Berita Flores Timur

Desa Dulipali di Flores Timur Rawan Banjir Lahar Dingin

Densi menerangkan, permohonan normalisasi sudah disampaikan sejak beberapa waktu lalu namun belum terwujud. 

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/PAUL KABELEN
Salah satu rumah warga di Desa Dulipali, Kecamatan Ile Bura, Flores Timur. Bekas material pasca banjir lahar dingin masih berserakan. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kabelen

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Desa Dulipali di Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur mejadi wilayah paling rawan terdampak banjir lahar dingin dari Gunung Lewotobi Laki-laki.

Saat erupsi besar akhir bulan Desember 2023 hingga awal tahun 2024, Desa Dulipali selalu dilanda banjir lahar dingin. Terdapat sejumlah lintasan, salah satunya jalur baru mengarah ke rumah warga di RT 04 dan RT 05.

Menyusuri lintasan sekira 400 meter dari pemukiman, lokasi itu dipenuhi batu besar. Luas kali semakin lebar akibat tergerus banjir dari ketinggian, sementara rumah warga RT 04 dan 05 di dataran rendah.

Keselamatan nyawa hingga fasilitas berupa rumah warga pun jadi ancaman. Pemerintah Desa Dulipali saat ini sedang merampungkan surat permohonan yang dialamatkan ke Pemerintah Daerah Flores Timur.

Baca juga: Besok Dilantik, Tapobali Penjabat Bupati Lembata dan Sulastri Rasyid Penjabat Bupati Flores Timur

Penjabat Kepala Desa Dulipali, Densi Muda, ditemui Selasa, 28 Mei 2024, mengatakan surat itu tentang permohonan normalisasi kali agar aliran banjir dari gunung tak sampai ke pemukiman.

"Waktu itu kita berpikir untuk menyurati bapak Penjabat Bupati (Doris Alexander Rihi), tetapi sekarang sudah ganti ibu Penjabat (Sulastri Rasyid) jadi kami segera kirim suratnya untuk mendapat jawaban," katanya.
 
Densi menerangkan, permohonan normalisasi sudah disampaikan sejak beberapa waktu lalu namun belum terwujud. 

"Sudah sampaikan ke pak Camat dan sempat ada jawaban positif (dari Pemda). Tetapi ditunda karena cuti lebaran lebih cepat," ujarnya.

Setelah ditunda dengan dalih cuti lebaran, pihaknya kembali dijanjikan bahwa pengerjaan pengerukan terjadi setelah liburan Paskah. Namun janji tersebut belum terbukti hingga saat ini.

"Sempat ada jawaban positit bahwa setelah Paskah. Tapi saat itu intensitas hujan masih cukup tinggi sehingga tunda," ungkapnya.

Bahkan, setelah kembali berkomunikasi ke PUPR Flores Timur melalui Camat Ile Bura, pihaknya mendapat jawaban bahwa tak ada biaya operasional untuk mobilisasi alat berat.

"Dijawab waktu itu biaya operasional untuk mobilisasinya tidak ada karena besar sekali," ungkap Densi Muda.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved