Pilpres 2024

Kemenangan Pilpres 2024 Nanti Ada di Tangan Cawapres, Begini Kata Pangi Syarwi Chaniago

Pangi Syarwi Chaniago memprediksikan, kemenangan calon presiden pada Pilpres 2024 mendatang sejatinya ada di tangan figur cawapres. Begini alasannya.

Editor: Frans Krowin
POS-KUPANG.COM/kolase foto
KUNCI KEMENANGAN – Sampai saat ini dari tiga figur yang disebut-sebut sebagai calon presiden, tidak mengantongi elektabilitas di atas 30 persen. Karena itu, kunci kemenangan Pilpres 2024 ada di tangan calon wakil presiden. Demikian kata Pangi Syarwi Chaniago, Kamis 10 Mei 2023. 

POS-KUPANG.COM – Tiga calon presiden, yakni Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan, sama-sama punya peluang untuk memenangkan Pilpres 2024 mendatang. Pasalnya, elektabilitas para calon berbeda tipis satu sama lain.

Dengan demikian, yang menentukan kemenangan dalam pemungutan suara pada tahun 2024 mendatang, adalah figur calon wakil presiden. Karena itu, figur cawapres menjadi penentu kemenangan tersebut.

Hal tersebut disampaikan Analis Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago kepada wartawan, Kamis 10 Mei 2023.

Dikatakannya, sosok cawapres menjadi penting, karena dalam beberapa survei, hanya tiga nama calon presiden yang kuat dan kompetitif, dengan selisih elektabilitas yang tipis.

"Elektabilitas ketiga tokoh ini di berbagai lembaga survei bersaing sangat ketat dan saling salip menyalip sehingga membuat posisi cawapres menjadi kunci kemenangan," ujarnya.

Dari sejumlah survei menunjukkan tidak ada capres yang unggul jauh di atas angka psikologis 30 persen atau capres pemenang tanpa lawan tanding. Dengan demikian, posisi cawapres menjadi kunci kemenangan.

Baca juga: Cecep Hidayat: Capres Alternatif Bisa Saja Muncul dalam Kontestasi Pilpres 2024

"Dinamika elektoralnya tidak terlalu terpaut jauh, bahkan pernah Prabowo menyalip Ganjar, Anies pernah menyalip Prabowo, dan Anies pernah menyalip Ganjar dan Prabowo dan seterusnya," ujarnya.

Dikatakannya, ketokohan cawapres akan mampu menggenjot Elektabilitas capres. "Dengan kata lain, cawapres berfungsi sebagai doping politik. Salah mengandeng cawapres maka akan menjadi blunder yang mematikan," ujarnya.

Karena itu, lanjut dia, parpol koalisi sengaja menyimpan nama cawapres. Parpol koalisi diyakini tidak akan buru-buru mengumumkan nama cawapres.

"Caranya mengunci nama cawapres, sebab cawapres harus dipastikan kontributif terhadap capresnya, menjadi bagian dari desain adu strategi politik."

"Kenapa pening parpol koalisi meracik cawapres ideal potensial pendamping capres, sebab kalau salah maka bisa bunuh diri politik," ungkap Pangi.

Jika parpol koalisi keliru dan salah menggandeng cawapres, maka berpotensi mengerus elektabilitas capresnya.

"Dalam situasi ini, jika capres memilih cawapres yang tidak tepat, bisa jadi perolehan suara tidak akan mengalami peningkatan yang signifikan, bisa saja tidak terjadi trend pertumbuhan elektoral secara signifikan."

"Dua model yakni cawapres yang berhasil mentracing capres sehingga mendapatkan tambahan yang kontributif mengenjot elektabilitas capresnya atau justru dukungan modal elektoral yang sudah ada pada capres malah kian tergerus," ujarnya.

Menurut Pangi, setidaknya terdapat tiga kriteria penting dalam penentuan cawapres, yaitu modal elektabilitas (racikan elektoral), dukungan partai politik, dan ketersedian isi tas (modal logistik kampanye).

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved