Opini

Merayakan Keheningan di Tengah Pesta Demokrasi

Istilah "pesta demokrasi" pertama kali digunakan untuk pemilihan umum tahun 1982, menurut catatan John Pemberton (1986).

Editor: Dion DB Putra
TRIBUNNEWS/GILANG
Ilustrasi. 

Oleh : Hironimus Taolin
Tenaga Kependidikan di STIPAS Keuskupan Agung Kupang

POS-KUPANG.COM - "Pesta demokrasi" adalah istilah yang paling sering digunakan saat pergantian kepemimpinan politik di Indonesia.

Istilah ini biasanya dianggap normal dan wajar. Namun, istilah yang populer ini sebenarnya memiliki implikasi politik yang berasal dari konteks sejarah yang membawa pengaruh besar pada kehidupan sosial dan politik.

Istilah "pesta demokrasi" pertama kali digunakan untuk pemilihan umum tahun 1982, menurut catatan John Pemberton (1986).

Lebih tepatnya, istilah tersebut diucapkan oleh Soeharto pada bulan Februari 1981 di sebuah rapat nasional persiapan pemilu yang dihadiri oleh gubernur, bupati, dan wali kota seluruh Indonesia.

Soeharto menyatakan, "Kita harus menganggap pemilihan umum sebagai sebuah pesta besar demokrasi" dalam pidatonya.

Pernyataan ini menggambarkan perspektif yang dipegang oleh rezim Orde Baru pada saat itu.yang mencoba menampilkan pemilihan umum sebagai momen yang semarak meriah dan membanggakan, dan memang inilah yang tetap berlangsung hingga kini.

Kesemarakan pesta demokrasi menjelang Pemilihan Umum (Pemilu), yaitu Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres), menciptakan suasana yang dinamis dan penuh antusiasme di masyarakat.

Fenomena umum yang menunjukkan kesemarakan pesta demokrasi menjelang pemilu nampak lewat kampanye-kampanye politik dalam berbagai ragam bentuk, mulai dari pemasangan baliho, spanduk, dan poster kandidat di berbagai tempat umum.

Sosialisasi program dan visi misi kandidat melalui pertemuan-pertemuan kampanye, baik di ruang terbuka maupun di dalam gedung. Penggunaan media massa, termasuk televisi, radio, dan media sosial lainnya, untuk menyampaikan pesan politik dan kampanye.

Selain itu, ada juga penyelenggaraan debat publik antara kandidat-kandidat dari berbagai partai politik yang bertujuan memberikan informasi dan menjelaskan program-program, kebijakan, dan visi misi mereka.

Penyelenggaran debat publik ini menjadi salah satu momen penting yang memberikan kepada para pemilih, gambaran yang komprehensif dan akurat tentang calon-calon yang bersaing.

Ada juga program-program sosialisasi di daerah-daerah yang dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang proses pemilu, hak pilih, dan pentingnya partisipasi dalam pesta demokrasi.

Kegiatan-kegiatan konser, pertunjukan seni, dan acara hiburan lainnya juga diselenggarakan. sebagai bentuk meriahnya dukungan dan semangat masyarakat terhadap perayaan pesta demokrasi.

Ada juga penyebaran atribut-atribut elektoral, seperti stiker, kaos, dan topi berlogo partai atau kandidat yang membuat perayaan pesta demokrasi bukan saja meriah tetapi semakin berwarna.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved