Breaking News
Minggu, 26 April 2026

Berita Manggarai Barat

BPOLBF dan BTNK Koordinasi Cegah Overtoursim di Taman Nasional Komodo

Dalam rapat tersebut kedua pihak merumuskan langkah-langkah efektif dalam upaya pelestarian dan pengelolaan Taman Nasional Komodo

Penulis: Engelbertus Aprianus | Editor: Eflin Rote
KLOOK.COM
Gili Lawa di Taman Nasional Komodo. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Berto Kalu

POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mengadakan rapat koordinasi bersama Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), Jumat 23 Februari 2024.

Dalam rapat tersebut kedua pihak merumuskan langkah-langkah efektif dalam upaya pelestarian dan pengelolaan Taman Nasional Komodo sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) yang juga dimanfaatkan untuk aktivitas wisata.

Plt Direktur BPOLBF, Frans Teguh dalam rapat tersebut menyampaikan bahwa posisi strategis TN Komodo sebagai area konservasi perlu menjadi perhatian khusus terutama terkait kaidah-kaidah ekologis.

Menurutnya, keseimbangan ekologis di habitat asli Komodo itu harus terus dijaga.

"Ini menjadi perhatian serius karena kita tidak ingin TNK itu terjebak dengan apa yang disebut dengan overtourism. Jadi, mari kita coba lebih awal dengan kebijakan yang proaktif sesuai dengan diagnosis yang ada," ujarnya.

Sementara itu, Kepala BTNK Hendrikus Rani Siga mengungkapkan, BTNK sedang merancang aplikasi bernama Si Ora, yang ke depan dapat menjadi instrumen dalam mengontrol daya dukung dan daya tampung di Kawasan TN Komodo.

"Aplikasi ini nantinya bisa digunakan sebagai sistem untuk mengontrol daya dukung yang bisa diterapkan secara konsisten," ungkap Hendrikus.

Rakor ini melibatkan tiga orang narasumber yakni Prof. Dr Chafid Fandeli, Prof. Dr. Djanianton Damanik, dan Dr. Ir. Muhamad.

Ketiga narasumber tersebut memberi beberapa masukan dan perspektif untuk diperhatikan, seperti daya dukung dan daya tampung berdasarkan lokus, zonasi, dan aspek-aspek lain yang turut berpengaruh.

Prof. Chafid Fandeli menyampaikan bahwa perhitungan daya dukung dan daya tampung di TNK perlu dilihat dari kapasitas masing-masing zona, tidak hanya pada zona inti.

"Carryng capacity Taman Nasional Komodo perlu dihitung dari setiap zonasi dan kebutuhannya untuk kedatangan wisatawan seperti pada core zone, buffer zone, ekstensideus zone, intensideus zone, traditional zone," ujar guru besar kehutanan UGM itu.

Narasumber lain, Prof. Janianton Damanik, guru besar Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan FISIPOL UGM menyampaikan, dalam mengukur Carrying Capacity perlu melihat dari sisi supply dan demand serta aspek lain seperti Physical Carrying Capacity, Environmental Carrying Capacity, Social, and cultural Carrying Capacity dalam waktu yang berbeda-beda.

Lebih lanjut, dalam waktu dekat, BPOLBF akan berkoordinasi dengan BTNK untuk menyempurnakan hasil kajian yang telah dilakukan sebelumnya. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved