Rabu, 13 Mei 2026

Wawancara Eksklusif

Kuasa Hukum Bharada E Deolipa Yumara : Pakai Pendekatan Psikologis dan Rohani (Bagian-2)

Kuasa Hukum Bharada E Deolipa Yumara mengatakan tidak mudah menggali informasi dari kliennya yang dalam kondisi mental tertekan.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
TRIBUNNEWS.COM
WAWANCARA - Wakil Direktur Tribun Network Domuara Ambarita (kanan) mewawancarai Kuasa Hukum Bharada E, Deolipa Yumara, Selasa 9 Agustus 2022. 

Kemudian kita membuat kuasa dari Bharade E. Ini adalah surat kuasanya (sambil menunjukkan, red) dari Richard Eliezer Pudihang Lumiu kepada kami.

Semuanya sudah tertera nama lengkap, tanggal lahir di Manado 14 mei 1998 agama kristen protestan, pekerjaan polri, dan alamat di asrama Brimob Cikeas, Udik, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Bharada E kan gajinya kecil nggak mungkin dia bayar pengacara, bagaimana Bang Olif menjawab asumsi ini?

Iyalah nggak mungkin kita minta bayaran dari Bharada E kan. Tentunya kita ini ada yang namanya pekerjaan bela negara. Caranya bagaimana, tentunya kita sebagai seorang pengacara melakukan dengan cara memberikan perlindungan hukum kepada warga negara yang membutuhkan.

Itulah yang menjadi dasar landasan kita yang kemudian menerima permintaan dari penyidik dan Bareskrim untuk mendampingi Bharada E.

Bharada E ini kan dituntut tiga pasal berat, pendekatan apa yang dilakukan supaya bisa mendapat kepercayaan?

Kita temui dia di ruangan khusus memang kondisinya saat itu masih pucat, galau, lemas. Bahkan dia cerita khawatir setiap menjawab pertanyaan dari penyidik.

Dia bilang ke saya bang kalau saya jawab begini bagaimana, kalau jawab anu hukuman saya bagaimana. Saya lantas bilang kok Anda bisa beda-beda kasihan jawaban, dan dia bilang lagi masih mikir-mikir kalau melakukan bagaimana hukumannya.

Lalu saya bilang Anda agamanya apa, eh ngana dari Manado. Saya gali dia pakai bahasa Manado karena saya lama tinggal di Bitung. Oke dari situ saya lihat dia makin tenang, kemudian kita mulai wawancara dengan baca doa.

Saya bilang karena saya juga kristen maka saya menjadi pendeta dulu supaya kita tenang dan kita berdoa secara kristiani. Panjang kita berdoa tentunya doa-doa saya juga menyasar kepikiran dia minta tolong sama Tuhan segala macam.

Kami minta agar Bharada E bisa tenang hidupnya, tenang pikirannya, bisa menceritakan semua kronologi apa adanya hanya untuk kemuliaan Tuhan. Lalu saya bilang ok sekarang saya kembali menjadi pengacara Anda.

Jadi Bang Olif masuk menjadi tim kuasa hukum bukan hanya sebagai pengacara tetapi psikolog juga ya?

Iya saya ini kan lulusan Psikologi juga Universiter Indonesia biar begini-gini saya juga. Jelek-jelek begini kita juga lulusan dari UI, sarjana hukum saya juga sama dari UI.

Pas sudah tenang saya melihat dia pikirannya masih kosong juga. Lalu saya coba nyanyikan lagu rohani judulnya Indah Pada Waktunya dan Hidup Ini Adalah Kesempatan. Dua lagu rohani ini yang biasa dinyanyikan buat orang-orang yang mengalami kasus seperti dia.

Dia pun kemudian ikut nyanyi, saya bilang oh selesai sudah aman berarti kalau di sudah nyanyi berarti pikirannya sudah plong begitu kan. (tribun network/reynas abdila)

 

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved