Breaking News
Sabtu, 11 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Selasa 23 April 2024, "Saya Beriman Katolik"

Lukas melaporkan dalam Kisah Para Rasul bahwa jemaat Gereja Purba tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia

Editor: Eflin Rote
dok-pribadi
Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh RP. John Lewar SVD 

Oleh: Pastor John Lewar SVD

Hari Biasa Pekan IV Paskah
Georgius, Adalbertus
Lectio:
Kisah Rasul 11:19-26
Mazmur 87:1-3,4-5,6-7
Yohanes 10:22-30

Meditatio:
Ketika berada di Batugede, batas Negara Timor Leste dan Indonesia, salah seorang petugas imigrasi Timor Leste memandang saya dan bertanya: “Apakah anda sungguh-sungguh orang Indonesia?” Saya menjawab, “Ya, saya warga
negara Indonesia.” Ia bertanya lagi: “Apakah anda seorang Padre (Pastor), ya benar saya mengatakan kepadanya. Dia sempat membaca label di tasku bertuliskan alamat rumahku dan pekerjaanku. Dia mengangguk dan memberikan pasportku.

Ya, banyak orang di Timor Leste tahu membedakan identitas imam dan masyarakat biasa. Mereka tahu, bahwa Indonesia adalah negara yang pluralis dan sangat toleran.

Banyak di antara kita juga yang suka memperhatikan tanda-tanda lahiria berupa aksesoris keagaamaan. Kalau melihat patung orang kudus, Rosario dan salib dengan Corpus pasti seratus persen orang katolik. Ada kepuasaan tersendiri
melihat benda-benda rohani itu. Kalau melihat salib tanpa Corpus berarti orang Kristen Protestan. Kalau melihat tasbih dan tulisan arab berarti saudara Muslim.

Kalau melihat patung Budha berarti orang Budha. Memang sangat lucu karena hidup keagaaman hanya dilihat lahirianya saja. Tanda-tanda lahiria atau aksesoris itu tidak seratus persen menggambarkan agama dan kepercayaan
seseorang. Misalnya, kalau seorang memiliki tulisan Arab, belum tentu ia beragama Islam, karena tulisan itu adalah doa Bapa kami dalam bahasa Arab.

Ketika orang hanya berhenti pada tanda-tanda lahiria saja maka ia belumlah orang yang beriman. Dia mungkin hanya beragama tetapi belum beriman.

Pada hari ini kita mendengar kisah perkembangan Gereja perdana. Gereja perdana berkembang karena ada penganiayaan, penderitaan dan kemalangan.

Lukas melaporkan dalam Kisah Para Rasul bahwa jemaat Gereja Purba tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia. Mereka tetap berani untuk memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. Hal yang baik adalah mereka
berani untuk memberitakan Injil tetapi sayangnya hanya untuk orang Yahudi.

Mereka masih berpikir bahwa orang kristiani hanyalah orang Yahudi saja sedangkan orang dari bangsa yang lain tidak diakui. Gereja purba akhirnya mengubah mentalitasnya untuk terbuka dengan bangsa lain yang belum mengenal hukum Taurat dan tidak bersunat. Mereka dari golongan ini juga percaya bahwa Yesus Kristus sungguh bangkit dari alam maut dan bahwa Dia adalah Tuhan.

Tuhan memihak mereka dengan tanganNya yang perkasa dan banyak orang berbalik kepada Tuhan. Berita bahwa ada orang bukan Yahudi, dari bangsa lain yang tidak bersunat juga percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan InjilNya juga didengar di Yerusalem.

Barnabas diutus ke Antiokhia untuk menyelidiki kebenaran berita ini. Ketika Barnabas tiba di Antiokhia, ia sangat bergembira karena kasih karunia Allah ada di dalam komunitas itu. Mereka setia kepada Tuhan. Barnabas kemudian
mencari Saulus dan membawanya ke Antiokhia.

Komunitas Antiokhia menamakan dirinya untuk pertama kali sebagai orang Kristen bersama Saulus
yang tinggal satu tahun di tempat itu.

Kisah ini membantu kita untuk merasa bahwa menjadi orang Kristen itu sebuah perjuangan, butuh pengorbanan diri bahkan menyerahkan nyawa sebagai martir. Kita tidak hanya berbangga sebagai orang katolik, orang Kristen tetapi lebih dari itu, kita siap untuk menjadi serupa dengan Kristus.

Artinya kita siap untuk memikul salib dan mengikutiNya hari demi hari. Kristus harus menjadi besar dan kita menjadi kecil.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved