Rabu, 3 Juni 2026

Pilgub NTT

Andre Garu Terpanggil dengan Kondisi NTT

Hari ini setelah selesai pileg ya menikmati kekalahan sementara. Kira-kira begitu. Sambil menunggu planning berikutnya. 

Tayang:
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/MICHAELLA UZURASI
Bakal Calon Gubernur NTT, Andre Garu bersama host jurnalis Pos Kupang Ryan Nong, Senin, 06/05/2024. 

Saya pikir kalau saya daftar semua nanti tidak ada teman. Biar saja teman lain berdaftar ke sana, kan harus kompetisi. Nggak apa-apa, diberi ruang kepada putera puteri terbaik NTT untuk sama-sama berpikir tentang NTT kedepan. 

Anda sudah menyatakan keseriusan untuk maju dalam pilgub NTT. Persiapan yang sudah dilakukan sejauh ini seperti apa? 

Kalau dari sisi kesiapan, saya mantan senator dengan kurang lebih suara 150.000 di tahun 2014 dan tim kerja hampir semua kabupaten di NTT. Itu salah satu modal politik. Yang kedua, hampir dua kali saya maju sebagai calon DPR RI di wilayah dapil 1. Dari dua proses ini saya masih di atas lah di dalam internal partai. Saya yakin ini menjadi kekuatan. Begitu juga nanti kita berkoalisi dengan beberapa partai lain, saya yakin sekali dengan komitmen kebersamaan kita, dengan cara pandang yang sama untuk membangun NTT lima tahun yang akan datang, ya saya pikir pasti bisa berhasil. Persiapan itu kan bukan hanya kerja sendiri. Dengan semua yang punya kesamaan pemikiran dan pandangan untuk bangun NTT lebih baik sehingga mottonya "Mari Bangun Bersama". Harus bangun bersama tidak bisa bangun sendiri-sendiri. 

Seperti apa pendekatan dengan figur lain? 

Selama ini ada beberapa figur yang sudah melakukan pendekatan tapi ada satu yang memang sudah ada chemistry, hanya menunggu waktu yang tepat. Yang jelas kolaborasi Timor-Flores itu pasti berjalan. 


Apakah orang partai? 

Beliau tokoh lah. Nanti kita akan tahu juga, yang jelas kolaborasi antara Timor dan Flores. 

Ada isu-isu untuk menjadikan NTT sebagai provinsi kepulauan. 

Memang realita kita di daerah kepulauan. Kita kembali ke belakang, bahwa terbentuknya Undang-Undang 68 tahun 68 ya tentang Provinsi Sunda Kecil yang terdiri dari Bali, NTB dan NTT. Kita harus sadari bahwa NTT ini miniatur Indonesia karena pulaunya begitu banyak dengan tingkat kesulitan yang luar biasa. Makanya tidak heran kalau kita bilang NTT itu provinsi termiskin. Bayangkan kalau dari pulau datang beli gula ke pulau yang agak besar. Dia harus bayar motor laut Rp.150.000 dan beli gula misalnya dua tiga kilo. Bayangkan berapa harganya. Itu baru satu, gula saja. Belum kalau beli besi, beli semen dan seterusnya. Makanya kenapa saya ingin sekali NTT menjadi provinsi kepulauan? Supaya ada tunjangan-tunjangan kemahalan. Nah ini yang harus kita pikirkan. Bayangkan dari Flores ke sini, dengan hari ini realitas misalnya Labuan Bajo sampai Kupang pesawatnya hampir Rp2 juta. Ini kan mahal sekali. Belum lagi dari Alor ke sini, Flores Timur ke sini, Sumba, Rote dan seterusnya, dengan tujuan ibu kota kita ada di Kupang. Spirit inilah yang harus kita kerja kolaborasi, semua stakeholder 21 kabupaten dan 1 kota. Sementara tugas pemerintah provinsi dia sebagai wakil pemerintah pusat yang ada di daerah. Ini harus dipahami bicara konteks otonomi daerah. Kita ini hanya sebagai koordinator sehingga harapan saya kedepan kalau memang terpilih, ini yang harus kita pikirkan bersama. Lebih baik kita terima dulu sebagai provinsi kepulauan walaupun suatu saat misalnya ada ingin pemekaran, Flores dengan Floresnya, Sumba dengan Sumba, Timor, tidak apa-apa ini dalam rangka kemajuan seiring pertumbuhan penduduk. Tidak soal. Tetapi satu hal bahwa butuh kerjasama sehingga seperti apa yang tadi saya katakan, bicara kemiskinan, masa kita senang terus dibilang miskin? Ya caranya apa untuk keluar? Harus kita minta 22 kabupaten kota dengan asosiasi bupati, asosiasi Gubernur, asosiasi DPR daerah, kita sama-sama menghadap presiden minta dibuatkan Keppres dalam rangka mempercepat. Apa tujuannya? Bukan hanya membangun infrastruktur tapi sumber daya manusia juga. Harus ada afirmasi juga. Masa misalnya sekolah-sekolah negara, misalnya di Akabri 30 orang satu tahun, supaya ada penguatan dan regenerasi. Begitu juga sekolah-sekolah negara lain seperti STAN, pertanahan, perhubungan dan seterusnya, kita harus diberi ruang. Karena apa? Karena kalau kualitasnya sumber daya manusianya bagus, nanti suatu saat NTT ini kayak piramida terbalik. Yang hari ini adalah piramida dengan banyak persoalan, suatu saat piramidanya terbalik, kepuasan itu pasti ada. Inilah yang harus dipikirkan bersama. (uzu)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved