Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 21 April 2024, Jadilah Gembala Berbau Domba
Sosok gembala selalu yang terbaik karena ia mengenal domba-dombanya. Mengenal itu berarti mengasihi dengan hati yang tidak terbagi.
Oleh : RP. John Lewar SVD *)
POS-KUPANG.COM- Tersaji Renungan Harian Katolik yang ditulis RP. John Lewar SVD Hari Minggu Paskah IV berjudul, Jadilah Gembala Berbau Domba.
Renungan Hari Minggu Panggilan, Lectio: Kisah Rasul 4:8-12, Mazmur 118:1,8-9,21-23,26,28cd,29, 1Yohanes 3:1-2, Yohanes 10:11-18
Berikut ini teks lengkap Renungan Harian Katolik yang ditulis oleh RP. John Lewar SVD hari ini.
Meditatio:
Di dalam bacaan Injil hari ini Yesus mengatakan diriNya sebagai Gembala Yang Baik. “Akulah Gembala Yang Baik. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku
dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” Seorang gembala yang baik atau dalam bahasanya Paus Fransiskus, gembala berbau domba, mengenal domba-dombanya dari dekat.
Para domba yang mendengar suara gembalanya dan mengikuti sang gembala. Sosok gembala selalu yang terbaik karena ia mengenal domba-dombanya. Mengenal itu berarti mengasihi dengan hati yang tidak terbagi.
Gembala adalah seorang pribadi yang begitu polos dan sederhana penampilannya, setia pada tugas rutinnya, tak kenal lelah, tabah, penuh dedikasi. Semenjak matahari terbit, si pria sederhana mulai mengarahkan domba-domba gembalaannya pergi mencari dan menemukan padang yang berumput hijau.
Di bawah terik matahari siang yang membakar kulit, si gembala bersahaja itu segera bergegas pergi bersama kawanan dombanya untuk mencari dan mendapatkan mata air kesejukan guna melepaskan rasa dahaganya yang berkepanjangan. Dan ketika matahari hendak terbenam, kawanan domba itu
mulai dihantar pulang ke kandang peristirahatan yang aman. Inilah tugas dan pengabdian utama seorang gembala.
Tuhan Yesus menyatakan diriNya sebagai Gembala Yang Baik. Dia mengenal dan memanggil kita domba gembalaanNya sesuai dengan nama kita masing-masing. Di sini Yesus mau menunjukkan betapa besar kasih dan cintaNya yang tercermin dalam hubungan pribadiNya dengan setiap manusia yang percaya
kepadaNya.
Ia rela mengorbankan hidupNya, mempertaruhkan nyawaNya demi keselamatan domba-dombaNya. Ia secara sakramental menyerahkan tubuh dan darahNya sebagai santapan kehidupan abadi. Namun yang menjadi problem utama di sini yakni bahwa seringkali manusia masih memiliki ketertutupan hati.
Kita kurang peka dan tanggap terhadap ungkapan cinta yang keluar dari nurani Yesus yang tulus dan ikhlas.
Tuhan Yesus berkata: “Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku”. Di satu sisi Yesus menyatakan
bahwa kita adalah domba-domba dan Dia sebagai Gembala kita. Kita datang kepadaNya karena kita mendengar Dia memanggil kita. Kita telah menjawab
panggilanNya dengan menjadi pengikutNya.
Kita telah mencintai Dia dan kita telah bersedia untuk mengikutiNya secara sungguh-sungguh. Di sisi lain, Yesus mengajak kita menjadi seperti Dia, menjadi seorang Gembala yang baik yang mengenal kawanan domba dan mencintai mereka. Apa pesan Tuhan bagi kita pada hari Minggu panggilan? Pertama, dengan segala status yang kita miliki saat ini, kita dipanggil menjadi seorang Gembala.
Sebagai orangtua, mempunyai tanggung jawab menggembalakan keluarga kita. Sebagai guru, mempunyai tanggungjawab menggembalakan anak-anak didik kita. Sebagai imam, biarawan/biarawati, kita mempunyai tanggung jawab untuk menggembalakan umat kita. Kita dipanggil untuk menjadi pemimpin orang-orang yang dipercayakan kepada kita.
Sebagai umat, kita dituntut untuk setia dan taat pada para pemimpin yang telah dipercayakan untuk memimpin kita. Domba yang baik, senantiasa berjalan dalam tuntunan, petunjuk, arahan sang gembala. Kedua, Gembala yang baik berani bersuara tentang kebenaran. Rasul Petrus dan Yohanes bukan hanya percaya akan Kristus yang bangkit, tetapi berani berbicara tentang kebenaran kebangkitan itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Lewar-SVD_005.jpg)