Berita Alor
Mengenal Tifoltol Tradisi Tanam Baru Etnis Abui, Kampung Takpala Alor
lah satu ritual adat yang terkenal di kampung Takpala adalah ritual Tifoltol atau yang dikenal dengan istilah tanam baru.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Else Nago
POS-KUPAMG.COM, KALABAHI - Kampung Takpala merupakan salah satu ikon pariwisata Alor yang terletak di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor. Jaraknya kurang lebih 30-45 menit dari Kota Kalabahi, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.
Kampung Takpala telah dikenal dunia sejak tahun 1973, saat salah seorang Wisatawan Belanda memamerkan foto tentang kehidupan tradisional masyarakat Takpala.
Sejak saat itu semakin banyak wisatawan asing yang berkunjung ke kampung Takpala. Hingga pada tahun 1980, Takpala meraih penghargaan sebagai juara II desa paling tradisional di Indonesia.
Baca juga: Pemilu 2024, PPK Kecamatan Alor Tengah Utara Fasilitasi 90 Peserta Seleksi PPS
Kampung Takpala didiami oleh Etnis Abui. Etnis ini terbagi dalam 3 suku yakni Suku Awen atau raja, Suku Kapitan atau Panglima, dan Suku Marang yakni Pendoa, Perantara atau Komunikator.
Salah satu ritual adat yang terkenal di kampung Takpala adalah ritual Tifoltol atau yang dikenal dengan istilah tanam baru.
Menurut Anselmus Yetimau selaku anak dari tetua suku Marang, Abner Yetimau menjelaskan bahwa Ritual Tifoltol dilaksanakan saat bulan Purnama. Namun karena kampung Takpala telah dikenal hingga berbagai belahan dunia, maka ditentukanlah tanggal dilakukan ritual tersebut agar keluarga maupun pengunjung yang datang bisa ikut menyaksikan Tifoltol.
"Tifoltol sendiri berasal dari dua kata yakni Tifol yang artinya bambu dan tol yang artinya potong. Secara harfiah diterjemahkan sebagai potong bambu. Ritual ini dilaksanakan sebelum membuka kebun baru. Tujuannya adalah agar kebun dan pekerjaan kami diberkati sehingga membuahkan hasil yang baik," ujarnya, Selasa 24 April 2023.
Baca juga: Video Viral TikTok, Tutur Sejarah Adat Kawin-Mawin Kepala Suku Desa Takpala Kampung Adat di Alor.
Ritual ini dilakukan dengan menusukan bambu di mesbah yang berada di tengah kampung. Mesbah ini tersusun dari bebatuan dan merupakan tempat dilaksanakan ritual.
Selama prosesi adat, semua masyarakat akan melakukan tarian lego-lego mengelilingi mezbah tersebut. Lego-lego dilakukan sambil menyanyi dan berbalas pantun. Kegiatan ini tidak boleh putus hingga ritual selesai, dan dilakukan pada saat matahari terbenam hingga matahari terbit keesokan harinya.
"Karena malam panjang kita harus panggil orang tua yang bisa melakukan pantun, untuk saling berbalas pantun selama ritual adat. Pantun dan lego-lego ini tidak boleh putus selama ritual berlangsung," jelasnya.
Selain pantun, Ansel menuturkan ada jenis-jenis lagu yang durasinya pendek maupun durasinya panjang.
"Lagu panjang itu kami biasa disebutnya dengan lagu besar dinyanyikan saat tengah malam. Dalam bahasa Abui disebut Yai Foka. Saat jam 12 malam, lagu ini dinyanyikan. Orang yang tidak mengerti bisa merinding mendengar syair dan alunan lagu tersebut," katanya.
Pada saat bulan terbenam dan matahari akan terbit, tetua adat akan mengambil sumpah ritual.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kampung-Takpala-Alor-destinasi-wisata-di-Alor-Tengah-Utara.jpg)