Berita Lembata

Warga Lembata, Jangan Asal Tebang Pohon di Pesisir, Bisa Jadi Itu Bakau, Bedakan Jenisnya

Fenomena ini pun dia temukan di pesisir Desa Kolontobo, salah satu wilayah di kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/RICKO WAWO
Peneliti lingkungan Piter Pulang menemukan banyak masyarakat belum mengetahui jenis-jenis tanaman bakau yang banyak tumbuh di pesisir. Walhasil, karena ketidaktahuan ini, warga bisa saja asal menebang tanaman tersebut karena disangka tanaman biasa yang tidak punya pengaruh pada ekosistem sekitar. Fenomena ini pun dia temukan di pesisir desa Kolontobo, salah satu wilayah di kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Peneliti lingkungan Piter Pulang menemukan banyak masyarakat belum mengetahui jenis-jenis tanaman Bakau yang banyak tumbuh di pesisir.

Walhasil, karena ketidaktahuan ini, warga bisa saja asal menebang tanaman tersebut karena disangka tanaman biasa yang tidak punya pengaruh pada ekosistem sekitar. Fenomena ini pun dia temukan di pesisir Desa Kolontobo, salah satu wilayah di kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata.

Piter Pulang, yang sedang mengidentifikasi tanaman Bakau di Lembata, memaparkan, setidaknya ada empat zonasi kawasan tanaman bakau yaitu, zona depan (area terbuka), zona tengah, zona berair payau atau berair tawar dan zona nypa yang berada di daratan. Nah, banyak orang yang tidak tahu kalau tanaman yang berada di zona nypa adalah bagian dari bakau (mangrove), sehingga banyak yang ditebang. Seperti yang terjadi di pesisir pantai Kolontobo.

Baca juga:  Antisipasi Gagal Panen, Pemerintah Lembata Siapkan Beras Cadangan

“Zona depan itu berhadapan dengan abrasi dan gelombang. Zona tengah itu lumpur halus dan zona nypa itu biasanya sudah ada campuran tanah dan karakteristik pantai. Jadi, dia memfilter semua yang dari darat sebelum masuk ke laut. Itu manfaat dari zona nypa,” kata Piter Pulang saat dihubungi, Senin, 16 Januari 2023.

Yang perlu diedukasi kepada masyarakat, kata dia, adalah wilayah zona nypa itu juga masih satu kesatuan dengan kawasan hutan Bakau.

“Memang ada kalanya masyarakat melihat zona nypa itu tidak jadi bagian dari kawasan Bakau. Mereka anggap itu semak-semak belukar biasa saja,” paparnya.

Padahal keberadaan zona nypa cukup vital dari suatu ekosistem pantai yakni menyaring limbah atau zat dari banjir di daratan sebelum sampai ke laut.

Lebih lanjut, Piter mengatakan tanaman pada zona nypa termasuk tumbuhan santigi dan bahkan beluntas (Pluchea indica Less) yang bisa menjaga sanitasi air laut dari kadar alkali yang dibawa oleh banjir dari darat.

“Kita perlu mengedukasi masyarakat bahwa ini satu kesatuan. Tanaman-tanaman itu perlu dijaga sebagai bagian dari satu ekosistem laut,” imbuhnya.

Baca juga: Curah Hujan Rendah, Tanaman Jagung Petani di Lembata Mulai Layu

Tanaman tersebut sangat berguna menyerap semua jenis logam berbahaya dan membuat kualitas air menjadi lebih bersih. Selain itu mangrove juga membantu alam dalam mendapatkan kualitas udara yang lebih baik dan bersih.

Warga Desa Kolontobo, Philipus Payong, sempat geram melihat adanya tanaman santigi dan beluntas yang ditebang di pesisir pantai Kolontobo. Untuk bisa menanam dan merawat tanaman santigi pun butuh waktu yang lama. Keberadaan tanaman tersebut sangat vital menjaga ekosistem laut jadi seharusnya dirawat, bukannya ditebang.

Sedangkan, Kepala Desa Kolontobo Lambertus Nuho, berujar warga yang memotong pohon tersebut kemungkinan tidak mengetahui manfaat sesungguhnya dari santigi dan beluntas di ekosistem pantai. Dia memastikan pemerintah desa tetap punya komitmen untuk melestarikan lingkungan di pesisir Kolontobo. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved