Berita Manggarai Timur Hari Ini
Tak Ada Jembatan, Mobil Dump Truck Macet Mesin di Arus Sungai Wae Musur Matim
warga yang membantu menggotong sepeda motor. Sedangkan untuk kendaraan angkutan umum mobil sama sekali tidak bisa melintas
Penulis: Robert Ropo | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo
POS-KUPANG.COM, BORONG - Sebuah mobil dump truck mengalami macet mesin di tengah sungai Wae Musur di Nanga Lanang, Desa Bea Ngencung, Kecamatan Ranamese, Kabupaten Manggarai Timur, Minggu 10 Juni 2022 siang.
Mobil itu macet mesin, lantaran arus air begitu deras dan dalam sehingga masuk ke mesin kendaraan mobil itu.
Terpantau POS-KUPANG.COM, akibat macetnya mesin, mobil tersebut berusaha ditarik keluar menggunakan sebuah mobil col dibantu di dorong warga. Sekitar 3 jam mobil itu baru bisa ditarik keluar dari dalam sungai tersebut.
Baca juga: Meriahkan HUT Ke-76 Bhayangkara, 70 Pencinta Motor Trail Ikut Adventure di Manggarai Timur
Terlihat di sungai Wae Musur hilir ini tidak ada jembatan. Lebar sungai itu diperkirakan sudah mencapai 100 meter karena terus terjadi abrasi. Arus air di sungai itu terlihat cukup deras karena pada beberapa hari terakhir terus terjadi hujan.
Tidak adanya jembatan penghubung di sungai Wae Musur itu hilir itu mengakibatkan arus transportasi terhambat pada saat musim hujan.
Akibatnya warga tiga desa yakni Desa Bea Ngencung, Lidi, dan Desa Satar Lenda di Kecamatan Ranamese menderita.
Untuk bisa melintas dengan menggunakan sepeda motor warga harus merogo kocek puluhan ribu rupiah untuk menyewah kepada warga yang membantu menggotong sepeda motor. Sedangkan untuk kendaraan angkutan umum mobil sama sekali tidak bisa melintas.
Yance Dorkas salah satu warga Desa Bea Ngencung, ketika ditemui POS-KUPANG.COM, di sungai Wae Musur, mengaku agar sepeda motornya bisa menyeberangi sungai Wae Musur, Ia menyewah warga Rp 50.000 untuk menggotongnya.
"Saya kasih Rp 50 ribu untuk warga yang angkat motor saya seberangi sungai ini. Biasanya bervariasi harga sewa, tapi saya kasih sebesar ini karena saya mau Terima kasih kepada mereka (warga) karena sudah mengangkat motor saya,"ungkap Yance.
Baca juga: TK Negeri Kisol, Manggarai Timur Lepas 30 Siswa-Siswi Lulusan Tahun Pelajaran 2021/2022
Dikatakan Yance, terpaksa Ia harus mengeluarkan uang untuk menyewah warga menggotong sepeda motornya. Jika tidak maka motor tidak bisa melintas sebab arus sungai cukup deras dan sangat dalam, apalagi pada dasar sungai terdapat batu-batu besar.
Lanjut Yance tak ada jembatan penghubung di sungai tersebut, warga di tiga desa tersebut sangat perihatin, sebab arus transportasi terhambat, apalagi saat banjir besar sama sekali lumpuh total. Warga di tiga desa sangat terisolir.
"Kita sudah berulang kali minta bangun jembatan ini, tapi sampai sekarang juga pemerintah belum bangun-bangun tidak tau kapan baru bangun. Kita terus berharap agar Pemerintah tetap memperhatikan jembatan,"ungkap Yance.
Siti Hamidan kepada POS-KUPANG.COM, mengaku takut menyeberangi arus sungai yang deras itu, namun terpaksa karena kebutuhan yang sangat penting.
"Saya dari Kampung Compang Ndejing tapi saya kesini karena kebun ada di sebelah sungai ini. Kalau saya tidak berani menyeberang mau makan apa karena makanan ada di kebun, maka terpaksa saya harus bertaruh nyawa,"ujarnya.
Baca juga: Ambruk Bendungan Wae Laku Hilir, DPRD Desak Pemda Manggarai Timur Segera Lakukan Antisipatif
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/mobil-dump-truck-sedang-macet-mesin-di-tengah-sungai-wae-musur.jpg)