Minggu, 17 Mei 2026

Tokoh NTT

Profil Pendeta Andreas Yewangoe, Teolog dan Pemikir Kristen Indonesia Modern

Sejak 2017, sosok pendeta, dosen dan teolog Kristen Protestan kelahiran NTT itu dipercayakan Presiden Jokowi menjadi Anggota Dewan Pengarah BPIP

Tayang:
Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/HO
Pdt. Andreas Yewangoe 

Pada 1971, ia dipanggil untuk menjadi dosen untuk mata kuliah Teologi Sistematika di Akademi Theologia Kupang (kini telah menjadi Universitas Kristen Artha Wacana) karena pendeta yang seharusnya mengajar di akademi itu mengundurkan diri.

Setahun kemudian, pada 1972, ia mendapat kepercayaan untuk menjadi rektor di sekolah itu untuk masa jabatan empat tahun, meskipun saat itu usianya baru 27 tahun.

Studi lanjut

Setelah menyelesaikan satu periode masa jabatannya sebagai rektor, Yewangoe dikirim ke Belanda untuk memperdalam studi teologinya di Universitas Vrije.

Pada 1979 ia berhasil meraih gelar doktorandus teologi dan kembali lagi Kupang. Sementara itu, Akademi Theologia Kupang telah dikembangkan menjadi Sekolah Tinggi Teologi, dan Yewangoe pun kembali memperoleh kepercayaan untuk menjabat sebagai rektornya untuk periode 1980-1984.

Setelah periode jabatannya sebagai rektor selesai, ia kembali ke Belanda untuk melanjutkan studinya di universitas yang sama.

Pada 1987 ia berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Theologia Crucis in Asia: Asian Christian Views on Suffering in the Face of Overwhelming Poverty and Multifaceted Religiosity in Asia Disertasinya ini kemudian diterbitkan oleh penerbit BPK Gunung Mulia dalam bahasa Indonesia.

Kembali menjadi rektor

Sekembalinya dari Belanda, Sekolah Tinggi Teologi (STT) Kupang sudah berubah menjadi Universitas Kristen Artha Wacana. Yewangoe kembali mendapatkan kepercayaan sebagai rektor untuk dua periode (1990-1998). Setelah masa jabatannya habis, ia tetap mengajar sebagai salah seorang dosen di Fakultas Teologi.

Menjadi Ketua Umum PGI
Pada 2001, Yewangoe pindah ke Jakarta dan menjadi dosen Teologi Sistematika di STT Jakarta, sambil menjalankan tugasnya sebagai salah seorang ketua PGI untuk periode 2000-2004. Pada Sidang Raya XIV PGI pada 2004 di Caringin, Bogor, Yewangoe terpilih sebagai Ketua Umum organisasi gereja-gereja Protestan Indonesia itu untuk periode 2004-2009.

Sebelumnya, ia sudah dipilih sebagai Ketua PGI untuk periode 1994-1999, dan menjadi anggota Majelis Pekerja Harian (MPH) pada periode 1989-1994.Yewangoe juga dikenal sebagai seorang penulis yang cukup produktif. Tulisan-tulisannya banyak muncul di suratkabar Suara Pembaruan.

Kehidupan Pribadi

Andreas Anangguru Yewangoe menikah dengan Petronella Lejloh, dan mempunyai dua orang anak yang sudah dewasa yakni Yudhistira Gresko Umbu Turu Bunosoru (lahir 1972) dan Anna Theodore Yewangoe (lahir 1980).

Karya

Yewangoe produktif menghasilkan karya tulis. Beberapa buku dihasilkan Yewangoe seperti Agama dan Kerukunan (2002), Lea (2002), Iman, Agama dan Masyarakat dalam Negara Pancasila (2002), Pengantar Sejarah Dogma Kristen (2001) dan "Theologia Crucis" di Asia: Pandangan Kristen Asia tentang Penderitaan (1987) serta Pendamaian (1983).

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved