Berita Flores Timur
Idap Thalassemia Mayor, Remaja di Flores Timur Jalani Transfusi Darah Sejak Bayi
Lantaran mengidap sakit langka dan berbahaya, Mikael harus menjalani transfusi darah setiap bulan demi menyelamatkan nyawanya.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kebelen
POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Kasihan melihat kondisi Fransiskus Mikael Hurit (17), remaja asal Desa Sinamalaka, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupeten Flores Timur, Pulau Flores pengidap thalassemia mayor atau kelainan darah sejak usianya baru delapan bulan.
Lantaran mengidap sakit langka dan berbahaya, Mikael harus menjalani transfusi darah setiap bulan demi menyelamatkan nyawanya. Transfusi darah golongan A tersebut sudah berlangsung sejak usianya baru delapan bulan pasca terdiagnosa pihak medis.
Putra kelahiran 21 April 2005 dari pasangan Lambertus Enga Hurit (ayah) dan Maria Magdalena Koten (ibu) tak menyangka penyakit itu merenggut keindahan masa kecih hingga usianya remaja.
Baca juga: DPRD Minta Pemda Flores Timur Akomodir Anggaran untuk Bayar Hak Nakes
Ibu kandungnya, Magdale Koten mengatakan, pasca putranya terdiagnosa penyakit thalassemia mayor, membuat pertumbuhan fisiknya terhambat. Putranya bak masih bocah kendati usianya sudah remaja.
"Sakit dari umurnya 8 bulan pak. Waktu bulan Desember 2005, kami bawa ke rumah sakit untuk berobat. HB nya turun sampai 2 jadi langsung donor darah," ujarnya kepada wartawan di rumahnya, Rabu 23 November 2022.
Setelah berobat di RSUD dr Hendrikus Fernandez Larantuka, kondisi Miakel semakin parah membuatnya dirujuk ke RSUD dr TC Hillers Maumere awal tahun 2006 silam.
"Rujuk Maumere pas umur satu tahun dua bulan. Dari situ transfusi darah lancar setiap bulan sampai sekarang. Kami bolak balik Maumere, kadang Larantuka," katanya.
Baca juga: Penjabat Bupati Flores Timur Apresiasi Dedikasi Guru di SLB Weri Larantuka
Magdalena berujar, biaya pengobatan mahal ditambah ongkos transportasi pergi-pulang dari rumah menuju rumah sakit membuat tabungan terkuras habis. Upah Magdalena sebagai guru TKK Rp 250 ribu perbulan dan pendapatan suami sebagai petani ladang tentu tidak mencukupi biaya pengobatan.
Lantaran terdesak, Magdalena dan Lambertus terpaksa menggadaikan lahan mente ke seorang anggota DPRD. Uang hasil gadai lahan itu untuk biaya pengobatan sang buah hati ke Kota Jakarta.
"Sampai sekarang belum sembuh. Kami juga sudah berobat secara alternatif tapi belum ada perubahan sama sekali. Setiap bulan tetap cuci darah, bahkan HB nya pernah turun sampai 1," ucapnya sambil berlinang air mata.
Akibat sakit langkah yang diderita, Miakel hanya dibolehkan beraktifitas di halaman rumah dengan perkiraan luas 15x15 meter persegi. Dia tidak diijinkan bermain terlalu lama lantaran sering jatuh pingsan. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS