Berita Flores Timur

Asa Para Nelayan di Ujung Timur Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur

Penampakan yang sama terjadi pada beberapa kapal yang perlahan merapat ke darat setelah semalaman di tengah laut.

Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/DIONISIUS REBON
Pose Kampung Nelayan di Desa Motonwutun, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (Foto diambil dari atas bukit) 5 September 2022. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Hari itu langit cerah. Mentari bercokol di puncak langit. Panas menyengat tanpa ampun. Beberapa orang nelayan di pesisir pantai Desa Motonwutun, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tampak sibuk membersihkan pukat dan peralatan penangkapan ikan lainnya.

Tepat di sebuah perahu, enam orang nelayan sedang membongkar hasil tangkapannya. Sedangkan 5 orang pembakul atau pedagang ikan (ibu-ibu) berdiri di dalam laut setinggi pinggang orang dewasa menerima ikan yang sudah diisi dalam wadah berukuran besar kemudian dijunjung menuju ke pantai.

Penampakan yang sama terjadi pada beberapa kapal yang perlahan merapat ke darat setelah semalaman di tengah laut.

Para pembakul tampak berebutan berlari di dalam laut menuju ke kapal dengan wajah ceria.

Belasan orang anak-anak berusia 2 hingga 4 tahun tampak bermain pasir di tepi pantai. Mereka berlari -lari kecil menyusuri pesisir pantai menanti orangtuanya.

Kondisi Ekonomi Keluarga Nelayan

Senin, 5 September 2022, Pukul 11.00 Wita kala itu, penulis berusaha menyambangi beberapa nelayan untuk berdialog mengenai kondisi kehidupan para nelayan di Desa Motonwutun.

Tanpa sengaja penulis berkesempatan berbincang-bincang dengan seorang nelayan bernama Abubakar Burhan (50).

"Saya setiap hari pergi melaut dengan peralatan seadanya," ucap Abubakar Burhan membuka percakapan kami.

Meskipun setiap hari pergi melaut untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak-anak namun, kenyataan pahit harus diterima olehnya.

Anak pertama pasangan Abubakar Burhan dan Rusmini Abubakar (48) harus menelan pil pahit dalam mengenyam pendidikan. Pasalnya, anak pertama pasangan suami-isteri ini tidak menuntaskan pendidikan tingkat Sekolah Dasar.

perahu kayu sederhana yang digunakan para nelayan
Tampak perahu kayu sederhana yang digunakan para nelayan untuk melakukan penangkapan ikan dengan sistem penangkapan terukur ( foto diambil dari ujung jembatan Kampung Nelayan, Desa Motonwutun).

Sedangkan anak kedua mereka hanya menuntaskan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi akibat keterbatasan ekonomi.

Terdesak oleh kondisi ekonomi yang kurang beruntung, kedua orang anak Abubakar Burhan ini kemudian memutuskan merantau ke Pulau Kalimantan untuk memperbaiki kehidupan keluarga mereka.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved