Berita Timor Tengah Selatan

Begini Penegasan Penjabat Sekda Kabupaten TTS kepada Semua Kepala SD dan SMP Saat Hardiknas

Ditegaskan, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalankan tugas memimpin gerakan Merdeka Belajar. 

Penulis: Adrianus Dini | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/ADRIANUS DINI
Rayakan Hardiknas, Penjabat Sekda Kabupaten TTS bertindak sebagai inspektur upacara di SMP Satap Boentuka, Kamis 2 Mei 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Adrianus Dini

POS-KUPANG.COM, SOE - Penjabat Sekda Kabupaten Timor Tengah Selatan, Yohanis Lakapu menghadiri upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di SMP Satap Boentuka, Kamis 2 Mei 2024. 

Pada kesempatan ini, Johanis Lakapu bertindak sebagai inspektur upacara. Dirinya mengingatkan semua Kepala sekolah bahwasanya batas akhir verifikasi dan persetujuan RKAS BOSP Tahun 2024 terjadi pada 8 Mei 2024 mendatang.

"Semua Kepala sekolah pada tingkat TK/PAUD, SD dan SMP perlu mengingat bahwa batas akhir verifikasi dan persetujuan RKAS BOSP Tahun 2024 terjadi pada 8 Mei 2024. Untuk itu diminta Kepsek, Bendahara dan operator agar hadir secara langsung di Dinas dengan membawa Laptop masing-masing," ucapnya.

Selanjutnya, dalam amanat Penjabat Sekda TTS membaca sambutan menteri pendidikan RI. 

Dikatakan, lima tahun terakhir adalah waktu yang sangat mengesankan dalam perjalanan Kemendikbud Ristek. 

"Menjadi pemimpin dari gerakan Merdeka Belajar semakin menyadarkan kami tentang tantangan dan kesempatan yang kita miliki untuk memajukan pendidikan Indonesia," tandasnya.

Disampaikan, bukan hal yang mudah untuk mentransformasi sebuah sistem yang sangat besar. 

Baca juga: Kodim 1621 TTS Lepas Satu Prajurit Pindah Satuan, Simak Pesan Penting Dandim

"Bukan tugas yang sederhana untuk mengubah perspektif tentang proses pembelajaran. Pada awal perjalanan, kita sadar bahwa membuat perubahan butuh perjuangan. Rasa tidak nyaman menyertai setiap langkah menuju perbaikan dan kemajuan," sebutnya.

"Kemudian, ketika langkah kita mulai serempak, kita dihadapkan dengan tantangan yang tak pernah terbayangkan yakni pandemi. Dampak yang ditimbulkan mengubah proses belajar mengajar dan cara hidup kita secara drastis. Pada saat yang sama, pandemi memberi kesempatan untuk mengakselerasi perubahan. Dengan bergotong royong, kita berjuang untuk pulih dan bangkit kembali menjadi jauh lebih kuat," ungkapnya.

Ombak kencang dan karang tinggi tersebut dikatakan sudah dilewati bersama. 

"Kini kita sudah mulai merasakan perubahan terjadi di sekitar kita, digerakkan bersama-sama dengan langkah yang serempak dan serentak. Wajah baru pendidikan dan kebudayaan Indonesia sedang kita bangun bersama dengan gerakan Merdeka Belajar," ucapnya.

"Kita sudah mendengar lagi anak-anak Indonesia berani bermimpi karena mereka merasa merdeka saat belajar di kelas. Kita sudah melihat lagi guru-guru yang berani mencoba hal-hal baru karena mereka mendapatkan kepercayaan untuk mengenal dan menilai murid-muridnya. Kita sudah menyaksikan lagi para mahasiswa yang siap berkarya dan berkontribusi karena ruang untuk belajar tidak lagi terbatas di dalam kampus. Dan kita sudah merayakan lagi semarak karya-karya yang kreatif karena seniman dan pelaku budaya terus didukung untuk berekspresi," bebernya.

Ditegaskan, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalankan tugas memimpin gerakan Merdeka Belajar. 

"Namun, lima tahun juga bukan waktu yang lama untuk membuat perubahan yang menyeluruh. Kita sudah berjalan menuju arah yang benar, tetapi tugas kita belum selesai. Semua yang telah kita jalankan harus diteruskan sebagai gerakan yang berkelanjutan. Semua yang sudah kita upayakan harus dilanjutkan sebagai perjalanan ke arah perwujudan sekolah yang kita cita-citakan," katanya.

Baca juga: Jelang Hardiknas, SMA Efata SoE Gandeng Lukas Banu Gelar Turnamen Bola Voli bagi Pelajar di TTS

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved