Minggu, 12 April 2026

Berita Viral

Mahasiswi Ini Rela Jual Ginjal Demi Bangun Jembatan di Kampungnya

Foto aksinya yang memegang poster bertuliskan "Saya mau jual ginjal aja untuk pembangunan jembatan Goyo" viral di media sosial.

Editor: Alfons Nedabang
FACEBOOK ALIN PANGALIMA
Alin Pangalima saat beraksi. 

POS-KUPANG.COM - Mahasiswi di Sulawesi Utara (Sulut), Alin Pangalima rela menjual ginjalnya untuk membiayai pembangunan jembatan Goyo di kampung halamannya, Desa Keimanga, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).

Foto aksinya yang memegang poster bertuliskan "Saya mau jual ginjal aja untuk pembangunan jembatan Goyo" viral di media sosial.

Alin konsisten menyuarakan ketidakadilan pembangunan yang terjadi di daerahnya. Dia mengaku, apa yang dilakukannya itu sebagai sindirian karena selama kurang lebih 16 tahun jembatan tersebut tidak mendapat perhatian pemerintah.

Dilansir dari Kompas.com, mahasiswi semester VIII pada IAIN Sultan Amai Gorontalo itu mengatakan, aspirasi soal jembatan tersebut sudah berulang kali disampaikan kepada pemerintah daerah setempat. Namun keluhan itu tidak ditindaklanjuti hingga kini.

"Itu (tulisan dalam poster) sebagai sindiran (kepada pemda). Sudah sampaikan berulang-ulang (masalah jembatan Goyo), tapi mereka tidak dengar," katanya lewat pesan singkat, Sabtu 14 Mei 2022.

Alin Pangalima berniat menjual ginjal untuk biaya pembangunan jembatan.
Alin Pangalima berniat menjual ginjal untuk biaya pembangunan jembatan. (FACEBOOK ALIN PANGALIMA)

Menurutnya, sering kali pemda beralasan tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membangun jembatan. Meski begitu Alin tak patah semangat. Ia terus berjuang agar jembatan Goyo bisa diperhatikan oleh pemerintah. Setiap ada aksi demo, Alin selalu membawa dan menyampaikan aspirasi terkait pembangunan jembatan Goyo.

Dia juga sudah menyampaikan kepada anggota DPRD setempat. Bahkan, persoalan tersebut ia sampaikan kepada anggota DPR RI dalam salah satu acara.

"Sempat menghadap (anggota DPRD) kemarin, bincang-bincang. Tapi jawabannya sama, tidak cukup dana daerah. Aspirasi ini sudah disampaikan ke anggota DPR, tapi dapil Gorontalo," sebutnya.

Alin pun menjelaskan alasan pentingnya membangun jembatan Goyo. Salah satunya adalah untuk memudahkan akses masyarakat. 

"Pertama, ketika terjadi banjir dan sungai meluap, maka akses penghubung antara Ollot dan Goyo akan se-ekstrem ini. Bayangkan jika ada orang yang lagi kena sial terus masuk ke dalam sungai lalu tengelam dan meninggal, siapa yang bertanggung jawab?," katanya.

Baca juga: Gelar KKN Pertama, Mahasiswa/i STIH Cendana Wangi Hasilkan Lima Perdes Di Desa Subun

Kedua, masyarakat harus mengeluarkan biaya untuk menyeberangi sungai menggunakan rakit. Saat sungai normal, biayanya Rp 3.000 sekali lewat. Bayangkan masyarakat berapa kali lewat dalam sebulan di tempat ini.

Apalagi masyarakat Bolangitang dan sekitarnya ada juga yang berkebun di seberang sungai. Maka dari itu bisa dipastikan biaya yang dikeluarkan Rp 6.000 per hari jika rutin ke kebun.

Menurutnya jika dijumlahkan dalam sebulan maka biaya tersebut cukup untuk membeli beras. "Belum lagi jika sungai sedang banjir dan air meluap bagaikan janji pemda. Biayanya jadi berlipat ganda, Rp 10.000 sekali lewat, dengan risiko yang cukup tinggi. Bayangkan jika datang musim penghujan, berapa biaya yang harus dikeluarkan. Sedangkan penghasilan masyarakat rata-rata memprihatinkan (soalnya kita rasa sandiri)," ujarnya.

Alin menyebut mengingat tiang jembatan sebenarnya sudah tertanam selama kurang lebih 16 tahun. Bahkan sebelum Bolmut menjadi daerah otonom baru di Sulut.

"Sangat disayangkan jika pemerintah terus mempertontonkan kegagalan di tengah masyarakat, dengan dalih 'nanti, nanti, nanti'" ungkap Alin.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved