Berita Ngada
Atraksi Wisata Wela Maka Permainan Tradisional di Kampung Beiposo Ngada
permainan modern demi kesenangan. Tapi leluhur kita sebenarnya telah mewarisi permainan tradisional yang sarat makna
Penulis: Laus Markus Goti | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti
POS-KUPANG.COM, BAJAWA - Wela Maka atau lempar gasing merupakan permainan tradisional Orang Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diadakan setiap tahun pada bulan Januari atau Februari menjelang Pesta Adat Reba atau Pesta Syukur Panen.
Permainan warisan leluhur ini biasanya dilombakan di tengah kampung pada arena yang sudah dipagar menggunakan bambu dengan luas berkisar 10 x 20 meter persegi.
Di Kampung Beiposo Kecamatan Bajawa misalnya, Wela Maka rutin diadakan setiap tahun. Berbeda dengan tahun - tahun sebelumnya, tahun ini Wela Maka di Kampung Bei Poso dikemas dalam bentuk festival yang disebut dengan Festival Wela Maka.
Tujuannya, agar permainan tradisional ini semakin dikenal luas oleh masyarakat terutama wisatawan domestik maupun mancanegara.
Baca juga: Jurnalis Ngada Tempuh 382 Kilometer Demi Korban Erupsi Gunung Lewotobi
Festival Wela Maka di Kampung Beiposo dibuka oleh Bupati Ngada, Andreas Paru. Wakil Bupati, Raymundus Bena dan Ketua DPRD Ngada, Berny Dhey turut hadir dalam festival tersebut dan sejumlah tokoh lainnya.
Maka atau gasing itu sendiri terbuat dari kayu. Kayu yang dipilih pun tidak sembarangan. Harus keras dan tidak mudah pecah.
Kayu dikikis menggunakan parang atau sejenisnya hingga menyerupai piramida terbalik. Bagian runcingnya berfungsi sebagai poros berputarnya maka.
Sepintas permainan Wela Maka memang terlihat mudah namun sebenarnya permainan ini membutuhkan ketangkasan, terutama saat melempar maka. Maka dililit menggunakan tali, yang salah satu ujungnya telah diikat pada jari tengah. Tujuannya, pemain bisa menggenggam maka dengan lebih erat.
Setelah itu pemain mangambil ancang - ancang melempar maka. Momen ini sangat penting karena menentukan daya lempar. Maka dilempar ke tanah dalam arena pertandingan, tidak boleh di luar arena perlombaan.
Perlombaan Wela Maka bisa melibatkan beberapa kelompok dengan jumlah pemain setiap kelompok beranggotakan 6 hingga 10 orang. Terdapat tahapan permainan Wela Maka antara Raju, Esa, Leke dan Riwe. Pada prinsipnya, Wela Maka mengadu putaran dan kekuatan gasing.
Peserta lomba umumnya adalah undangan dari kampung - kampung tetangga. Baik pemain maupun penonton yang hadir diwajibkan mengenakan kain adat.
Bupati Andreas Paru kepada awak media menjelaskan, Wela Maka merupakan warisan leluhur yang mesti dijaga dan dilanjutkan oleh generasi muda Ngada. "Tidak ada alasan untuk tidak melanjutkan atau menghidupkan tradisi ini," ujar Bupati Andreas.
Baca juga: Desa Wawowae Ngada Raih Penghargaan Sebagai Desa BRILiaN 2023
Bupati Andreas menceritakan, dirinya sewaktu kecil juga suka bermain Wela Maka. Menurutnya, dengan geliat pariwisata di Ngada yang terus menunjukan trend positif maka Wela Maka tepat dikemas dalam festival. Hal itu bisa menjadi sajian baru pengalaman berwisata bagi para wisatawan.
Dia juga mengapresiasi antusiasme peserta lomba dan komunitas masyarakat Kampung Beiposo yang telah menyelenggarakan Festival Wela Maka tersebut. Dia mendorong festival tersebut kelak menjadi agenda rutin yang dikemas lebih beragam dan meriah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Festival-Wela-Maka-di-Kampung-Bei-Poso-Kabupaten-Ngada.jpg)