Berita NTT
Atasi Stunting, UNICEF NTT Gelar Orientasi Program Gizi Remaja
Peserta kegiatan ini antara lain guru UKS, petugas gizi Puskesmas se-Kota Kupang, 5 sekolah model Kota Kupang dan perwakilan dari Dinas PKO
Penulis: Siti Soleha Oang | Editor: Eflin Rote
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Siti Soleha Oang
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dalam mencegah stunting Kota Kupang, Unicef & pokja stunting Provinsi NTT bekerjasama dengan Pemerintah Kota Kupang menggelar orientasi program gizi remaja.
Kegiatan tersebut di gelar di Aula Dinas Kominfo Nusa tenggara Timur dimulai pada tanggal 7 Juni hingga 9 Juni 2023.
Peserta kegiatan ini antara lain guru UKS, petugas gizi Puskesmas se-Kota Kupang, 5 sekolah model Kota Kupang dan perwakilan dari Dinas PKO, Bappelitbang dan Dinas Kesehatan. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk orientasi bagi calon fasilitator di Kota Kupang.
Pelaksana Program Gizi, Jorge Alvares Nope, mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk melaksanakan aksi bergizi dan langkah implementasi komponen gizi remaja dalam program sekolah/ madrasah sehat.
Baca juga: PSI Kota Kupang Gelar Pemeriksaan Gratis dan Bazar Murah
“UNICEF melakukan kegiatan tersebut untuk melengkapi TP UKS, jadi pemeriksaan kesehatan, pendidikan gizi dan pembinaan lingkungan sehat. Jadi materi ini sudah di kemas untuk anak 13-18 tahun sehingga mudah memahami tentang gizi sehingga dapat di teruskan,” ujarnya.
Selain itu, kata dia, remaja ini di persiapkan ketika menjadi seorang ibu sudah dapat memahami penyebab terjadinya stunting sehingga dapat mencegahnya.
“Suatu saat kan akan menjadi ibu dan mereka para remaja harus tau porsi takarannya makanan, sehingga tidak berlebih tetapi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh,” tuturnya.
Menurut Jirgen ada 3 (tiga) komponen utama aksi bergizi, yaitu sarapan bersama dan minum tablet tambah darah (TTD) setiap minggu, sesi literasi terkait gizi spesifik dan gizi sensitif menggunakan pendekatan kecakapan hidup, dan komunikasi perubahan perilaku Sosial (SBCC).
Baca juga: Persiapan PPDB Disdikbud Kota Kupang Sudah 96 Persen
Program ini dirancang sebagai program yang responsif gender dan disampaikan melalui mobilisasi sekolah dan masyarakat, memperkuat koordinasi multi-sektor, kampanye media cetak dan media sosial dan mengembangkan sistem pemantauan dan evaluasi. Di masa pandemi ini terdapat gangguan dalam pembagian TTD bagi remaja putri karena pembatasan aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Diharapkan dengan adanyanya kegiatan tersebut dapat memberikan pemahaman kepada para remaja sehingga dapat diteruskan dan menjadi fasilitator untuk teman sebaya.
“’Anak remaja ini tidak terbatas pada perempuannya, dan juga dapat memberikan pengertian kepada remaja dalam pergaulan dan pengertian alat reproduksi sejak dini sehingga dapat dipahami dan di teruskan ke teman-teman lainnya,” pungkasnya. (Cr.18)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.