Paskah 2024

Tradisi Trewa di Paskah 2024, Mengenang Yesus Kristus Ditangkap Sebelum Dihukum Mati

Setiap tahun kami turun buat bunyi-bunyi seperti ini. Kadang kaki dan jari tangan luka karena kena seng

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/PAUL KABELEN
Traridi Trewa jelang prosesi Semana Santa Larantuka, Flores Timur, Rabu, 27 Maret 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kabelen

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Lintasan prosesi Semana Santa Larantuka, Kabupaten Flores Timur mendadak ramai dengan ratusan pemuda membawa serta seng karat. Mereka seperti membuat onar di malam Rabu Trewa, Rabu, 27 Maret 2024.

Gaduh dengan bunyian seng yang diseret ke aspal hingga aksi pukul tiang listrik dengan batu itu merupakan tradisi Trewa, mengenang kisah awal Yesus Kristus ditangkap sebelum dihukum mati.

Segerombolan pemuda yang tiba-tiba turun ke jalan seperti reka adegan saat Yesus dikepung para prajurit untuk diadili.

Peristiwa awal mula sengsara sang penebus dosa juga disaksikan ratusan peziarah yang tumpah di sepanjang trotoar depan Taman Doa Mater Dolorosa.

Baca juga: Monitoring Pos PAM Paskah 2024, Kapolres Rote Ndao Sampaikan Nilai Toleransi dan Persaudaraan

Tradisi Trewa yang artinya bunyi-bunyian itu berlangsung sekitar satu jam. Seng besar hingga kecil bergesekan dengan aspal tampak mengeluarkan api. Gerombolan anak muda itu memakai sepatu dan sendal, namun banyak dari mereka mengalami luka sayatan.

Salah satu dari mereka, Wiliam, mengatakan seng dan kayu untuk membuat bunyi-bunyian itu dibawa langsung dari rumah. Meski terluka, namun mereka tetap berlarian kesana-kemari, membanting seng dan memukulnya dengan kayu.

"Setiap tahun kami turun buat bunyi-bunyi seperti ini. Kadang kaki dan jari tangan luka karena kena seng," ujarnya.

Ratusan peziarah terperangah menyaksikan suasana di awal tri hari suci itu. Mereka berdiri di atas trotoar lalu mengabadikan aksi seret seng. Meski kagum, banyak peziarah takut terkena benda tajam memilih tempat aman di belakang "Turo" atau pagar.

Peziarah asal Kupang, Juventinho de Araujo, tak beranjak dari posisinya demi menyaksikan tradisi dalam perayaan Semana Santa. Sebab, ujarnya, selama ini hanya menyaksikan tradisi itu lewat tayangan youtube.

Menurut Juventinho, tradisi Trewa membawa dia dalam permenungan batin tentang kisah Yesus ditangkap para prajurit untuk dihukum mati.

"Ini kali pertama. Ternyata yang kita saksikan langsung seperti ini, bisa rasaka bahwa dulu Tuhan Yesus ditangkap," ujarnya.

Raja Larantuka, Don Andreas Martinus DVG, mengatakan tradisi Trewa menggambarkan kegembiraan para pembenci Yesus Kristus yang tak menganggapnya sebagai anak Allah.

"Itu (tradisi Trewa) ungkapan rasa bangga karena yang mengaku raja sudah tertangkap. Jadi rasa senang karena yang mengaku Yesus putra Allah telah ditangkap," katanya di Istana Raja Larantuka.

Don DVG menerangkan, tradisi Trewa sebagai gambaran utuh tentang kisah Yesus dikhianati muridnya, Yudas Iskariot yang tega menukar nyawa gurunya dengan keping dinar, sampai penghakiman dan dihukum mati di kayu salib.

Dinasti atau keturunan raja ke-22  menyebut, Trewa dalam Semana Santa juga dimaknai sebagai pemersatu umat katolik.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved