Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Opini Dony Kleden: Sesat Pikir Politik Pendidikan di NTT

Perlu pak Gubernur dan para kelompok Pro pahami bahwa sesungguhnya tidak ada hubungan korelatif antara kedisiplinan dan bangun pagi-pagi.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
www.freepik.com
Ilustrasi cara berpikir. Dosen dan Antropolog di Unika Weetebula, Sumba Barat Daya Dony Kleden menulis opini Sesat Pikir Politik Pendidikan di NTT. 

POS-KUPANG.COM - Pahlawan nasional Tan Malaka memberi pesan yang sangat baik untuk kita di segala saman. Dia mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan dan memperhalus perasaan.

Wacana masuk sekolah Pukul 05.30 oleh Gubernus Viktor Laiskodat menuai pro kontra. Bagi saya, pro kontra akan sesuatu yang baru itu sangat wajar dan memang demikian karena kebijakan apa pun, dia selalu bersifat dinamis. Juga menjadi wajar karena pro kontra itu juga pada dirinya sendiri menjadi bagian dari proses edukasi dan sosialisasi.

Tetapi persoalan saya bukan di proses pro dan kontra ini. Persoalan bagi saya adalah rasionalitas di balik kebijakan aneh ini.

Perlu pak Gubernur dan para kelompok Pro pahami bahwa sesungguhnya tidak ada hubungan korelatif antara kedisiplinan dan bangun pagi-pagi. Tidak ada hubungan korelatif antara kualitas sebuah Pendidikan dengan bangun pagi dan ke sekolah pagi-pagi.

Dengan kata lain, saya mau katakan bahwa mutu dan kedisiplinan dalam Pendidikan tidak terletak di waktu pagi atau siang atau malam.

Baca juga: Opini Prof Feliks Tans: Surat Terbuka Kepada Gubernur NTT, Menciptakan Sekolah Unggul

Mengapa? Karena entitas kedisiplinan dan mutu sebuah Pendidikan terletak pada konteks dan konten. Mutu dan kedisiplinan hanya berkorelasi dengan produktivitas. Jangan kalian sesat pikir.

Kedisiplinan dan Mutu Pendidikan

Pemerintah Indonesia dan NTT khususnya, sangat perlu belajar bagaimana mengelolah pendidikan dengan baik dan banar, dengan bercermin pada Pendidikan di Finlandia dan Jepang.

Finlandia adalah negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Selain itu Finlandia juga menjadi negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia.

Menurut data dari PISA, Finlandia menjadi satu-satunya negara yang dimana siswanya memiliki kemampuan literasi dan tingkat harapan hidup yang tinggi.

Hal tersebut dikarenakan Finlandia memiliki kehidupan yang seimbang antara sekolah dan kegiatan sehari-hari.

Di Finlandia juga siswa dibebaskan mengikuti beragam ekskul, dan tidak membolehkan KBM di sekolah lebih dari 5 Jam sehari agar anak-anak mempunyai intimitas emosi dengan orang tua dan keluarga.

Ini juga merupakan bagian pembinaan karakter dan kecerdasan emosional yang sudah mulai ditata sedari awal.

Sementara itu, di Jepang kedisiplinan pada anak-anak tidak dilekatkan pada waktu, karena bagi orang Jepang, waktu hanyalah pilihan diri yang tidak korelatif dengan kedisiplinan diri apalagi mutu sebuah pendidikan.

Berdasarkan hasil survey tahunan dari Best Country Report yang diselenggarakan oleh US News and World Report, BAV groups, dan The Wharton School of the University of Pennsylvania, Jepang menduduki peringkat ke 7 dalam negara dengan sistem Pendidikan terbaik pada tahun 2021.

Baca juga: Opini Yahya Ado: Seandainya Saya Gubernur NTT

Yang disasar oleh pemerintah Jepang adalah pendidikan karakter. Tiga tahun pertama di sekolah dasar, anak-anak dididik tentang Pendidikan karakter dalam segala bidang. Itu juga menjadi alasan mengapa orang Jepang sangat menjaga dan memperjuangkan integritas moral mereka.

Integritas moral itu membuat mereka selalu merasa aib bagi diri kalau ada kesalahan yang dibuat seperti korupsi, asusila dan segala perbuatan immoral lainnya.

Orang Jepang tidak segan-segan mengakhiri hidup mereka secara pribadi kalau mereka merasa bahwa integritas moral mereka tercoreng. Hal yang demikian ini sangat berbeda dengan yang di Indonesia.

Kita salalu menyibukan diri dengan hal-hal yang remeh temeh sebagaimana yang sedang digagas oleh pemerintah NTT ini lalu tidak memahami permasalahan dasar dari sebuah pendidikan.

Akibatnya, tingkat imoralitas di NTT dan Indonesia pada umumnya masih tergolong tinggi. Hemat saya, ini semua terjadi karena disain model Pendidikan kita yang keliru.

Suwidi (2022), dalam harian kompas memberikan catatan dan peringatan yang sangat baik buat kita orang NTT. Dia mengatakan bahwa capaian pendidikan kita masih jauh dari memuaskan.

Indikator universal, seperti penilaian yang mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun di bidang literasi, matematika, dan sains (Programme for International Student Assessment) menunjukkan posisi stabil bertahan rendah selama 2000-2018.

Baca juga: Opini Henry Bouk: Memaknai Ruang-Waktu 05.00 Per Argumentum Ad Baculum

Sebangun dengan hasil itu, kemampuan literasi dan numerasi penduduk usia 16-65 tahun dalam survei Programme for the International Assessment of Adult Competencies tahun 2018 dan terbatas hanya di DKI Jakarta juga menghasilkan fakta memprihatinkan. Kita berada di lapisan peringkat terbawah, tertinggal sangat jauh dari negara lain.

Potret buram ini mengindikasikan kelambanan dalam merespons rendahnya kualitas pendidikan yang semestinya disadari sebagai sinyal bahaya dan ancaman bagi kemajuan bangsa.

Juga ketidaktepatan arah dan kebijakan mencerdaskan kehidupan bangsa yang semestinya bertumpu pada rasionalitas, karakter, kekayaan dan kearifan lokal.

Selanjutnya, bagi Suwidi, yang terpenting dari mengambil kebijakan dalam Pendidikan adalah memahami substansi Pendidikan kita, bagaimana seyogianya akal budi anak-anak bangsa diolah dan dikelola.

Basis pendidikan substansial adalah pembenihan dan pengembangan otoaktivitas secara optimal untuk melahirkan pribadi otonom.

Hemat saya, pemahaman dasar ini harus ada di kepala kita semua, termasuk pemerintah NTT yang tengah mewacanakan masuk sekolah jam 5.30 dengan dasar yang tidak substansial.

Sistem Pendidikan yang baik tentu akan menghasilkan output yang baik pula. Metode belajar siswa Finlandia dan Jepang, kiranya menjadi cermin besar buat kita semua dan pemerintah NTT, agar tidak sesat pikir dalam mengambil kebijakan. (Penulis adalah Dosen dan Antropolog di Unika Weetebula, Sumba Barat Daya)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved