletak di Quba, Masjid Qiblatain menjadi saksi perpindahan arah kiblat kaum Muslim.

Wartawan Tribun Network, Khalidin Umar Barat selaku petugas Media Center Haji (MCH) 2024 berkesempatan melakukan napak tilas ke Masjid Qiblatain yang berada tepat di atas sebuah bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah. Tampak juga sejumlah jemaah yang berkunjung menyempatkan diri shalat sunnah di Masjid Qiblatain.

Setiap ada jemaah umrah dan haji, biasanya juga tidak melewatkan kunjungan ke Masjid Qiblataian. ”Kami tahun 1996 naik haji juga berkunjung ke Masjid Qiblataian,” kata Hj Khaliyah.

Menurut sejarah, Masjid Qiblatain mula-mula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Masjid ini terletak sekitar 7 kilometer dari Masjid Nabawi di Madinah.

Baca juga: Isak Tangis Warnai Keberangkatan Jemaah Haji Asal Sikka di Bandara Frans Seda Maumere

Dikutip dari situs Kemenag.go.id, menjelaskan asal usul masjid Qiblatain ini, diawali dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW beserta beberapa sahabat ke Salamah untuk menenangkan Ummu Bishr binti al-Bara yang ditinggal mati keluarganya. Ketika itu bulan Rajab tahun 2 Hijriyah, Rasulullah shalat Zhuhur di Masjid Bani Salamah.

Ia mengimami para jamaah. Dua rakaat pertama shalat Zhuhur masih menghadap Baitul Maqdis (Palestina), sampai akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu datang ketika lelaki dijuluki Al-Amin ini baru saja menyelesaikan rakaat kedua.

Dalam Alquran Allah berfirman, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 144).

Begitu menerima wahyu ini, Rasul langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jamaah melanjutkan salat Zhuhur menghadap Masjidil Haram.

Yang tadinya menghadap Baitul Maqdis Palestina (menghadap ke utara dari Madinah) dengan tetap melanjutkan rakaat ke dua bersama makmum (pengikut salat), sejak saat itu kiblat umat Islam berpindah ke arah Masjidil Haram (menghadap arah selatan dari Madinah). Masjid Bani Salamah ini pun dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat.

Baca juga: Aulia Fadhila Rahma, Remaja Putri 19 Tahun Jadi Jemaah Haji Termuda Asal Sikka 

Ibrahim Ahmad melanjutkan ceritanya, pada awalnya, kiblat salat untuk semua nabi adalah Baitullah di Mekah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS seperti yang tercantum dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 96: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Sedangkan Al Quds (yang kudus: Baitul Maqdis) ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para nabi dari bangsa Israel. Al Quds berada disebelah Utara. Adapun Baitullah di Mekah disebelah Selatan sehingga keduanya saling berhadapan.

Kini bangunan Masjid Qiblatain memiliki dua arah mihrab yang menonjol (arah Makkah dan Palestina) yang umumnya digunakan oleh imam salat.

Setelah direnovasi oleh pemerintah Arab Saudi, dengan hanya memfokuskan satu mihrab yang menghadap Ka’bah di Makkah dan meminimalisir mihrab yang menghadap ke Yerusalem, Palestina.

Ruang mihrab mengadopsi geometri ortogonal kaku dan simetri yang ditekankan dengan menggunakan menara kembar dan kubah kembar. Kubah utama yang menunjukkan arah Kiblat yang benar dan kubah kedua adalah palsu dan dijadikan sebagai pengingat sejarah saja.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved