Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 31 Desember 2023, Keluarga Kudus
Hari raya Keluarga Kudus diresmikan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1893. Hingga Januari 1969 dan dirayakan pada hari Minggu dalam Oktaf dari Epifani
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik berikut ini ditulis Bruder Pio Hayon SVD mengangkat judul : Keluarga Kudus.
Renungan Harian Bruder Pio Hayon SVD Hari Minggu Oktaf Natal Pesta Keluarga Kudus, Yesus Maria Yusuf merujuk pada Bacaan I:Kej. 15:1-6; 21: 1-3, Bacaan II: Ibr. 11: 8.11-12.17-19, Injil:Luk.2:22-40
Berikut ini teks lengkap renungan Bruder Pio Hayon SVD
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Salam damai sejahtera untuk kita semua. Keluarga adalah adalah sekelompok orang yang terikat dengan hubungan darah, ikatan kelahiran, hubungan khusus, pernikahan, atau yang lainnya yang membentuk satu status tertentu dalam ikatan perkawinan baik secara institusi tertentu maupun secara sosial budaya.
Maka keluarga sebenarnya menjadi pencipta generasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Hari ini, di akhir tahun, Gereja secara khusus mempersembahkan satu perayaan khusus yakni pesta Keluarga Kudus Nazaret, Yesus Maria Yusuf.
Perayaan ini sebenarnya adalah perayaan liturgi Gereja Katolik Roma untuk menghormati Yesus dari Nazaret, ibu yang melahirkannya, Perawan Maria dan bapaknya menurut hukum, Santo Yusuf, sebagai bagian dari kesatuan keluarga.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 30 Desember 2023, Bersaksi Tentang Kanak-Kanak Yesus
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 30 Desember 2023, Penuh Hikmat
Hari raya Keluarga Kudus diresmikan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1893. Hingga Januari 1969 dan dirayakan pada hari Minggu dalam Oktaf dari Epifani.
Artinya, dirayakan pada hari Minggu manapun yang jatuh antara tanggal 7 Januari sampai dengan 13 Januari, (lihat Kalender Umum Gereja Katolik Roma 1962).
Kini hari raya ini dirayakan pada hari Minggu antara Natal dan Tahun Baru, dalam Oktaf Natal.
Apabila pada tahun tersebut tidak ada hari Minggu, karena tanggal 25 Desember dan 1 Januarinya jatuh pada hari Minggu, peringatan ini diselenggarakan pada hari Jumat sebelum tanggal 30 Desember pada tahun tersebut.
Dan hari ini kita merayakannya pada hari minggu pada akhir tahun liturgi dan di akhir tahun 2023.
Perayaan pesta keluarga kudus ini menyuguhkan kita inspirasi dari para tokoh baik perjanjian lama maupun baru dalam keluarga kudus Nazaret sendiri.
Kita memulainya dengan keluarga sekaligus Keluarga Bapa Bangsa kita, Abraham dan Sara.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 29 Desember 2023, Dinamika Hidup
Mereka menjadi keluarga bangsa – bangsa dengan janji keluarga sebanyak bintang di langit dan pasir di pantai keturunannya. Namun pada usia 100 tahun mereka baru mendapatkan satu anak Ishak.
Bicara tentang banyaknya keturunan tetapi hanya diberi satu dan lebih mengesankan lagi bahwa anak itu harus dikorbankan sebagai persembahan kepada Allah. Terlihat aneh dan tak wajar.
Namun bagi Allah, janji itu tetap terpenuhi tergantung kesetiaan Abraham kepada Allah. Dan dia melakukannya dengan baik. Kesetiaan dan ketaannya kepada Allah tak pernah diragukan.
Kekudusan keluarga bapa bangsa Abraham terletak pada kesetiaan dan ketaatan mereka di hadapan segala macam cobaan dan godaan hidup yang diperhadapkan kepada mereka.
Menjadi kudus bukan berarti terlepas atau tak ada tantangan, malahan, kekudusan itu terbentuk lewat begitu banyak tantangan dan masalah yang dihadapi dan di situlah Allah sedang menilai kita, apakah kita tetap setia dan taat kepadaNya atau tidak.
Kisah bapa bangsa ini bercerita sangat jelas tentang betapa iman mereka dikuatkan dan diteguhkan oleh begitu banyak tantangan dan rintangan yang menimpa mereka.
Dan pada akhirnya tokoh Yesus Maria dan Yusuf sebagai contoh keluarga kudus juga terbentuk bukan hanya karena Yesus ada bersama-sama dengan mereka sebagai Putera Allah, tetapi karena iman mereka yang begitu kuat dalam kesetiaan dan ketaan mereka pada kehendak Tuhanlah yang membuat mereka menjadi kudus.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 28 Desember 2023, Menghargai kehidupan
Iman mereka itu menjadi sempurna dalam diri Yesus Kristus sendiri putera tunggalnya Maria dan Yusuf.
Keteguhan iman dan kesetian sertak ketaatan mereka terlihat dalam seluruh proses sejak awal mengalami goncangan karena Maria harus mengandung terlebih dahulu, perjalanan ke Mesir, melahirkan di kandang hina bahkan terakhir sampai harus berdiri di kaki salib dan mengendong puteranya sendiri setelah kematian adalah bentuk-bentuk kesetiaan dan ketaatan Maria dan Yusuf pada rencana dan kehendak Allah.
Pola hidup semacam inilah yang secara manusiawi telah membentuk Yesus sebagai anak mereka dalam asuhan mereka sejak Yesus masih kecil hingga dewasa. Kebenaran iman inilah yang menjadi sulit ditemukan lagi dalam keluarga-keluarga katolik kita saat ini.
Semakin banyak keluarga-keluarga kita yang pecah dan hancur berantakan karena lemahnya iman dalam kesetiaan dan ketaatan mereka pada kehendak Tuhan dan lebih mengandalkan egoisme diri mereka dan keinginan daging belaka. Maka marilah kita belajar dari keluarga Kudus Nazaret.
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Pesan untuk kita, pertama: Tuhan itu selalu setia kepada kita umatNya yang terbentuk dalam keluarga kita. Kedua, keluarga kudus terbentuk lewat keteguhan iman dalam harapan, dan kasih yang besar lewat kesetiaan dan ketaatan pada kehendak Tuhan. Ketiga, Yesus selalu hadir dalam setiap perjuangan hidup semua keluarga-keluarga kita.(*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pio-Hayon-Bruder_05.jpg)