Berita Kabupaten Kupang
Jackson Baok Hadirkan Piru Amarasi, Simbol Membangun Kepercayaan Diri
Filosofi Destar Amarasi sebagai makna kepemimpinan, mahkota, dan pengakuan sebagai pemimpin
Penulis: Yohanes Alryanto Tapehen | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Tapehen
POS-KUPANG.COM, OELAMASI - Penggunaan destar atau ikat kepala di Amarasi kini mulai bergeser dari sebelumnya menggunakan destar dari kain batik menjadi destar atau sering disebut piru oleh orang Amarasi dari kain tenun.
Piru Amarasi ini pertama kali digagas pada tahun 2019 lalu oleh mantan Camat Amarasi Selatan kala itu Jeckson Baok saat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 74 Tingkat Kecamatan Amarasi Selatan di Kelurahan Buraen.
Masyarakat menyambut dengan senang hati peluncuran Piru’ Amarasi ini yang desbut dengan acara "Tasaeba Piru". Bahkan filosofi tentang piru Amarasi ini juga telah ia tuangkan dalam buku "Amarasi Berkarya Dan Bermimpi".
Dalam bincang-bincang, Senin 18 Maret 2024 Jackson mengatakan sejak jaman kepemerintahan raja H. A. Koroh mulai melokalkan penggunaan destar yang diadopsi dari budaya jawa ke budaya Amarasi yang menjadikan destar sebagai suatu bagian tak terpisahkan dari busana adat orang Amarasi.
Baca juga: Disnak Kabupaten Kupang Klaim ASF di Kabupaten Kupang Mulai Terkendali
Sejak dahulu ada beberapa jenis model ikatan piru sebagai penanda starata atau tingkatan sesuai nama marga dan strata sosial dalam masyarakat Amarasi.
Bentuk dan model dimaksud berupa piru’ sun mese’ yang berupa tanduk satu baik di depan atau belakang kepala, Piru’ sun nua’ berupa dua tanduk yang ada di sisi kiri dan kanan kepala. Juga ada yang menbuat simpul fuut nee di depan atau di belakang dan pola atau bentuk lainnya
Destar atay piru ini sering digunakan saat acar-acara resmi atau formal dengan menggunakan pakaian adat lengkap.
Sementara Piru amarasi yang di buat oleh Jeckson Baok yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kupamg ini semuanya dari kain tenun motif Amarasi.
Piru ini dibuat dari selembar kain tenun yang kemudian digunting sesuai pola ikatan dan dijahit oleh UMKM yang kini bahkan sering dipamerkan di setiap acara peringatan HUT RI.
Jeckson mengatakan bahwa sejak dulu orang Amarasi menggunakan Destar yang terbuat dari kain batik, dan terobosan yang dibuat atas kesepakatan bersama antara pemerintah desa, Tokoh Adat dan pemerintah kecamatan dalam suatu Forum sebelumnya.
Hal ini merupakan akar dari orang Amarasi, sebab selama ini simbolnya kurang jelas, di mana pakaian adat Amarasi masih dibarengi dengan destar batik.
Menurut dia menggunakan desta dari kain batik membuat warna benderanya orang Amarasi masih kabur.
Untuk memperjelas jati diri orang Amarasi maka tidak boleh ada kombinasi produk antara kain tenunan asli dan kain tenunan dari luar Amarasi.
"Jika kita pakai Destar asli yang terbuat dari tenunan Amarasi, maka ciri khas kemandirian kita sebagai orang Amarasi pasti selalu dinilai oleh orang lain. Filosofi Destar Amarasi sebagai makna kepemimpinan, mahkota, dan pengakuan sebagai pemimpin," jelas Jeckson.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Piru-Amarasi-atau-topi.jpg)