Minggu, 26 April 2026

Opini

Opini Don Kabelen: Hosana, Salibkanlah Dia!

Tampilnya seorang pemimpin siapapun dia tetap menghadirkan dikotomi. Dikotomi antara kelompok pendukung dan penentang.

Editor: Alfons Nedabang
WIKIPEDIA
Para algoju membawa Yesus menghadap Pontius Pilatus sebelum disalibkan. Staf STAKN Keuskupan Agung Kupang Don Kabelen menulis opini: Hosana...Salibkanlah Dia. 

POS-KUPANG.COM - Tampilnya seorang pemimpin siapapun dia tetap menghadirkan dikotomi. Dikotomi antara kelompok pendukung dan penentang.

Kelompok pendukung mempertahankan pemimpinnya dan kelompok penentang bertindak sebaliknya, berusaha menggagalkan didasari alasan tertentu. Karakteristik kelompok demikian bukan hal baru di muka bumi ini, melainkan warisan leluhur.

Kitab Suci menampilkan warna dasar yang sama tentang hal di atas. Hal itu tercermin ketika Yesus tampil pada zamannya. Bagi para pendukung, reformasi yang dilakukan Yesus lewat karya-karyaNya sepantasnya disyukuri, didukung dan dipertahankan.

Sehingga tatkala Dia dengan segala kebesaran memasuki kota Yerusalem terdengar sorak-sorai pujian membahana.

Tanpa sungkan orang membentangkan pakaian di jalan dan menyerukan.: “Hosana bagi anak Daud, terberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Hosana di tempat yang maha tinggi”.Seruan itu untuk Yesus pemimpin baru.

Kehadiran pemimpin baru pada konteks di atas adalah sebuah soal. Persoalan menjadi besar bila terjadi pembiaran.

Baca juga: Opini Isidorus Lilijawa: Pro Kontra Rombengan

Pembiaran ini memungkinkan pemimpin lama yang segera kehilangan kekuasaan, mencari cara melanggengkan kekuasaannya dan kepentingannya dan melakukan provokasi negative untuk menjatuhkan pemimpin yang baru.

Tidak hanya itu. Rekayasa dibangun sedemikian rupa untuk sampai kepada keputusan: bersalah dan karena itu harus disalibkan.

Pemimpin lama dengan kroni-kroninya berjuang terus membentuk opini publik. Perjuangan membuahkan hasil. Euforia sukacita pada pemimpin baru lenyap seketika.

Di meja pengadilan rakyat bukan lagi mengagung-agungkan kedatangan Tokoh Pembaharu dunia ini malah sebaliknya seperti orang kerasukan mereka lantang berteriak: “Salibkanlah Dia”.

Hukum salib dan kematian Yesus menjadi kedukaan bagi orang-orang yang mencintaiNya, mengagumi diri-Nya, pikiranNya, karya-Nya. Dapat dimengerti, bersama kematianNya mati pula pembaharuan yang diidam-idamkan.

Sementara bagi kaum oposisi, kematian Yesus merupakan kemenangan besar sebab tidak ada lagi gangguan yang datang. Kematian Yesus melapangkan jalan hidup orang-orang yang sedang haus kekuasaan.

Kematian Yesus juga menjadi sebuah pesan bagi orang yang suka mengutak-atik kekuasaan bahwa nasibnya pun tidak akan lebih baik dari yang dialami Yesus.

Artinya, tidak ada ampun bagi siapa saja yang coba-coba mengganggu tatanan yang sudah dibangun. Nasibnya akan sama, yang membedakan cuma soal waktu.

Baca juga: Opini Yohanes Bura Luli: Menjaga Marwah Politik Pemilu

Mengkilas balik ziarah kepemimpinan pemimpin bangsa ini dari orde ke orde, langgam kepemimpinan mereka sama saja. Bila digeneralisir dalam tataran salib para pemimpin negara ini memiliki nada dasar yang sama.

Sorak-sorai membahana ketika tampil sebagai pemimpin. Betapa anggunnya mereka ketika turun dari kendaraan mewah menggantikan keledai, pakaian yang jadi alas tapak kaki berubah rupa menjadi karpet mahal membentang di jalan, tapi toh caci maki dan umpatan-umpatan tidak manusiawi jadi kredo di akhir kepemerintahan.

Kita lihat, Presiden pertama Soekarno. Siapa yang tidak bangga dengannya? Tetapi akhirnya ia harus hidup dalam keterasingan dan dikubur ala rakyat biasa.

Soeharto, diobok-obok di sisa hidupnya. Kalau sebelumnya para pemimpin ini dipilih oleh para wakil rakyat yang terhormat dikelilingi sahabat kenalan serta mitra kerja atau kroni-kroni diakhir waktu satu persatu hilang tanpa jejak.

Seperti Petrus menyangkali Gurunya di taman duka, demikian pula orang-orang kepercayaan, mereka menyanggah tuduhan dengan satu kata kunci: semuanya menurut petunjuk yang di atas.

Orang-orang dekat ini tidak mengakui keterlibatan mereka bahkan ramai-ramai mencuci tangan. Tak satu pun secara kesatria mengakui dirinya ikut memprosesi kesalahan itu.

Langgam kepemimpinan seperti ini terus berlanjut pada kepemimpinan Gus Dur. Krisis kepemimpinan serta esensi dan eksistensi kekuasaannya diutak-atik untuk menggapai sebuah keputusan: bersalah dan karena itu harus disalibkan.

Baca juga: Opini Verry Guru: Belajar dari Petrus dan Yudas Iskariot

Ibu Megawati juga tak kalah garang ‘diganggu’. Kesetaraan hak laki-laki dan perempuan dibungkam dengan hegemoni bahwa perempuan adalah kaum kelas dua dan tidak dibenarkan menjadi seorang pemimpin apalagi memerintah kaum laki-laki. Itu aneh, dan karenanya ruang geraknya harus dibatasi.

Gus Dur maupun Ibu Megawati tidak pernah merasa nyaman ketika berada di singgasana. Berbagai cercaan yang dialamatkan kepada mereka tak lain sebuah litani dosa untuk membenarkan serta meyakinkan publik bahwa baik Gus Dur maupun Megawati adalah insan yang tidak pantas menjadi seorang pemimpin. Mereka bukanlah tokoh yang mampu merubah negeri ini.

Harapan kembali tertuju kepada Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang diyakini mampu mengantar bangsa ini keluar dari jurang kehancuran menuju pada kehidupan yang makmur, adil dan beradab. Keterpilihan SBY ditangani langsung oleh rakyat.

Rakyat tidak mau lagi dikibuli para wakilnya di Senayan, karena menurut rakyat, kerterpilihan seorang pemimpin dari Senayan selalu mengutamakan kepentingan primordial, dengan mengesampingkan suara rakyat pun menanggalkan kepentingan rakyat banyak.

Namun apa yang terjadi? SBY yang digadang-gadang mampu membawa pencerahan dan pada galibnya tetap disanjung ketika turun dari jabatan nyatanya setali tiga uang. SBY dinilai bukan orang yang pas untuk melakukan reformasi di negeri ini.

Baca juga: Opini Yohanes Mau: Memonitoring Politisi Menjaring Pemimpin Berkualitas

Pemimpin yang satu ini dicap gagal karena bersama beliau korupsi merajalela dan justeru dilakukan orang-orang dekatnya. Orang-orang dekatnya menggunakan waktu dan ruang untuk menghancurkan citra SBY.

Orang-orang kepercayaan justeru bertabiat Yudas Iskariot melambungkan slogan bahwa pemimpin yang selalu disanjung ini adalah figur yang Cuma mampu menumbuh-suburkan korupsi bukan sebaliknya. Kata lain, Presiden ke-6 RI ini tidaklah lebih baik dari para pendahulunya. Kehadiran beliau dianggap sebagai sebuah kesalahan dan karenanya harus disalibkan.

Siapakah tokoh yang paling tepat? Para pemimpin di atas diambil dari tengah-tengah kita, anak bangsa negeri sendiri. Keterpilihan mereka karena maunya kita.

Dapat dikatakan tampilnya mereka adalah representasi diri kita. Oleh karena itu, kalau awalnya kita sendiri memandang mereka mampu, berkualitas, memenuhi syarat jadi seorang pemimpin tetapi akhirnya kita sendiri mengatakan bahwa mereka bukanlah seorang pemimpin yang pas bahkan berani menggagalkan atau bersikap apatis terhadap kebijakan mereka maka sangat tidak proporsional kalau cuma mereka yang dikambinghitamkan, melainkan diri sendiripun layak dipersalahkan.

Kegagalan mereka adalah kegagalan kita sebab semua pemimpin kita adalah cermin dari rakyat. Bila kita berani mencerca mereka, maka sesungguhnya kita mengkritik diri sendiri, menghujat sifat-sifat negatif mereka sama artinya dengan menertawakan ketololan diri sendiri.

Baca juga: Opini Dony Kleden: Sesat Pikir Politik Pendidikan di NTT

Rupanya kita sedang dirasuki roh dari filsuf Jean Paul Sartre. Tidaklah mengherankan improvisasi untuk menghadirkan sebuah salib akan berlanjut terus.

Orang semakin haus akan pembantaian dan bukanlah sebuah keanehan bila kita menemukan hal-hal aneh dalam hidup kita. Sebab menurut Sartre, kehadiran orang lain mendatangkan dosa bagi orang-orang memandangnya dan karenanya perlu disingkirkan.

Terkini, roh pembaharuan disematkan ke Jokowi, Dipundaknya, presiden kita diharapkan mampu membawa perubahan dilanda kegembiraan dengan terpilihnya Jokowi jadi pemimpin negeri ini.

Euforia merebak karena diyakini pemimpin karismatik ini yang lazim diidentikan sebagai ‘pemimpin blusukan’ lantaran rajin turun turun ke tengah masyarakat mampu memberikan bukti bukan janji.

Inilah yang sedang kita tunggu, apakah pemimpin ke-7 negeri ini nantinya juga disalibkan seperti pendahulunya atau presidenyang mampu mematahkan pemikiran Sartre? (Penulis adalah Staf STIPAS Keuskupan Agung Kupang)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved