Berita Manggarai
Begini Ajakan Uskup Siprianus Hormat Saat Pembukaan Sidang Pastoral Post Natal 2024
Demikian pula setiap makhluk memiliki kemampuan untuk berkembang dan menjadi baru, pesan uskup Ruteng
Penulis: Robert Ropo | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo
POS-KUPANG.COM, RUTENG - Keuskupan Ruteng menggelar sidang Pastoral Post Natal 2024 yang berlangsung dari tanggal 8 sampai 12 Januari 2024 di rumah Retret Putri Karmel, Wae Lengkas, Ruteng.
Dalam tahun 2024, Keuskupan Ruteng akan memfokuskan reksa pastoral pada Ekologi Integral.
Ada pun Input Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat, Pr dalam pembukaan Sidang tersebut sesuai salinan yang diterima POS-KUPANG.COM, Kamis 11 Januari 2024 berisi,
Bumi ini adalah “rumah kita bersama”, “seperti seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita”, “dan seperti seorang ibu rupawan yang menyambut kita dengan tangan terbuka” (LS,1).
Baca juga: Ibu Rumah Tangga di Manggarai Timur Ikut Sortir Surat Suara Pemilu 2024
Pertama-tama, dari lubuk hati yang paling dalam, dengan penuh sukacita saya mengucapkan selamat pesta Natal 2023 dan Bahagia Tahun Baru 2024 kepada kita semua.
Semoga rahmat perayaan kelahiran Yesus sungguh membawa “damai di bumi” (Luk 2:14), damai dalam dinamika kehidupan paroki, komunitas dan lembaga kita, damai dalam suka duka perjuangan hidup keluarga-keluarga kita di Keuskupan Ruteng tercinta ini.
Sebagaimana gagasan yang kami tuangkan dalam surat gembala natal 2023, selebrasi iman natal pada akhir tahun memiliki simbol yang indah dan sangat bernas. Ternyata “hari-hari kita sepanjang tahun tidak mengalir rutin tanpa tujuan, tetapi bermuara pada perjumpaan dengan yang Ilahi.
Seluruh perjuangan hidup kita di bumi yang fana ini, juga yang pahit dan getir, tidaklah pernah sia-sia, tetapi disucikan dan dimeterai oleh cinta Allah yang abadi.”
Sang Sabda telah menjadi daging, dan tinggal di tengah-tengah kita (Yoh 1:14)! Misteri agung ini boleh kita rasakan dan syukuri dalam derap langkah gerakan pastoral Ekonomi Berkelanjutan 2023 yang barusan lewat. Allah ternyata selalu peduli dengan umat-Nya dalam peluh keringatnya untuk mencari sesuap nasi.
Kehadiran-Nya sungguh kita alami dalam aneka program-program untuk mensejahterakan kehidupan umat. Kinerja pastoral ekonomi paroki, komunitas, biara dan lembaga tercapai memuaskan dan terlihat mantap dalam bidang pertanian organik, perkebunan, peternakan, permodalan umat, serta pemasaran produk lokal dalam festival-festival yang indah.
Secara khusus geliat ekonomi kreatif telah bergerak inovatif-kreatif di kampung-kampung dan desa-desa kita, dan dari sana membahana ke segala penjuru.
Dengan bangga dan penuh syukur saya berterima kasih kepada para Romo, Pater, segenap Dewan Paroki dan seluruh umat Keuskupan Ruteng atas semua “kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas” di Tahun Ekonomi SAE: Sejahtera, Adil dan Ekologis.
Gerakan pastoral inkarnasi Sang Sabda dalam kehidupan konkret umat ini ingin kita lanjutkan dalam tahun 2024 ini dalam program Ekologi Integral dengan mengusung motto HPS: harmoni, pedagogi, sejahtera.
Baca juga: BREAKING NEWS: Pelajar di Manggarai Barat Akhiri Hidup dengan Minum Cairan Insektisida
Allah sejatinya dalam diri Kristus tidak hanya menjadi manusia, tetapi melalui “daging” insani. Dia juga menjadi bagian dari alam semesta ini. Itulah sebabnya dalam doa ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus mendaraskan himne puji syukur ini: “Terpujilah Engkau! Putera Allah, Yesus! Segala sesuatu diciptakan melalui Engkau. Engkau dibentuk dalam rahim Maria. Engkau telah menjadi bagian dari bumi ini.”
Dewasa ini bumi kita menjerit, dan alam semesta berkeluh kesah karena beban pencemaran di darat, laut, udara serta kerusakan masif di hutan, lembah, gunung, tepi pantai, sawah, ladang dan kebun.
Dalam surat apostolik terbarunya tanggal 4 Oktober 2023 Laudate Deum, Paus Fransiskus menambahkan juga masalah aktual krisis iklim global yang tidak saja akan meruntuhkan alam tetapi juga mengancam eksistensi kemanusiaan. Planet bumi, rumah bersama, tempat tinggal kita, “tidak sedang baik-baik saja”.
Justru karena itu, program pastoral ekologi integral kita sangatlah tepat dan kontekstual untuk menjawabi krisis ekologi yang dasyat sekarang ini. Bersama seluruh insan dan mahkluk di muka bumi ini, kita ingin bergerak bersama dalam prinsip ini: berpikir global, dan bertindak lokal (“to think globally, to act locally”).
Tidaklah cukup mengguratkan gagasan besar dan bermimpi seluas jagat dalam krisis ekologi ini. Yang dibutuhkan pula adalah aksi-aksi kecil yg nyata, sederhana, dan terjadi dalam lingkup kehidupan sehari-hari kita.
Bapa Suci Fransiskus melihat akar antropomorfis dalam krisis ekologi ini. Pandangan, nilai, sikap dan perilaku manusia yang menjadikan alam sebagai obyek eksploitasi merupakan penyebab utama kerusakan planet bumi ini.
Gaya hidup manusia yang materialistis, konsumeristis dan hedonis mengakibatkan penggerusan bumi dan perampokan sumber-sumber alam.
Karena itu dalam desain program pastoral tahun ini, kita ingin melaksanakan pedagogi ekologis yang kreatif dan masif untuk mencerahkan umat dan semua pihak agar membarui gaya hidup dan melakukan pertobatan ekologis.
Allah telah menciptakan segala makhluk dengan lembut dalam keharmonisan satu sama lain. “Seluruh alam materiil adalah bahasa cinta Allah, kasih sayang-Nya yang tak terbatas bagi kita. Tanah, air gunung, semuanya ibarat belaian Allah”, ujar Paus Fransiskus (LS,84).
Baca juga: 80 Persen Warga Manggarai Barat Rekam E-KTP Tanpa Tahu Golongan Darah
Oleh sebab itu, dalam program pastoral tahun 2024 kita ingin merasakan dan turut merawat harmoni ciptaan dengan Sang Pencipta, harmoni ciptaan satu sama lain, dan harmoni kita manusia dengan ciptaan lain. Lebih dari itu dalam jaringan harmoni ini, kita ingin merasakan sentuhan lembut kasih ilahi dalam semesta jagat ini.
Maka program-program kita tidaklah sekedar aksi sosial ekologis semata. Tetapi kita ingin mengembangkan spiritualitas ekologis. Artinya melalui kegiatan perawatan dan pelestarian lingkungan, iman kita juga bertumbuh dan berkembang.
Dengan semakin harmonis dengan alam, kita juga semakin dekat dan intim dengan Sang Pencipta dan Penyelenggara Kehidupan, “Mori Jari agu Dedek”.
Karl Rahner, teolog besar abad 20 ini, berbicara tentang “transendensi” diri manusia, dan bahkan segala mahkluk. Manusia memiliki kapasitas untuk melampaui dirinya dan menjangkau yang tidak terbatas. Demikian pula setiap makhluk memiliki kemampuan untuk berkembang dan menjadi “baru”, melampau ikatan dan batas alamiahnya.
Gerak pastoral kita hendaknya semakin menyadari dan mewujudkan dimensi transendensi ini. Dalam pergumulan hidup di dunia yang fana ini, kita selalu boleh merindukan cinta yang abadi. Dalam dinamika di medan pastoral yang terbatas, kita boleh menerawang, dan menjangkau langit biru yang tanpa batas.
Mengapa selalu ada gelora cinta yang tak terbatas dalam diri kita? Karena Allah telah mencipta kita dengan cinta ilahinya yang abadi.
Menurut Paus Fransiskus, “kasih Allah adalah alasan mendasar semua ciptaan. Oleh karena itu, setiap makhluk adalah objek kelembutan hati Bapa yang memberinya tempat di dunia. Bahkan kehidupan sekilas dari makhluk yang paling hina adalah obyek cinta-Nya, dan dalam beberapa detik hidupnya Allah memeluknya dengan kasih sayang-Nya” (LS,77).
Oleh sebab itu, saya mengajak kita semua, untuk semakin giat mencintai. Mari dalam tahun Ekologi Integral kita lebih mencintai: cinta sesama, dan sayang semua makhluk ciptaan. Omnia in Caritate. Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih! Tuhan memberkati. (rob)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.