Jumat, 15 Mei 2026

Berita Alor

Kurun Waktu Dua Minggu, Kematian Ternak Babi di Alor Meningkat Hingga 306 Ekor

Penyebaranan yang sangat cepat ini menurut Kanis, seiring dengan maraknya penjualan daging babi dengan harga murah.

Tayang:
Penulis: Rosalia Andrela | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Petugas Dinas Peternakan Kabupaten Alor melakukan sosialisasi gejala ASF dan pencegahannya kepada peternak babi serta warga Kabupaten Alor. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Rosalia Andrela

POS-KUPANG.COM, KALABAHI - Dalam kurun waktu dua minggu, terjadi peningkatan kematian ternak babi di Kabupaten Alor.

Pada 18 Maret 2024 lalu diberitakan ternak babi yang mati sebanyak 73 ekor, namun saat ini total kematian ternak babi mencapai 306 ekor di Kabupaten Alor.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan), Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), Pengolahan dan Pemasaran Dinas Peternakan Kabupaten Alor, Kanisius Radja, STP yang dikonfirmasi POS-KUPANG.COM, membenarkan bertambahnya jumlah kematian ternak babi.

“Berdasarkan laporan kematian babi oleh petugas kami di lapangan, terjadi peningkatan data kematian. Data sementara hingga saat ini berjumlah 306 ekor,” ujar Kanis, Rabu 3 April 2024.

Kanis menuturkan 306 ekor babi yang mati tersebut tersebar di empat kecamatan, yang ada di Kabupaten Alor. Rincian kematian babi tersebut yakni sebanyak 126 ekor di Kecamatan Teluk Mutiara, 121 ekor di Kecamatan Alor Timur Laut, sedangkan di Kecamatan Alor Tengah Utara sebanyak 58 ekor dan Kecamatan Alor Barat Daya sebanyak 1 ekor.

Baca juga: Petani Desa Pailelang Alor Mulai Tanam Padi di Sawah


Penyebaranan yang sangat cepat ini menurut Kanis, seiring dengan maraknya penjualan daging babi dengan harga murah.

“Penyebaran ini terjadi begitu cepat karena maraknya penjualan daging babi dengan harga, lebih murah dibanding biasanya. Bahkan ada daging babi yang dibagikan secara cuma-cuma,” ucap Kanis.

Terkait kematian babi ini, pihaknya menduga babi tersebut virus babi Afrika atau African Swine Fever (ASF). Untuk itu sampel darah babi telah dikirim ke laboratorium di Bali untuk diperiksa. Hingga kini Dinas Peternakan Kabupaten Alor, masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium tersebut.

Selain itu Dinas Peternakan Kabupaten Alor mengambil langkah pencegahan dengan melakukan sosialisasi hingga ke Kecamatan, penyemprotan disinfektan di kandang babi, dan pemberian vitamin pada babi. Hal ini dilakukan karena hingga saat ini belum ada, dan belum ditemukan vaksin serta obat-obatan untuk kasus ASF.

Kanis menjelaskan bahwa virus ini dapat bertahan dalam pengaruh lingkungan dan stabil pada PH 4 -13, dapat bertahan hidup dalam darah di suhu 4 derajat celcius selama 18 bulan, virus dapat bertahan pada daging dingin selama 15 minggu, dan dalam daging beku selama beberapa tahun serta di kandang babi selama 1 bulan. Masa inkubasi virus 3 -15 hari.

Gejala klinis babi yang terserang ASF yakni demam hingga 42 derajat celcius, nafsu makan menurun, malas bergerak, pendarahan pada kulit, ada bintik merah di belakang telinga, daerah perut, dan pendarahan organ dalam, keguguran pada babi bunting, muntah dan diare, warna kulit kebiruan. 


Adapun himbauan yang dikeluarkan Pemda Alor yakni : 

1. Setiap orang atau peternak dilarang memasukan ternak babi, daging babi serta semua produk olahan daging babi ke wilayah Kabupaten Alor. 

2. Melakukan Pengawasan Lalulintas Ternak Babi dan Produknya serta fasilitas / peralatan dan bahan yang terkontaminasi (fomite) dari peternakan di masing-masing wilayah.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved