Jumat, 10 April 2026

Berita Flores Timur

Perjuangan Ama Boro Hingga Sembuh dari Sayatan Virus ASF di Flores Timur

Dikatakan, beternak babi lebih menjanjikan karena sangat dibutuhkan dalam setiap hajatan, termasuk animo masyarakat yang gemar menkonsumsi daging babi

Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/PAUL KABELEN
BABI - Yakobus Boro atau Ama Boro di kandang babi miliknya di Desa Nobo, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kabelen

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Rasa sakit Boro Yakobus atau akrab disapa Ama Boro (61) mulai pulih seiring dengan wabah African Swine Faver (ASF) yang semakin landai dari Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT.

Ama Boro sempat stres pada tahun 2020 pasca virus ASF merenggut nyawa 350 ternak babi miliknya di Desa Nobo, Kecamatan Ile Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.

"Bisa dikata lebih dari stres, ibaratnya seperti langkah sebelah sudah di alam lain," kenang Ama Boro kepada wartawan, Kamis 21 September 2023.

Baca juga: Trauma Virus ASF, Peternak Flores Timur Minta Babi Bantuan Dimusnahkan

Ama Boro seperti terkena luka sayatan. Kerugian ditaksir sekira Rp 1,6 miliar. Rasa sakit dalam batinnya sampai membuatnya berlinang air mata. Sebab, usaha yang dirintis sejak tahun 2018 itu berjalan sukses.

"Semuanya mati kena ASF. Satu hari bisa 5 sampai enam ekor yang mati. Kandang tinggal bangunan saja," tuturnya.

Ia mulanya mendatangkan 22 bibit babi jantan dan betina genetik bagus dari Kupang. Usaha hasil modal sendiri itu membawa keuntungan besar, sebelum akhirnya gulung tikar.

Meski usahanya dihancurkan ASF, namum Ama Boro tak mau larut terlalu lama. Pria kelahiran 28 Agustus 1962 itu bak menjahit luka sayatannya sendiri. Ia kembali merintis usahanya sepuluh bulan lalu.

Baca juga: BREAKING NEWS: Rumah Milik Pasutri ASN di Flores Timur Terbakar

"Saya mulai lagi pada bulan November 2022. Waktu itu saya beli induk tiga ekor genetik bagus, dan jantan saya pinjam dari tetanngga," tutur Ama Boro.

Trauma ASF kian sembuh setelah kandang tembok permanen berukuran panjang 27 meter telah dihuni 52 ekor babi, diantaranya, 20 induk, 3 jantan, dan sisanya babi sedang untuk calon bibit.

Dikatakan, beternak babi lebih menjanjikan karena sangat dibutuhkan dalam setiap hajatan, termasuk animo masyarakat yang gemar menkonsumsi daging babi

Dijelaskan, selain konsumsi daging, harga pasaran anak babi semakin menjanjikan yaitu Rp 1,5 juta per ekor.

Baca juga: Kejari Flores Timur Kembali Damaikan Pelaku dan Korban Penganiayaan di Flotim

"Semakin membaik, tapi saya tetap terapkan biosecurity secara ketat, misalkan kasih disinfektan dan pengasapan. Paling tidak tetap antisipasi," tuturnya.

Ama Boro memberikan masukan kepada perintah setempat agar tidak lagi mendatangkan bantuan ternak, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

Pasalnya, 50 ekor babi untuk dua kelompok di Kota Larantuka itu nyaris membawa petaka. Beberapa sampel darah babi dinyatakan positif ASF.

"Kita harapkan lalu lintas ternak tolong jaga dan kontrol dengan bagus," tutupnya. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved