IKN Terkini

Ridwal Kamil Coba Bandingkan 4 Kota Mati di Dunia dengan IKN di Kalimantan Timur

Politisi Partai Golkar, Ridwan Kamil mencoba membeberkan nasib empat ibu kota negara di dunia, yang dibangun dengan sangat indah tetapi jadi kota mati

Penulis: Frans Krowin | Editor: Frans Krowin
KOLASE/POS-KUPANG.COM
KOTA MATI – Mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil coba membandingkan empat kota mati di dunia padahal itu merupakan ibu kota baru negara tersebut. Hal yang sama dikhawatirkan akan terjadi di IKN Nusantara di Kalimantan Timur. 

POS-KUPANG.COM – Politisi Partai Golkar, Ridwan Kamil mencoba membeberkan nasib empat ibu kota negara di dunia, yang dibangun dengan sangat indah tetapi nasibnya malah menjadi kota mati di negara tersebut.

Pasalnya, keberadaan ibu kota baru negara-negara tersebut, sama sekali tidak didukung dengan kehidupan masyarakat yang demikian menyatu dengan kota tersebut.

Sama halnya dengan Nasib Ibu Kota Nusantara atau IKN yang saat ini sedang gencar-gencarnya dibangun oleh Pemerintahan Presiden Jokowi dengan menggunakan anggaran mencapai ratusan triliun rupiah.

Bahwa nasib Ibu Kota Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur itu, kata Ridwan Kamil, bukan mustahil bakal sama dengan ibu kota baru yang telah dibangun oleh pemerintah di beberapa negara di dunia.

Mantan Gubernur Jawa Barat ini bahkan pernah menyampaikan itu langsung kepada Presiden Jokowi. Karena menurutnya, membangun ibu kota baru bukanlah hal yang mudah.

Ridwan Kami mengatakan hal tersebut dalam Rakornas Otorita IKN di Kempinski Hotel, Jakarta Pusat sebagaimana dikutip Pos-Kupang.Com di tribunnews, Sabtu 16 Maret 2024.

"Saya sudah sampaikan ke bapak Presiden, 'Pak, membangun ibu kota negara itu tidak mudah. Banyak yang gagal'," ujar Emil demikian Ridwan Kamil biasa disapa.

 
Saat itu, Emil lantas membeberkan beberapa contoh ibu kota baru yang dibangun pemerintah di negara lain dan itu dianggap gagal oleh berbagai negara di dunia. Misalnya seperti ibu kota baru Myanmar, yakni Naypyidaw.DIkatakannya, kota baru itu sangat sepi, karena tidak didesain sebagai kota. Kota baru itu hanya dibangun sebagai pusat pemerintahan.

"Mindahin kantor doang. Maka tidak ada namanya kota formal-informal, kaya miskin bercampur. Sifat kota itu harus bercampur, semua golongan harus hadir. Ini enggak boleh dicontoh," tuturnya.

Contoh selanjutnya kata Emil, adalah ibu kota Malaysia, yakni Putera Jaya. Desain kota Putera Jaya, lanjur dia, memang bagus. Hanya saja, kondisinya sangat sepi setelah maghrib.

Demikian juga di Canberra, Australia. Kota ini bernasib sama.

"Kenapa? Karena rumahnya masih di Kuala Lumpur. Paginya ngantor di Putera Jaya. Sore pulang lagi. Malamnya kembali sepi. Namanya kota siang ramai, malam juga ramai. Karena semua jenis kegiatan ada di sana," jelas Emil.

"Australia juga sama. Ramainya di Sidney, ramainya di Melbourne, ibu kotanya sepi, kurang manusia. Kotanya keren, indah tipikal Australia. Tapi sepi," sambungnya.

Emil lalu menyebutkan juga ibu kota Brasil, yakni Brasilia juga gagal karena terlalu luas dan manusianya kurang. Masyarakatnya sangat kurang.

Di Brasilia, orang-orang berjalan terlalu jauh sehingga kepanasan lantaran jaraknya yang berjauhan.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved