Minggu, 14 Juni 2026

Artikel Kesehatan

Kenali Kanker Nasofaring, Si Pembunuh Tersembunyi

Terdapat berbagai macam jenis kanker yang dapat menyerang tubuh manusia. Salah satunya kanker nasofaring.

Tayang:
Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/DOK PRIBADI
Artikel kesehatan Kenali Kanker Nasofaring, Si Pembunuh Tersembunyi oleh dr Grace Eka Putri Rambu Hoy Anggung Praing 

Ada beberapa pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mengetahui kanker nasofaring. Jika sudah didapati gejala-gejala seperti diatas, hendaknya segera memeriksakan diri ke dokter, terutama dokter spesialis THT-KL.

Pemeriksaan hidung bagian depan dan belakang, serta pemeriksaan tenggorok secara langsung maupun dengan endoskopi akan dilakukan oleh dokter sebagai pemeriksaan awal.

Pemeriksaan radiologi berupa foto rontgen dan CT-Scan dilakukan untuk melihat penyebaran keganasan ke organ yang lain. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan yakni pemeriksaan darah untuk melihat sistem kekebalan tubuh terhadap adanya infeksi dari virus Epstein-Barr melalui pemeriksaan darah IgA anti VCA dan IgA anti EA.

Pemeriksaan ini memiliki tingkat sensitifitas dan spesifitas yang tinggi untuk mendiagnosa kanker nasofaring, meskipun pemeriksaan ini belum tersedia di semua rumah sakit di Indonesia.

Standar baku dalam pemeriksaan kanker nasofaring adalah pemeriksaan biopsi atau pengambilan jaringan yang dicurigai mengalami keganasan.

Baca juga: RSUD Umbu Rara Meha Waingapu Kembali Raih Akreditasi Paripurna

Biopsi yang dilakukan dapat dilakukan melalui mulut maupun hidung. Setelah jaringan diambil, kemudian akan diperiksa lebih lanjut di laboratorium untuk mengetahui apakah terjadi perubahan sel pada jaringan yang diambil.

Setelah dilakukan pemeriksan dan didapati hasilnya, maka dapat ditentukan stadium dari kanker nasofaring dan pengobatan yang dapat dilakukan.

Stadium pada kanker nasofaring dimulai dari stadium 1 hingga stadium 4. Sementara ini, pengobatan yang dapat diberikan kepada pasien dengan kanker nasofaring berupa terapi radiasi, kemoterapi, pembedahan, dan obat-obatan.

Kanker nasofaring memiliki tingkat kekambuhan yang cukup tinggi pasca pengobatan yang sudah diberikan. Kekambuhan sering kali terjadi antara 5 – 10 tahun.

Oleh karena itu, para penderita kanker nasofaring yang sudah melakukan pengobatan hingga tuntas tetap perlu diperiksa secara rutin, setidaknya 10 tahun setelah terapi yang diberikan.

Oleh karena kanker nasofaring tidak memiliki gejala yang khas dan Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki angka kejadian kanker nasofaring yang cukup tinggi, sebaiknya kita berusaha untuk mencegah terjadinya kanker nasofaring.

Walapun faktor genetik memiliki peranan penting dalam terjadinya kanker, namun kita dapat berusaha untuk mengurangi kemungkinan terjadinya dengan melakukan apa yang dapat dilakukan, seperti penggunaan masker jika berada di tempat yang penuh dengan asap dan polusi udara, menghindari kebiasaan mengkonsumsi makanan yang menggunakan bahan pengawet, tidak mengkonsumsi makanan yang masih sangat panas, dan menjaga kesehatan tubuh agar terhindar dari penyakit melalui pola hidup yang sehat seperti mengkonsumsi makanan yang sehat, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved