Selasa, 19 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Jumat 18 November 2022, RumahKu Adalah Rumah Doa.

Renungan Harian Katolik berikut disiapkan oleh Bruder Pio Hayon SVD dengan judul RumahKu Adalah Rumah Doa.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RENUNGAN - Bruder Pio Hayon SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik untuk hari Jumat 18 November 2022 dengan judul RumahKu Adalah Rumah Doa. 

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik berikut disiapkan oleh Bruder Pio Hayon SVD dengan judul RumahKu Adalah Rumah Doa.

Bruder Pio Hayon menulis Renungan Harian Katolik ini dengan merujuk bacaan pertama Wahyu 10: 8-11, dan bacaan Injil Lukas 19: 45-48.

Di akhir Renungan Harian Katolik ini disediakan pula teks lengkap bacaan Jumat 18 November 2022 beserta mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil.

Ibu Bapak, saudari/a terkasih dalam Kristus.

Kisah bacaan suci hari ini mengajak kita untuk melihat lebih jauh tentang doa dan pewartaan.

Kedua hal ini menjadi tugas utama dari semua orang Kristen yang menyebut diri sebagai pengikut Kristus dan anak-anak Allah.

Dalam bacaan pertama, Yohanes dalam kitab Wahyu masih memberi kesaksian tentang penglihatannya secara khusus tentang permintaannya kepada Malaikat supaya memberinya gulungan kitab itu dan kitab itu diberikan dan Yohanes mengambil dan memakannya seperti yang diperintahkan oleh Malaikat. “Rasanya manis seperti madu dalam mulut tetapi pahit dalam perut”.

Memakan gulungan kitab menjadi simbol akan sabda Tuhan dalam gulungan kitab itu telah mandarah daging atau menyatu dengan
Yohanes.

Yohanes dalam kitab Wahyu ini mau mengajarkan kepada kita akan kewajiban kita sebagai murid-murid Tuhan untuk selalu bersatu dengan Firman Tuhan bahkan sudah menyatu dalam darah dan daging kita supaya apa yang kita wartakan adalah juga apa yang kita hidupi dalam hidup kita.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 18 November 2022, Yesus Marah

Sedangkan dalam Injil, Lukas mengisahkan tentang Yesus yang menghardik orang-orang yang berjualan di bait Suci.

Yesus mengusir semua pedagang di situ dan berkata, “Rumahku adalah rumah doa. Tetapi kalian telah
menjadikannya sarang penyamun!”

Dalam konteks ini, Yesus sangat keras dan tegas ketika berhadapan dengan mereka yang berjualan di bait Suci.

Ketika ini dikaitkan dengan sabda Yesus tengtang Bait Suci adalah juga simbol DiriNya (tubuh) yang akan mati dan bangkit sesudah tiga hari, maka Yesus pada kesempatan ini memberi kritik kepada kita yang masih salah menggunakan tubuh bait suci kita (sebagai tempat berdiamnya Roh Tuhan) dan menjadi cemar.

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus.

Menjadi pewarta sabda adalah tugas utama para murid Tuhan. Dan untuk menjadi pewarta Sabda pertama-tama harus menjadi satu (daging) dengan Sabda itu sendiri yang dalam Bahasa kitab Wahyu, Yohanes memakan gulungan Kitab suci itu supaya menjadi satu dalam dirinya.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved