Pilpres 2024
Airlangga Hartarto Makin Kuat, Tapi Lebih Kuat Kalau Jadikan Ganjar Pasangan Calon Presiden
Airlangga Hartarto kini menguat pasca KTT G20 di Bali. Namun sosok itu akan semakin menguat kalau menjadikan Ganjar Pranowo sebagai Calon Presiden RI.
POS-KUPANG.COM - Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar kini semakin menguat pasca KTT G20 di Bali, Selain karena G20 merupakan ajang pembahasan ekonomi dunia, mesin politik Golkar juga langsung tancap gas.
Ini terlihat dari hasil survel lembaga-lembaga survei yang dilakukan belakangan ini. Hasil jajak pendapat Indonesia Network Election Survei (INES) memperlihatkan Menko Perekonomian itu paling dipilih responden menjadi presiden.
Menguatnya Airlangga Hartarto itu akan semakin tak tertandingi kalau Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) menjadikan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden dan Airlangga sebagai cawapres.
Namun hasil jajak pendapat INES berbeda dengan yang dipublikasikan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Baca juga: Airlangga Hartarto Raih Manfaat dari KTT G20, Herry Mandrofa: Ini Jembatan ke Pilpres 2024
Temuan lembaga survei ini justeru memperlihatkan sosok Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo lebih unggul dari calon yang lain, baik Prabowo Subianto, Anies Baswedan pun Airlangga Hartarto.
Perbedaan hasil survei itulah kemudian diuraikan secara cermat oleh Founder dan CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali.
Dia menyebutkan, berbedanya hasil survei tersebut disebabkan oleh sejumlah aspek.

"Pertama momentum pelaksanaan survei. Survei bulan Januari, misalnya, hasilnya pasti beda dengan bulan Februari, Maret, dan seterusnya."
Hal ini dibeberkan oleh Hasanuddin saat acara diskusi bertajuk "Analisis Hasil Survei: Mengapa Bisa Beda?", di Upnormal Coffee, Cikini, Jakarta Pusat.
Kemudian, metode pengambilan sampel juga akan menentukan hasil survei tersebut. Aspek ketiga yang mempengaruhi adalah bentuk pertanyaan yang diajukan lembaga survei kepada responden.
Hasanuddin mengatakan, meski hasil survei memperlihatkan perbedaan antara yang satu dengan yang lain, tetapi hal itu tak perlu ditanggapi secara berlebihan.
Direktur Eksekutif Indonesia Network Election Survei (INES), Nugraheni Kartika Dewi pun membeberkan alasan mengapa survei yang dilakukan memperlihatkan hasil yang berbeda.
Aspek metodologi yang dilakukan, adalah salah satu faktor yang melatarbelakangi perbedaan tersebut.
Selama ini, katanya, INES menggunakan pendekatan kuantitatif. Tujuannya agar hasil penelitian mendapatkan data komprehensif yang mampu memberikan gambaran dalam bentuk nominal yang terukur dan akurat.
Ada pun teknik pengumpulan data yang digunakan, antara lain mengunakan angket berupa kuisioner yang diikuti dengan observasi.
Baca juga: Airlangga Hartarto Tak Terpengaruh Langkah Surya Paloh Deklarasikan Anies Baswedan