Berita Kota Kupang
Prosesi Jalan Salib, Sahur di Perhentian Ketujuh
Saya harus bergerak lebih dulu. Takut terjebak macet. Saya mengikuti beberapa pemuda yang ikut dalam rombongan kecil menuju gereja GMIT Kota Kupang
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Semacam cobaan, merekam dan menulis kisah, yang dikisahkan dalam kesengsaraan lewat drama oleh Pemuda GMIT Klasis Kota Kupang sewaktu perayaan Paskah, Kamis 6-7 April 2023. Saya memang agak kaku menulis hal semacam ini.
Saya ditugaskan untuk meliput dari pukul 02.00 sampai 06.00 Wita. Tugas di jam ini memaksa saya harus tidur lebih awal, biar bisa bangun tepat jam. Tidak sia-sia, niat saya bangun awal terkabul.
Pukul 01.30 Wita saya berangkat dari rumah, di bilangan Matani, Penfui Timur Kabupaten Kupang. Saya meluncur ke Manutapen. Angin malam jadi teman saya sepanjang jalan.
Baca juga: Antusias Warga Ketika Jalan Salib Malam Hari di Kota Kupang
Sekitar 30 menit perjalanan, saya tiba. Saya bergerak ke gereja Sion, tempat perhentian ke lima. Sayangnya di tempat ini saya terlambat. Tidak bisa melihat dan merekam adegan ini lebih detail. Hasilnya saya hanya berbincang dengan masyarakat, sekedar untuk melihat respon mereka.
Saya lalu ke perhentian ke enam, di Gereja Imanuel Batukadera. Tumpukan jemaat dimana-mana, membuat sepanjang jalan cukup macet. Kendaraan harus pelan-pelan. Saya tiba di area pertunjukan sekitar pukul 03.00 Wita.
Adegan baru dimulai 30 menit setelahnya. Di tempat ini, mempertontonkan Yesus dihadapkan pada kaisar, sebelum diserahkan ke Pilatus. Yesus dituduh sebagai orang yang mengaku raja bagi orang Yahudi.
Baca juga: Dukung Prosesi Jalan Salib, Pemuda Muslim Kota Kupang Dorong Persatuan
Saya tidak bisa mendalami lebih banyak tentang adegan ini. Hanya sebentar drama itu dilangsungkan. Saya dari balik pohon pisang dekat panggung pertunjukan, hanya menatap lalu merekam dalam benak.
Sesaat sebelum berakhir, saya lalu meraih telepon genggam. Memotret lalu mulai mengingat kembali kisah yang baru saja dipertontonkan. Saya mencoba menulis sedetail mungkin apa saja yang tadi saya saksikan.
Setelah menulis dengan cukup. Saya kembali berbincang dengan sekelompok mama-mama. Kebetulan mereka di sebelah barat di pohon pisang, tempat saya berdiri. Mama-mama sedang bercerita mengikuti tiap etape kisah Yesus.
"Ini baru ada lagi setelah pandemi. Memang kalau kita mau ikut, benar-benar ya harus dari awal. Lihat bagaimana Yesus menyelematkan umat manusia," cerita seorang ibu lebih semangat. Perempuan berperawakan cukup tegas ini, rupanya pensiunan pegawai kehutanan.
Saya lebih banyak mendengar cerita para mama-mama. Pada dasarnya saya sedikit mengerti, tapi takut menyambung percakapan yang bagi saya, sangat berapi-api. Sekalipun itu pembicaraan ibu-ibu.
Sesekali saya tersenyum melihat cerita detail ibu-ibu. Mereka seperti benar menghayati tiap kisah dari sang juru selamat. Saya berpamitan dengan emak-emak 'rempong' ini.
Sebenarnya, tentang adegan drama atau orang biasa sebut Tablo, kalau di kampung saya Lewotolok, Lembata, sering saya nonton. Sejak kecil ini macam jadi film wajib tiap Paskah tiba. Tapi, saya masih saja takut menulis, sekalipun ingatan saya itu persis dengan yang dipentaskan.
Baca juga: Paskah 2023, Prosesi Jalan Salib VIII Pemuda GMIT Klasis Kota Kupang, Ini Kesan Para Tokoh Drama
Setelah mendengar cerita semangat para ibu-ibu. Saya lalu menuju ke perhentian ke-tujuh. Saya dengar dari ibu-ibu, perhentian ini akan terjadi di gereja GMIT Kota Kupang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/irfan-diapit-pemuda-gmit.jpg)