Uang Kuliah Tunggal Undana

Rektor Undana Kupang Klaim BEM PT Hanya Dilakukan Pembinaan

Paling penting adalah ia mempertahankan kebenaran. Dia juga mengajak mahasiswa untuk menjaga nama baik dan martabat kampus

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO
HINDARI CALO - Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Prof. Dr. drh. Maxs Sanam mengingatkan calon mahasiswa baru (Maba) di kampus itu untuk menghindari calo. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Rektor Undana Kupang, Prof Maxs Sanam menyebut ruang BEM PT tidak dilakukan penyegelan. Ia mengklaim pemanggilan ketua BEM hanya untuk pembinaan. 

Prof Maxs Sanam menerangkan ia juga sempat meminta agar pengelolaan media sosial BEM Undana untuk menyampaikan informasi yang benar tanpa mendramatisir sesuatu. 

"Mereka menempatkan diri sebagai bagian yang seolah bukan lagi dari Undana. Boleh kritis. Bahkan saya menentang mereka dalam pelantikan itu, saya meminta untuk kritis, berani menyuarakan hal-hal yang dianggap merugikan demi untuk perbaikan bersama," ujarnya, Rabu 19 Juli 2023. 

Sikap BEM belakangan ini menurut Prof Maxs agak berlebihan. Dia menegaskan informasi yang disampaikan dan beredar adalah tidak benar. 

Baca juga: Pengurus Baru KMK FKM Undana Kupang Diajak Komit Jalankan Roda Organisasi

"Itu tidak benar itu. Itu dipanggil untuk diskusi, saya sudah dicek ke satpam," sebut dia. 

Ketua BEM dipanggil menyusul adanya aktifitas yang mengudang orang dari luar kampus. Sehingga wakil rektor III kemudian memanggil pengurus lewat pesan WhatsApp, tapi tidak ditanggapi. 

Bahkan kedatangan sejumlah orang tua ke kampus pada Senin kemarin juga difasilitasi oleh BEM. Hal ini yang kemudian berbuntut panjang. 

"Anak-anak ini saya lihat agak kebablasan. Jadi diajak memberikan informasi dulu untuk sama-sama kita menyatukan pandangan kita. Ada hal yang berbeda yang merwka temukan dari masyarakat, silahkan, tapi mereka harus tahu informasi yang benar, duduk masalahnya bagaimana. Wakil rektor itu kan buat pemanggilan, itu kan dibina," ujarnya. 

Prof Maxs menerangkan dirinya tidak anti demokrasi. Karena pengurus BEM tidak mendatangi wakil rektor III, satpam kemudian mengunci ruangan dan mengarahkan pengurus untuk bertemu pimpinan kampus agar bisa menyelesaikan masalah itu. 

Ia menyebut kunci ruangan sebenarnya ada juga di pengurus BEM. Dia mengaku tidak pernah memerintahkan melakukan penyegelan ataupun mengunci ruangan itu. 

"Itu di dramatisir, dibredel. Siapa yang perintahkan, saya ngurusin rabies di Soe sana, jauh lebih penting daripada saya ngurusin adik-adik ini, yang lebay," katanya. 

Baca juga: Masyarakat Perlu Diedukasi Mengenai Rabies, RSHP Undana Kupang Gelar Workshop

Dia menegaskan dirinya tidak pernah anti demokrasi. Kalau saja ia menerapkan aturan secara tegas, bisa saja pengurus BEM di bekukan bahkan dikenai sanksi. 

Tetapi, Prof Maxs mengaku tidak mau hal itu terjadi. Paling penting adalah ia mempertahankan kebenaran. Dia juga mengajak mahasiswa untuk menjaga nama baik dan martabat kampus. (fan)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainya di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved