Berita Lembata

Pemuda Empat Pulau Menyemai Pesan Cinta Alam dan Sesama di Paroki Waikomo

Tarian ini menggambarkan pengorbanan nyawa seorang gadis desa untuk kesejahteraan masyarakat di Lamaholot saat bencana kelaparan.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/RICKO WAWO
WAIKOMO - Sejak 29 Juni 2023, Orang Muda Katolik (OMK) dari Pulau Flores, Pulau Solor, Pulau Adonara dan Pulau Lembata berkumpul di paroki St. Arnoldus Janssen Waikomo, di Pulau Lembata. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Para pemuda yang berasal empat pulau kecil di Nusa Tenggara Timur (NTT) bahu membahu menebar pesan cinta, melakukan karya nyata dan menelaah pikiran pikiran konstruktif. Pesan Spiritual itupun disajikan melalui pentas seni khas orang muda. 

Sejak 29 Juni 2023, Orang Muda Katolik (OMK) dari Pulau Flores, Pulau Solor, Pulau  Adonara dan Pulau Lembata berkumpul di Paroki St. Arnoldus Janssen Waikomo, di Pulau Lembata

Mereka berikhtiar menyatukan visi pembangunan mental sesuai ajaran Gereja Katolik hingga menebar pesan pembangunan ekonomi, lingkungan dalam kegiatan sepekan yang diberi tajuk SVD youth day II, temu Akbar OMK Distrik Larantuka. 

Baca juga: Vian Ikun Jadi Bacaleg Lembata Termuda, Janji Berikan 90 Persen Gaji untuk Masyarakat

Pastor paroki St Arnoldus Janssen Waikomo, P. Yosep Ola Sabhe, SVD menyebut, selama sepekan itu orang muda Katolik dari empat pulau itu tinggal dan merasakan kehidupan bersama umat di Lembata, mendemonstrasi seruan gereja, merasul dan merawat relasi manusia dengan alam. 

Menariknya, pesan yang konstruktif itu pula disampaikan melalui pentas seni di malam keakraban. Mereka unjuk Kebolehan di Bidang Seni dan Budaya, Minggu 2 Juli 2023 malam. 

Para Orang muda Katolik (OMK) itu berasal dari empat pulau itu yakni OMK Kolisagu, OMK Watobuku-Hokeng, OMK  Waibalun- Larantuka, OMK  Ritaebang-Solor dan OMK Waikomo, Lembata. 

Baca juga: Komisi II DPRD Lembata Minta Pemkab Selesaikan Data Kemiskinan Ekstrim

Di malam keakraban, OMK unjuk Kebolehan di Bidang Seni dan Budaya.  OMK Watobuku-Hokeng, membawakan Tarian Tonu Wujo Besi Pare. 

Tarian ini menggambarkan pengorbanan nyawa seorang gadis desa untuk kesejahteraan masyarakat di Lamaholot saat bencana kelaparan.

Dengan lugas para penari menarikan proses tanam benih atau Sika taruh, pemetikan padi, pemisahan bulir dari batang, memisahkan padi dari sekam atau seping dan menumbuk padi atau bajo. 

Baca juga: Penjabat Bupati Flotim Bangga Acara Wisuda Universitas Flores Dikemas Dalam Nuansa Lamaholot

Tarian Tonu wujo besi pare, atau Dewi padi, mengajak para pemuda menghargai dan merawat rantai pasok pangan untuk kehidupan bersama karena ada darah gadis yang  tertumpah membawa kesejahteraan. 

Jiwa gadis itu kembali ke asal, sedangkan  tubuh gadis itu menjadi makanan (padi), menyatu jadi darah dan daging.

Sedangkan Rian Hokeng, OMK St.Yohanes  pembaptis, Ritaebang - Solor, membawakan monolog Pesan OMK. Ia berpesan, di bahu para pemuda ini dititipkan ribuan harapan akan perbaikan kehidupan gereja maupun kehidupan sosial kemasyarakatan lebih baik. 

Baca juga: Kapolres Lembata Ajak Masyarakat Kawal Pemilu 2024 Jujur dan Adil

OMK Waibalun, persembahkan Tarian Kontemporer, tentang sebuah perjalanan dengan ribuan intrik kehidupan sosial yang memusingkan kepala. Namun, cinta memampukan mereka untuk kokoh di jalan kehidupan. 

OMK St. Petrus Koli Sagu, Dolo dan pantun berbalas tentang cinta. Para pemuda asal pulau Adonara itu membawa serta anakan Pala dan Gaharu, guna memperkuat ekonomi umat.

"Cintai alam, niscaya alam mencintai kita. Karena baiknya relasi alam dan manusia di tanah Waikomo ini, kami percaya menjadi ladang tumbuh dan berkembangnya Pala dan Gaharu yang kami bawakan ini," ungkap Ovi, anggota OMK Kolisagu.  (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved