Pesparani Nasional 2022
Pesparani Nasional 2022, Kardinal Berdoa Khusus Bagi Korban KM Express Cantika 77
kepada seluruh peserta kontingen dan umat mengikuti jalannya perayaan Ekaristi untuk hening dan berdoa bagi korban KM Express Cantika 77.
Penulis: Ray Rebon | Editor: Edi Hayong
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejani atau Pesparani Nasional 2022 mulai digelar yang diawali dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo di Stadion Oepoi Kupang, Jumat 28 Oktober 2022
Dalam perayaan ekaristi Pesparani Nasional II itu, Kardinal memberikan ruang kepada seluruh peserta kontingen dan umat mengikuti jalannya perayaan Ekaristi untuk hening dan berdoa bagi korban KM Express Cantika 77.
Dalam kotbahnya Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo menyampaikan sebagai umat Katolik, harus bersyukur atas iman dan kasih yang mempersatukan di dalam kegiatan Pesparani Nasional II di Kupang, NTT.
"Sebagai umat Katolik, kita ingin merayakan kebersamaan kita sebagai murid-murid Yesus Kristus bersyukur atas iman dan kasih yang mempersatukan umat-Nya dari Sabang sampai Merauke, dari miangas sampai pulau Rote," ungkap Kardinal Ignatius
"Sebagai warga bangsa, kita ingin bersyukur karena sepanjang sejarah Allah telah menumbuhkan kesadaran kita sebagai bangsa, mempersatukan kita dalam satu Nusa, satu bangsa, satu bahasa dan memberikan Pancasila sebagai landasan yang paling dasar hidup kita sebagai bangsa," katanya lagi.
Untuk membangun persaudaraan yang sejati, dibutuhkan Martir. Ketika Yesus menjalani kemartiran murid-murid yang tercerai berai bersatu kembali.
Menjadi martir tidak harus menumpahkan darah. Menjadi martir kata Kardinal berarti rela membagi kehidupan.
Contohnya Pesparani kedua ini tidak akan terlaksana kalau tidak ada LP3KN, LP3KD, kalau tidak ada panitia pusat dan daerah. Kalau tidak ada peserta yang rela berkorban, para pendukung lain yang juga memungkinkan Pesparani ini berlangsung, pengorbanan ini yang disebut kemartiran.
Demikian juga gereja tidak akan tetap bersatu kalau tidak ada pribadi-pribadi yang memberikan diri untuk merawat dan mengembangkan kesatuan.
"Begitu juga kesatuan kita sebagai bangsa yang diikrarkan dalam sumpah pemuda, tidak akan lestari kalau kita tidak rela ikut mengambil tanggung jawab sejarah untuk merawat, mencari jalan-jaln baru untuk mengembangkan persaudaraan dan kesatuan itu," tambahnya
"Semoga Pesparani kedua ini menjadi pendorong bagi kita semua untuk membangkitkan bakti kita untuk Tuhan dan tanah air," pungkasnya.(*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS