Selasa, 21 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 14 September 2023, 'Salib Jalan Keselamatan'

Perayaan Salib Suci mengingatkan kita akan begitu besarnya makna Salib itu bagi kita umat-Nya

|
Editor: Edi Hayong
YOUTUBE SUARA PAGI RENUNGAN HARIAN KATOLIK
RENUNGAN- Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh RP. John Lewar SVD pada Kamis 14 September 2023 dengan judul 'Salib Jalan Keselamatan'. 

POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh RP. John Lewar SVD dengan judul 'Salib Jalan Keselamatan'.

Dalam renungan pada Hari Biasa Pekan  XXIII ini RP. John Lewar SVD merujuk pada Bilangan 21: 4-9, Mazmur 78: 1-2.34-35.36-37.38, Filipi 2: 6-11 dan Injil Yohanes 3: 13-17.

Berikut ini teks lengkap renungan yang ditulis RP. John Lewar SVD dengan judul 'Salib Jalan Keselamatan'

Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus.

Hari ini Gereja merayakan Pesta Salib Suci, yaitu salib Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pesta ini dikaitkan dengan penemuan lokasi otentik bukit Golgota dan kubur Yesus, lokasi penyaliban Kristus dan potongan kayu salib Tuhan Yesus oleh Santa Helena, ibu Kaisar Konstantinus Agung, pada abad keempat. Salib itu diyakini sebagai salib tempat Tuhan Yesus tergantung.

Di sebelah timur lokasi itu, di dalam sebuah sumur batu, ditemukan tiga buah salib dan plakat kayu yang bertuliskan INRI (Iesus Nazaranus Rex Iudaeorum).
Menurut tulisan para Bapa Gereja, ketiga salib dan plakat itu kemudian dikeluarkan dari sumur. Seorang wanita yang sakit parah dan dalam sakrat maut dibawa ke sana. Wanita itu menyentuh ketiga salib itu satu persatu.

Setelah menyentuh salib yang ketiga, ia sembuh seketika, dan dengan demikian orang-orang mengetahui salib yang mana di antara ketiga salib itu, yang adalah salib Kristus. Akan tetapi, pesta Salib Suci bukan semata untuk memperingati peristiwa penemuan itu, melainkan ungkapan iman akan Salib Tuhan Yesus sebagai jalan keselamatan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 13 September 2023, Kebahagiaan Sejati

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 13 September 2023, Berbahagialah VS  Celakalah

Perayaan Salib Suci mengingatkan kita akan begitu besarnya makna Salib itu bagi kita umat-Nya. Salib itu disebut suci, karena Kristus Tuhan kita, pernah
tergantung di sana saat menyerahkan nyawa-Nya demi menebus dosa-dosa kita.

Sebab jika tidak demikian, maka salib tidak memiliki arti apapun bagi kita selain daripada dua palang kayu yang disatukan yang menjadi tempat penghukuman bagi para narapidana di zaman penjajahan Romawi di abadabad pertama. Namun justru karena Kristus pernah disalibkan untuk kita, maka salib tidak lagi menjadi tanda keaiban, tapi sebaliknya menjadi tanda keajaiban kasih Allah yang menyelamatkan.

Karena itu, salib bukanlah tanda kelemahan Allah, namun sebaliknya, kekuatan-Nya. Sebab hanya kekuatan Allah-lah yang menjadikan Kristus tetap mengasihi dan mengampuni orangorang yang menyalibkan-Nya. Dan hanya dengan kekuatan Allah-lah, Kristus dapat merendahkan diri dan mengosongkan diri-Nya sedemikian rupa demi menyelamatkan kita.

Kini dengan memandang kepada salib Kristus itulah kita pun dikuatkan untuk terus mengasihi dan mengampuni sesama; dan juga untuk bertumbuh dalam kerendahan hati, sebab itulah jalan yang dipilih Allah untuk menghantar kita kepada keselamatan kekal. Betapa dalamnya makna Salib itu, sehingga layaklah Tanda Salib itu melekat di batin kita, dan tidak semata kita buat di awal dan akhir doa secara tergesa-gesa.

Contemplasi:

Bagi orang Yahudi, salib adalah penghinaan. Mengapa disebut penghinaan? Karena salib bagi mereka adalah tempat penyiksaan bagi orang-orang berdosa, orang jahat, dan yang pantas mendapat hukuman mati. Sedangkan bagi orang Yunani, salib adalah kebodohan. Mengapa disebut kebodohan? Karena mereka berpikir, “Masak sich seorang Raja kok mati di kayu salib.”

Bagi sekelompok tertentu, Salib itu menakutkan. Bagi kita sebagai orang Katolik, salib adalah kemenangan dan keselamatan. Mengapa? Karena di sanalah Tuhan Yesus menebus dosa-dosa umat manusia. Ditegaskan dalam Injil hari ini, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 13 September 2023, Tak Ada Rintangan yang Tak Bisa Kita Lewati

Dia merelakan hidup-Nya secara total untuk menderita, sengsara, dan wafat. Sekalipun sebagai seorang Raja, namun Tuhan Yesus mau merendahkan diri
sama seperti manusia, bahkan sampai wafat di salib untuk menyelamatkan kita para pendosa.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved