Laut China Selatan

Para Menlu G7 Kutuk Keras Uji Coba Rudal Balistik Antarbenua Oleh Korea Utara 25 Mei 2022

Para menteri luar negeri itu terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat, dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa.

Editor: Agustinus Sape
AA.COM.TR
Peluncuran rudal balistik antarbenua terjadi hanya satu hari setelah Presiden AS Joe Biden mengakhiri kunjungan Asia, Rabu 25 Mei 2022. 

Para Menlu G7 Kutuk Keras Uji Coba Rudal Balistik Antarbenua Oleh Korea Utara 25 Mei 2022

POS-KUPANG.COM - Para menteri luar negeri dari negara-negara G7 mengutuk dengan keras uji coba Rudal Balistik Antarbenua lainnya pada tanggal 25 Mei 2022 oleh Korea Utara.

Hal itu disampaikan oleh para menteri luar negeri negara-negara G7 melalui siaran pers, Senin 30 Mei 2022, sebagaimana dipublikasi laman gov.uk.

Para menteri luar negeri itu terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat, dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa.

Seperti sejumlah peluncuran rudal balistik yang telah dilakukan DPRK sejak awal 2022, tindakan ini dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan lebih lanjut terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan dan merusak perdamaian dan keamanan internasional serta rezim non-proliferasi global.

"Kami sangat prihatin dengan serangkaian uji coba rudal balistik yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan sistem yang semakin serbaguna di semua rentang, berdasarkan uji coba rudal balistik yang dilakukan pada tahun 2021. Bersama dengan bukti kegiatan nuklir yang sedang berlangsung, tindakan ini menggarisbawahi tekad DPRK untuk memajukan dan mendiversifikasi kemampuan nuklirnya," demikian para menlu.

"Tindakan sembrono ini secara mencolok melanggar kewajiban DPRK berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan, yang baru-baru ini ditegaskan kembali oleh Dewan Keamanan dalam resolusi 2397 (2017).

Baca juga: Rudal Meluncur di Laut China Selatan, Boeing 777 Cathay Pacific Diperintahkan Segera Belok Kiri

Mereka juga menimbulkan bahaya dan risiko yang tidak terduga bagi penerbangan sipil internasional dan navigasi maritim di wilayah tersebut."

Para Menteri Luar Negeri G7 dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa ini mengulangi seruan mendesak pada DPRK untuk meninggalkan senjata pemusnah massal dan program rudal balistiknya secara lengkap, dapat diverifikasi, dan tidak dapat diubah dan untuk sepenuhnya mematuhi semua kewajiban hukum yang timbul dari resolusi Dewan Keamanan terkait.

Para menlu pun sangat menyesalkan bahwa Dewan Keamanan PBB telah gagal untuk mengadopsi rancangan resolusi yang ditujukan untuk mengutuk serangkaian peluncuran rudal balistik baru-baru ini oleh DPRK dan memperkuat tindakan terhadapnya meskipun ada dukungan dari 13 anggota.

"Kami mendesak semua Negara Anggota PBB, terutama anggota Dewan Keamanan, untuk bergabung dengan kami mengutuk perilaku DPRK dan menegaskan kembali kewajibannya untuk meninggalkan senjata pemusnah massal dan program rudal balistiknya." '

Menurut para menlu, tindakan-tindakan ini menuntut tanggapan terpadu oleh masyarakat internasional, termasuk sikap bersatu dan langkah-langkah signifikan lebih lanjut oleh Dewan Keamanan PBB.

"Kami mengulangi seruan kami pada DPRK untuk terlibat dalam diplomasi menuju denuklirisasi dan menerima tawaran dialog berulang yang diajukan oleh Amerika Serikat, Republik Korea dan Jepang.

Dengan mengalihkan sumber dayanya ke program senjata pemusnah massal dan rudal balistik, demikian para menlu, DPRK semakin memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah mengerikan di DPRK.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved