Laut China Selatan

100 Lebih Kapal China Masuk Laut China Selatan secara Ilegal, Pemerintah Filipina Protes

Pihak berwenang melihat kapal-kapal itu di sekitar gugus Karang Whitsun yang berbentuk bumerang pada April 2022

Editor: Eflin Rote
Handout Philippine Coast Guard (PCG)/AFP
Penjaga Pantai Filipina menuduh Penjaga Pantai China mengemudikan salah satu kapal dalam jarak beberapa meter dari kapal patroli Filipina di Laut China Selatan yang disengketakan, melanggar aturan internasional, dan berisiko bertabrakan. Insiden itu terjadi pada 2 Maret di dekat Scarborough Shoal. 

POS-KUPANG.COM - Pemerintah Filipina telah memprotes kehadiran "ilegal" lebih dari 100 kapal China di sekitar karang yang disengketakan di titik nyala Laut China Selatan, dan menggambarkannya sebagai sumber ketidakstabilan regional.

Pihak berwenang melihat kapal-kapal itu di sekitar gugus Karang Whitsun yang berbentuk bumerang pada April 2022 atau setahun setelah insiden "bergerombolan" serupa menyebabkan pertikaian diplomatik.

Namun, Kantor Luar Negeri Filipina baru pada Kamis (9/6/2022) mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan pengaduan resmi dengan kedutaan besar China di Manila atas temuan itu.

Baca juga: Prabowo di Singapura, Ingatkan AS dan China untuk Mendengar Suara ASEAN di Laut China Selatan

Filipina dan China telah lama terkunci dalam perselisihan atas bagian-bagian Laut China Selatan, yang hampir semuanya diklaim China memiliki hak eksklusif.

"Kehadiran kapal penangkap ikan dan maritim China yang tidak sah bukan hanya ilegal, tetapi juga merupakan sumber ketidakstabilan di kawasan itu," kata Kementerian Luar Negeri Filipina.

“Filipina meminta China untuk mematuhi kewajibannya di bawah hukum internasional, berhenti menunjukkan perilaku ilegal dan tidak bertanggung jawab, menghindari meningkatnya ketegangan di laut, dan segera menarik semua kapalnya dari zona maritim Filipina,” tambah Kementerian, dilansir dari AFP.

Baca juga: Laut China Selatan Bakal Terus Memanas, China Luncurkan Kapal Induk Ketiganya

Kementerian tersebut tidak mengungkapkan apakah telah ada tanggapan Pemerintah China atau belum dan apakah kapal-kapal itu masih berada di daerah tersebut atau tidak.

AFP menulis, Kedutaan China di Manila tidak menanggapi permintaan komentar.

Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan, sebanyak 210 kapal China "berkerumun" di sekitar Whitsun sejak 7 Maret tahun lalu, berlama-lama di daerah itu selama berminggu-minggu.

Baca juga: Laut China Selatan Kembali Memanas, Militer China Pantau Pegerakan Kapal Induk AS,PLA Gelar Latihan

China mengatakan, kapal-kapal itu adalah kapal penangkap ikan yang berlindung dari cuaca buruk, tetapi Filipina menolak penjelasan itu, dengan mengatakan tidak ada badai di daerah itu pada saat itu.

Filipina mengatakan telah mengajukan lebih dari 300 protes diplomatik atas tindakan China di perairan yang disengketakan selama enam tahun terakhir.

Bulan lalu, Kementerian Luar Negeri Filipina mengatakan telah memanggil seorang pejabat senior kedutaan China pada 13 April untuk memprotes adanya gangguan terhadap kapal penelitian kelautan Taiwan dengan ilmuwan Filipina di dalamnya oleh kapal penjaga pantai China.

Kementerian itu juga sudah mengajukan protes terpisah pada bulan lalu atas praktik tahunan China yang menyatakan larangan penangkapan ikan di wilayah di luar "hak maritim yang sah".

(*)

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "100 Lebih Kapal China Masuk Laut China Selatan secara Ilegal, Filipina Berang"

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved