Minggu, 26 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Selasa 21 Mei 2024, "Siapa yang Terbesar”

Allah dalam diri kita bahkan Allah akan cemburu karena kita adalah milikNya maka seharusnya kita tetap setia kepadaNya.

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO
Bruder Pio Hayon SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Selasa 21 Mei 2024, "Siapa yang Terbesar” 

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Selasa 21 Mei 2024, "Siapa yang Terbesar”

Oleh : Bruder  Pio Hayon, SVD.

Hari Selasa Pekan Biasa VII

Bacaan I:Yak.4:1-10

Injil: Markus 9:30-37                                               

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus

Salam damai sejahtera untuk kita semua.Menjadi orang terbesar dalam hidup itu bukan tujuan. Namun banyak sekali orang yang berkeiningan menjadi orang besar agar punya jabatan dan dihormati. Itu kecenderungan manusiawi kita.

Menjadi yang terbesar di antara orang-orang yang ada bukan semata hanya untuk mendapatkan kedududkan atau jabatan semata tetapi seharusnya itu lahir dari sebuah kerja keras dan perjuangan yang panjang dalam sebuah tugas yang dilaksanakan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 19 Mei 2024, "Tanda Keselamatan"

Tetapi tetaplah ingat bahwa semua itu hanya sementara saja maka bahkan menjadi orang terbesar dalam satu struktur tertentu pun dia harus mampu melayani dalam dan melalui kedudukan dan jabatannya itu. Jika tidak maka akan jatuh dalam kesombongan semata. 

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus

Hari ini kita sudah memulai dengan masa biasa dalam penanggalan liturgi kita. Kita memasuki masa liturgi pekan ke tujuh hari biasa. Dan lambang liturgi kita sudah kembali pada masa biasa yaitu warna hijau.

Bacaan yang kita renungkan pada hari ini adalah dari kitab Yakobus yang mengangkat tema tentang berdoa. Bagi Yakobus, ada banyak orang salah berdoa bukan karena jenis doanya atau intensinya atau bentuknya. Mereka berdoa dan tak pernah mendapatkan apa yang diinginkan atau yang didoakan.

Dalam surat Yakobus ini mengingatkan kita baha berdoa itu bukan sekedar untuk mendapatkan apa yang kita doakan tetapi lebih dari itu, berdoa itu selalu ada hubungan dengan hati dan perbuatan kita sendiri. Jika kita berdoa tetapi hati kita penuh dengan kebencian dan iri hati maka doa kita tak terkabulkan. Atau jika kita berdoa dan apa yang kita inginkan hanya untuk melampiaskan hawa nafsu kita semata atau untuk memuaskan keinginan daging kita semata.

Santo Yakobus juga mengingatkan kita untuk tidak bersekutu dengan dunia karena jika kita bersekutu atau bersahabat dengan dunia artinya sama dengan kita menjadi musuh Allah  karena dalam diri kita ada Roh Tuhan sendiri yang selalu akan mewakili Allah dalam diri kita bahkan Allah akan cemburu karena kita adalah milikNya maka seharusnya kita tetap setia kepadaNya. Jika tidak maka Dia akan cemburu kepada kita dan akan menolak kita.

Banyak di antara kita juga masih dikuasai oleh hawa nafsu dan keinginan duniawi. Dan kita sangat dipengaruhi oleh hal-hal itu maka kita sering mendengar keluhan bahwa doa-doa kita itu tak terkabulkan. Itu semua karena kita sangat egois. Kita menggunakan doa itu hanya semata-mata untuk memuaskan hawa nafsu kita belaka. Maka dalam Injil kita ditegur oleh Yesus sendiri untuk tidak mempersoalkan siapa yang terbesar dalam hidup ini.

Bagi Yesus, usaha atau keinginan kita untuk menjadi yang terbesar itu bukan semata karena suatu usaha dengan kesadaran penuh tetapi hanya sekedar untuk memenuhi hawa nafsu kita belaka. Bahkan juga kita mendapatkan kehormatan menjadi orang terbesar itu maka kita menggunakan itu bukan untuk melayani tetapi hanya untuk balas dendam atau untuk menguasai dan menindas orang lain. Kita menggunakan kekuasaan atau kedudukan karena telah menjadi orang terbesar itu hanya untuk memenuhi hasrat kita sendiri dan juga kelompok atau keluarga sendiri.

Maka kita selalu mendengar ada kasus korupsi di mana-mana karena orang menggunakan kedudukan atau kekuasaan hanya untuk memenuhi hawa nafsu untuk menjadi kaya semata. Maka dalam permenungan kita hari ini, Yesus mengajar kita, jika mau menjadi yang terbesar haruslah menjadi pelayan bagi orang lain. Mengapa? Karena bagi Yesus, dalam melayani itulah nilai kebesaran kita akan diukur.

Aspek pelayanan itu adalah kerendahan hati. Dalam kerendahan hati itulah kita menjadi berarti bagi orang lain. Di saat kita menjadi berarti bagi banyak orang maka di situlah letak kebesaran kita. Hal ini sudah diajarkan sendiri oleh Yesus.

Walaupun diriNya adalah Putera Allah tetapi rela turun ke dunia untuk menyelamatkan manusia bahkan sampai rela mati di kayu salib. Kerendahan hatiNya inilah yang membuatNya terbesar dalam dunia ini dan di surga kelak. Marilah kita belajar untuk selalu menjadi rendah hati untuk melayani siapa saja. Dalam kerendahan hati itulah kita akan dimuliakan oleh Tuhan.

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus

Pesan untuk kita :

Pertama, semua kita adalah murid Tuhan yang telah menjadikan kita saksiNya.

Kedua, maka yang kita cari bukanlah menjadi orang yang terbesar tetapi menjadi pelayaan bagi orang banyak.

Ketiga, karena dalam melayani kita menjadi rendah hati. Kerendahan hati itulah membuat diri kita berarti bagi banyak orang. Di situlah kita akan dimuliakan oleh Tuhan dan bukan diri kita sendiri.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved