Berita NTT
Rendahkan Diri Belajar dari Alam, Ibarat Teko dan Cangkir
secara emosional dan menyenangkan jika ke depannya anak-anak generasi muda Indonesia terbiasa dengan keberagaman, terbiasa dengan konflik
Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Ratusan peserta dari Politeknik Pertanian dari Sabang sampai Marauke hadir dalam pembukaan final Kompetensi Inovasi Teknologi Bidang Pertanian AITeC 5 mengusung tema Inovasi Teknologi Untuk Meningkatkan Mutu Produk dan daya Saing Dalam Bidang Pertanian Semi Ringkai Menuju Pertanian Berbasis Teknologi 4.0.
Sekitar 200-an mahasiswa dari 21 Politeknik di Indonesia di bidang pertanian atau mereka yang bekerja di bidang teknologi mendukung pertanian, dan perwakilan dari Timor Leste hadir di Politeknik Pertanian Negeri (Politani) Kupang yang berlangsung pada Kamis, 26 Oktober 2023.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Dr Ir Kiki Yuliati, M.Sc mengungkapkan, ide menghadirkan ratusan mahasiswa di Politani Kupang ini sengaja dirancang sebagai salah satu cara merawat keberagaman di Indonesia.
Dengan mengumpulkan para mahasiswa ini, mereka bisa belajar budaya yang berbeda sehingga ke depannya mereka terbiasa dengan hal-hal yang berbeda.
Baca juga: Gelar Bakti Sosial Donor Darah, PKN Target 50 Kantong Darah bagi Warga Timor Tengah Selatan
"Hal ini dilakukan bagi mahasiswa ada hal yang lain yang sengaja dirancang untuk terjadi kepada para peserta dengan mengenal saudara-saudara setanah air dari wilayah berbeda akan membuat mereka memiliki ikatan secara emosional dan menyenangkan jika ke depannya anak-anak generasi muda Indonesia terbiasa dengan keberagaman, terbiasa dengan konflik, nyaman dalam konflik dan bisa menyelesaikan segala sesuatunya dengan kepala dingin dan hati yang tenang," terang Kiki usai membuka acara Final kompetensi ini.
Dalam sambutannya, Kiki mengutip salah satu kutipan terkenal dalam dunia olahraga, winning is not everything, winning is the only thing.
"Kita di sini untuk bertanding.Apa hakekatnya lomba kompetisi kalau bukan untuk menang?. Semua menginginkan menang. Tetapi persoalannya adalah kalau ada yang menang, pasti ada yang kalah. Dalam sebuah kompetisi bisa dibuat semua menang dengan cara jadikan setiap momen dalam kompetisi sebagai momen untuk belajar. Maka siapa yang belajar, dia pasti menang dan percayalah, yang kalah akan belajar lebih banyak,"terangnya.
Peradaban manusia dimulai oleh pertanian. Kembali ke zaman purba ketika manusia tidak memiliki konsep apa pun kecuali mengumpulkan hasil buruan pada hari itu. Tidak ada konsep kepemilikan. Tetapi ketika ada pertanian mulailah konsep kepemilikan tanaman, kepemilikan hewan, munculah pembagian tugas dalam masyarakat seperti pendidik, pengelola dan sebagainya.
Berbicara pertanian membentuk keperadaban manusia dan konsep kekinian dan masa depan. Mulai hari ini sampai ke depan hampir sama alasan peperangan, mungkin katanya mau mencari lahan lebih luas pada masa penjajahan. Tetapi yang dicari atau yang diperebutkan adalah tiga hal yang tidak bisa pernah cukup.
"Kita harus memastikan kecukupan dalam tiga hal, pertama kita harus cukup pangan, kedua kita harus cukup punya energi dan ketiga kita harus cukup air bersih. Negara super power masa depan adalah negara yang menguasai pangan, negara yang menguasai energi, dan bangsa-bangsa yang memiliki air bersih,"ungkapnya pada Kamis, 26 Oktober 2023.
Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi menyadari betul bahwa filosofi pendidikan berpegang pada Ki Hajar Dewantoro namun penerapannya harus mengikuti perkembangan zaman. Salah satu filosofi pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro adalah semua murid, semua guru.
Artinya pada kasus-kasus tertentu, walaupun dosen. Seharusnya dan sepantasnya merendahkan diri untuk menjadi murid.
Ia mengumpamakan, murid dan guru itu sebagai cangkir dan teko, merendahkan diri untuk menuangkan isi kepala ibaratnya ketika menuangkan isi teko, teko harus merunduk. Sehingga filosofi pendidikan yang tepat implementasinya bisa berbeda-beda.
"Mari kita jadikan alam sebagai guru dan diri kita menjadi murid termasuk para dosen maupun profesor, belajar dari alam bersama mahasiswa,"tutupnya.(dhe)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS