Sabtu, 2 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 31 Oktober 2022, Hidup Saling Mengutamakan

Renungan Harian Katolik berikut disiapkan oleh RP. Markus Tulu SVD dengan judul Hidup Saling Mengutamakan.

Tayang:
Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RENUNGAN - RP. Markus Tulu SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik untuk hari Senin 31 Oktober 2022, dengan judul Hidup Saling Mengutamakan. 

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik berikut disiapkan oleh RP. Markus Tulu SVD dengan judul Hidup Saling Mengutamakan.

RP. Markus Tulu SVD menulis Renungan Harian Katolik ini dengan mengacu pada Filipi 2:1-4, dan bacaan Injil Lukas 14:12-14.

Di akhir Renungan Harian Katolik ini disediakan pula teks lengkap bacaan Senin 31 Oktober 2022 beserta mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil.

 

Sebagai orang beriman kita hidup mesti dengan rendah hati dan menganggap orang lain lebih utama daripada diri kita sendiri.

Hal ini ditekankan dengan maksud agar kita tidak tampil sebagai pribadi yang angkuh dan karena itu menganggap rendah orang lain dan meremehkan sesama.

Hidup kita orang beriman harus menampakkan kasih dan penghiburan, adanya persekutuan dengan satu Roh dan sukacita dalam satu iman dan satu pengharapan.

Karena oleh kasih Allah itu kita orang beriman dipanggil untuk saling mendahului sesama.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 30 Oktober 2022, Allah Mengasihani Kita

Di sini jelas bahwa kita harus dengan tekun berusaha untuk belajar bagaimana menjadi orang yang rendah hati dan kian tulus berkorban.

Karena sebagaimana kita ketahui bahwa kasih yang bersumber dari Allah sendiri itu tidak mencari hormat atas diri sendiri tapi memberi diri, membagi-bagi kebaikan dan berkorban sejati.

Hakikat kasih kita adalah berpihak pada orang miskin, kecil dan lemah. Berjalan bersama dengan kelompok korban dan kaum penderita.

Yesus dalam Injil-Nya menegaskan bahwa jika kita hendak mengadakan perjamuan hendaklah yang diundang itu bukan orang-orang kaya, berpunya dan menempati status sosial terhormat dalam masyarakat.  Tapi orang-orang miskin, cacat, lumpuh dan buta.

Di sini bukan pesan diskriminatif. Dan bukan berarti orang kaya tidak mempunyai tempat dalam hati kita.

Tapi kita boleh mengundang siapapun dengan tidak mempertimbangkan pertama-tama soal untung-rugi.

Tapi soal kasih kemanusiaan dan soal bagaimana kita mau menjadi sesama bagi yang lain.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved