Selasa, 12 Mei 2026

Berita Malaka

Krisis Air Bersih Mendera, Warga Desa Taaba Minta Bantuan Mobil Tangki Air

Warga setempat berinisiasi mendorong pemerintah Desa Taaba untuk mengajukan permohonan bantuan mobil tangki air ukuran 5.000 liter ke pemerintah pusat

Tayang:
Penulis: Novianus L.Berek | Editor: Edi Hayong
POS-KUPANG.COM/NOFRY LAKA
Masyarakat Desa Taaba terlihat sedang menumpang mobil truk pengangkut batu untuk menuju ke sumber mata air di Desa Haitimuk, Sabtu 13 Januari 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Nofry Laka

POS-KUPANG.COM, BETUN- Krisis air bersih yang terus terjadi setiap tahun di Desa Taaba, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, Provinsi NTT mendorong warga untuk mencari alternatif.

Warga setempat berinisiasi mendorong pemerintah Desa Taaba untuk mengajukan permohonan bantuan mobil tangki air ukuran 5.000 liter ke pemerintah pusat.

Pasalnya, sejak kemerdekaan Indonesia yang ke-78 wilayah desa tersebut masih mengalami krisis air bersih

"Kami di Desa Taaba sejak kemerdekaan Indonesia ke-78 belum dikatakan merdeka karena masih mengalami krisis air bersih," kata Wilhelmina Luruk kepada POS-KUPANG.COM, Sabtu 13 Januari 2024. 

Menurut dia, daerahnya setiap tahun mengalami krisis air bersih karena tidak ada sumber mata air untuk digali. 

"Satu-satunya solusi adalah pesan mobil tangki air. Walaupun dibayar dengan harga mahal yakni per tangki air Rp 100 ribu," jelasnya. 

Dikatakan, air yang diambil dari mobil tangki inipun tidak bertahan lama karena digunakan untuk kebutuhan manusia dan minum ternak.

"Setiap bulan bisa beli 1 sampai 4 mobil tangki air karena kebutuhan selain untuk manusia juga untuk beri minum ternak sapi/babi," sebutnya. 

Gaspar Fahik, warga lainnya mengatakan, memang kebutuhan paling prioritas kami saat ini adalah air bersih

"Kami benar-benar butuh air bersih untuk bisa bertahan hidup," singkatnya. 

Baca juga: Kepala Desa Taaba Malaka Atasi Krisis Air Bersih dengan Pola Bagi Air Gratis 

Baca juga: Begini Aksi Kepala Desa Taaba di Malaka Bantu Tukang Kerja Jalan Desa 

Sehingga, tidak ada istilah bagi masyarakat untuk tidak membeli air bersih karena memang solusi satu-satunya harus pesan mobil tangki air.

"Sekalipun tidak ada uang utangpun jadi intinya pakai beli air bersih, atau alternatif lainnya masyarakat pergi mengambil air di sumber mata di desa Haitimuk yang jarak tempuhnya 5 kilometer, " ungkapnya. 

Andreas Bere, Fidelis Teti, Rosalinda Bano, dan Brigitta Bano berpendapat yang sama terkait krisis air bersih di wilayah desa tersebut. 

Kepala Desa Taaba, Ida Hoar Nahak mengakuinya, bahwa krisis air bersih di Desa Taaba terjadi setiap tahun di puncak musim kemarau yang biasanya bulan September sampai November. 

Untuk mengatasi krisis air bersih tersebut, Kades Ida yang baru menjabat 11 bulan itu, terkadang mengambil solusi alternatif yakni mendistribusikan air bersih kepada masyarakat secara bertahap.

Pada tahun 2023, Kades Ida Nahak mendistribusikan air bersih sebanyak 130.000 liter yang dibagi dalam lima tahap sejak September sampai Desember 2023.

"Pada saat itu kita distribusi 5 tahap dalam 4 bulan yakni bertepatan dengan musim kemarau dari September - Desember," katanya. 

Ida mengatakan, saat ini sudah musim penghujan sehingga pendistribusian air bersih sudah tidak dilaksanakan.

Tapi bila ada kedukaan, pemerintah desa  tetap membantu distribusi air bersih, khususnya bagi masyarakat secara ekonomi keluarga kurang mampu. 

"Distribusi air bersih tetap dilaksanakan bagi masyarakat yang secara ekonomi keluarga mampu dan mengalami kedukaan," tuturnya. 

Ida Nahak yang juga koordinator Kepala Desa se-Kecamatan Weliman itu mengungkapkan, krisis air bersih terjadi karena di Taaba tidak ada sumber mata air.

Baca juga: Atasi Krisis Air Bersih, Pemerintah Desa Taaba di Malaka Distribusi 25.000 Liter untuk Masyarakat

Ada upaya dari pemerintahan sebelumnya dengan membangun sumur bor namun sampai saat ini tidak berfungsi.

Oleh karena itu, solusi alternatif yang lebih praktis adalah membeli air tangki.

Dan masyarakat di Desa Taaba sudah biasa membeli air tangki dengan harga kisaran Rp 100.000-150.000.

Rata-rata tiap rumah memiliki fiber ukuran 1.200 dan 2.200 liter untuk menampung air. (nbs)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved